Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi-puisi Ilham Rabbani

Admin by Admin
15 Juli 2022
0
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

JANUARI,
KESEKIAN KALI

: semisal Svetlana Dayani

 

1.

Januari,

langit
keruh;

seekor
kambing

gagal
bersalin.

 

“Orang-orang
pergi

dan
di sini

kampung
mati.”

 

2.

Kau

meneropong
malam

masa
silam.

 

Rasi
menyala

seperti

ujung-ujung
peniti.

 

Tangan
negara

bergerak
dari sela

angka-angka
merah

kalender
kumal.

 

Kau

menyaksikan

orang-orang
berlibur

(seharian
tidur),

sementara

wajahmu

mesti
membesuk

kecemasan
panjang—

dalam
raut Ibu

dan
gemetar

jari
Bibi—

pada
pos-pos

pencatatan.

 

Tak
ada

namamu
pada data:

penerima
santunan;

beasiswa;
hak-hak bekerja;

atau
serupanya—Kau

hanya
tahu

Ibu
dan Bibi, semula

adanya
begini.

 

3.

Akhirnya

Kau
pun menulis

namamu
sendiri

di
lembar-lembar

yang
diulur penjaga—

padahal
negara

sebenarnya
telah lupa:

siapa
nama,

di
mana rimba

dari
jasad Ayah

(dan
nasib

baikmu).

 

Yogya,
Maret-April 2022





 

MUNGKIN
JANUARI, KALI KESEKIAN

: dari Chairil dan Aguk Irawan

 

1.

Ini
kali

tak
ada

yang
mencari

mati.

 

Setelah
jembatan

Kau
lewati

trembesi:

pohon

paling

sepi
ini.

 

Kata
orang:

Ibumu
Gerwani.

Bagimu:

Ibu

sesatu
puisi.

 

2.

Ini
kali

tak
ada

(lagi)

sapi-sapi
mandi.

 

Pada
Januari—

mungkin

memang
Januari—

suara-suara

masih
bersisa

setelah
luruh

bulan
kesepuluh:

Kau
melihat

kilat

pada

kejap
Ibu—

sungai
seperti

berhulu

pada

sepasang
matanya.

 

Di
sanalah

hujan:

pada
silam;

senyap
penculikan;

dan
pertemuan

dengan
daging

sembelihan.

 

3.

Kata
Ibu: Ia

tak
lagi

menunggu

Ayahmu.

 

Pada
kali: Ia

mencari
cinta

di
tempat tapak

terakhir
Ayah

terdengar

goyah.

 

4.

Ini
kali,

pada
pagi: Ayah

hanya

tinggal
lengan—

Ibu
tandai

dari
cincin

pernikahan.

 

Yogya,
April 2022





 

SENYAP,
RAMLI, SENYAP

: J. Oppenheimer

 

1.

Di
sini

senyap,
Ramli—

senyap.

 

Mimpi

dan
mati

terbentang

sepanjang
mata

memandang.

 

Seorang
Ibu

sedekat

uratmu—

tetapi
Kau

tinggal
tulang,

dan

hilang.

 

2.

Kau
pun

sedekat

ubanku

pada
tulat—

mungkin

di
situlah

tamat.

 

Kau

menghilang

seperti
gigi

tanggal

dalam
mimpi.

 

Tanggal-

tanggal

hanyut

dalam
arus—

dan
merah

pada
sungai

lama
tiada—

tak
pernah

ada

mimpi-mimpi

mampat

tiba

di
sini.

 

3.

Di
sini

senyap,
Ramli—

hanya

senyap.

 

Seorang
Ibu

cuma

satu
tungku—

Kau
abu:

kayu-kayu

yang
dulu

(mungkin)

kuperam

sendiri.

 

Yogya,
April 2022





 

MENGINGAT
MARET

 

1.

Kau

membayangkan:

adegan-adegan

menyedihkan

dari
The Walking Dead

terhampar

pada
mimpi

dan

tiap
tempat

tatap
mendarat.

 

Maret

yang
marut.

 

Di
luar,

Kita

toh
menemukan orang-

orang
berjalan

bagai
keledai—

sementara:

“Ketakutanmu

adalah
harimaumu!”

 

2.

Kuku-kukumu

menggaruk
badan

rak-rak
barang

dan

etalase

obat-obatan.

 

Sungguh,

Aku

tak
mengenalimu

hari-hari
itu.

 

Kau
ketakutan

tiap
kali

angka
dalam jam

melangkahi

angka
enam—

Kau

mengenali
waktu

sebagai

suhu.

 

 

3.

Kau

menjadi
sangsi

pada

sesiapa
saja—

Kau

memercayai

bahwa
esok

hari-hari

(pasti)

tak
ada

lagi.

 

Yogya,
April 2022





 

YOGYA,
HARI-HARI SETELAH MARET

 

1.

Akhirnya,

Kau
pun

melihat

seluruhnya

telah
berubah: langit

lebih
biru,

kupu-kupu

bergerak
(terbang-hinggap

hanya
sekali)

dalam
ruang

sepi
kita.

 

Hari-hari—

seperti
lembar

demi
lembar

buku
puisi

melankoli—

mesti
dibaca

hati-hati

di
antara

bayang
maut

dan
lalu-lalang

ambulans

yang
kelelahan.

 

Kau

mulai
merasa

hari
pun

mencipta
batas—akhir yang

lebih
lekas—

sebab
mata kota

terpejam

pada
jam-jam

yang
(semestinya)

penuh

dengan
riuh: hidup

kita
seperti

berjalan

dalam
mimpi.

 

2.

Kau
ingat

akan
suratan

becak
yang

dikayuh
pelan

dan
para

pejual
koran

di
tepi

jalan
mati.

 

Mereka,

dan
headline

berita
corona

berjumpa

di
ruang tanya

perihal
vaksin

AstraZeneca:

semisal
Kau

dihinggapi
nasib

saku
yang

mengerut—

bagai
lambung

di
tanggal penghujung—

maka
bagaimanakah

pertolongan
pertama

pada
kelaparan

kita

bersama?

 

3.

“Kau

mulai
berandai:

akankah
malaikat

mendarat

di
malam

yang
gelap-pekat

seperti

wahyu
pertama: puisi

yang
turun

di
lambung

gua?”

 

Yogya,
April 2022





Tentang Penulis


Ilham
Rabbani
, lahir di Lombok
Tengah, 9 September 1996. Aktif mengelola komunitas sastra Jejak Imaji di
Yogyakarta. Selain pernah mendapatkan penghargaan, tulisan-tulisannya juga
terbit di beberapa bunga rampai dan media massa, baik cetak maupun daring (Basabasi.co, Bacapetra.co, Beritabaru.co,
Kibul.in, Jejakimaji.com, SKSP-Literary.com,
Cerano.id, Omong-omong.com, Haripuisi.com, Lensasastra.id, Koran Sindo,
Merapi, Minggu Pagi, Mata Budaya,
Kreativa, dan lain-lain). Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas
Ahmad Dahlan (UAD), dan Magister Sastra, Universitas Gadjah Mada (UGM). Perihal Sastra & Tangkapan Mata (Jejak
Pustaka, 2021) adalah buku esainya yang telah terbit. Dapat dihubungi via: akun
Instagram @_ilhamrabbani; atau surel ilhamrabbani505@gmail.com.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In