Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi-puisi Abdul Wachid BS

Admin by Admin
28 November 2025
0
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

BALADA LELAKI YANG MENCINTAI SEORANG PUTRI

1
Aku mencintaimu seperti raksasa mencintai fajar:
dengan tubuh yang retak oleh cahaya
dan jiwa yang ingin berlutut namun tak tahu caranya.
Ketika engkau lewat, udara di sekitarku pecah,
dan segala keberanianku tiba-tiba menjadi rapuh.
Engkau adalah jalan setapak
yang membuat setiap langkahku gemetar
seperti rimba pertama yang dilihat Sinta.

2
Ada badai yang ingin mengangkatmu ke lenganku
badai yang memanggil namamu dengan suara yang asing bagiku.
Tetapi ada angin tipis dalam diriku
yang berbisik:
biarkan ia menentukan takdirnya sendiri.
Di antara dua suara itu
dadaku menjadi medan perang:
Rahwana yang ingin memelukmu,
dan lelaki lain dalam diriku
yang belajar mencintaimu tanpa merampasmu.

3
Cintaku padamu bukan cinta yang sopan-sopan saja.
Ia adalah api yang belajar menjadi cahaya.
Kadang aku ingin menarikmu ke dalam dekap
yang sejak lama kubayangkan:
dekap yang tahu bagaimana memeluk
tanpa membuatmu takut kehilangan dunia.
Aku ingin menjadi tangan
yang kau pilih sendiri untuk digenggam
bukan tangan yang meraih sebelum diizinkan.

4
Mereka berkata aku mirip lelaki besar
yang mencintai Sinta terlalu dalam.
Mereka lupa: cinta yang besar
memiliki caranya sendiri untuk sujud.
Engkau menatapku,
dan tatapanmu menembus ototku
lebih tajam dari panah mana pun.
Andai engkau tahu betapa tubuhku bergetar
hanya karena engkau menyebut namaku
dengan suara yang hampir berbisik.

5
Aku ingin mencium udara di sekelilingmu
untuk merasakan wangi yang ditinggalkan langkahmu.
Aku ingin menjadi hujan
yang jatuh di bahumu,
agar aku bisa tiba padamu
tanpa pernah kau tolak.
Namun aku juga ingin menjadi lelaki
yang mampu menahan semua keinginan itu
demi menjaga keteduhanmu.

6
Di antara kita ada dinding halus
yang hanya engkau yang bisa membuka.
Aku berdiri di baliknya
dengan dada penuh bara
dan tangan yang sengaja kubiarkan kosong
agar kau tahu:
aku lelaki yang mampu menguasai dirinya,
bahkan saat tubuhku ingin
mencari bentuk tubuhmu dalam gelap.

7
Kesabaran adalah upacara
yang kau ajarkan kepadaku.
Sejak itu aku belajar
menjadi badai yang duduk bersila,
menjadi api yang memilih menjadi aroma,
bukan kobaran.
Jika engkau adalah Sinta,
izinkan aku menjadi remang
yang membuat malammu tenang
dan membuatmu ingin kembali.

8
Aku tidak ingin mengurungmu
dalam takdir siapa pun.
Aku ingin menjadi lelaki
yang membuatmu merasa cukup aman
untuk membuka seluruh dirimu:
senyummu, takutmu,
bahkan kemerahan yang kau sembunyikan
ketika matamu dan mataku bertemu terlalu lama.
Jika itu bukan cinta,
maka tidak ada cinta yang lebih jujur darinya.

9
Dan apabila suatu hari engkau menoleh
dan menemukan aku masih berdiri
dengan otot yang menahan badai,
dengan napas yang menahanmu agar tak jatuh
ketahuilah: aku tetap di situ
bukan untuk memenangkanmu,
tetapi karena dalam mencintaimu
aku menemukan diriku sendiri
lebih besar dari sejarah mana pun,
dan lebih lembut dari lelaki mana pun
yang pernah kaucintai.

2025

BALADA PUTRI DAN LELAKI YANG MEMUJANYA

1
Ayah, pada malam ketika rembulan tergelincir
kulihat bayangku di tepi sumur tua:
seorang gadis dengan selendang bergetar
seperti daun bidara yang menyimpan rahasia.
Di sanalah awal yang tak berwujud mulai bersuara.

2
Aku datang kepadamu, Ayah,
dengan getar yang belum pernah kucicip:
ada seorang lelaki menghampiri hatiku
dengan tatapan yang menyalakan sebuah rimba
rimba yang tak pernah diajarkan guruku membaca.

3
Ia memujaku, Ayah,
seolah aku satu-satunya bintang
yang tak pernah padam dalam dadanya.
Dari pujaannya itu, aku mengerti
betapa lemahnya seorang perempuan
ketika merasa dilihat, disapa, dihidupkan.

4
Namun aku pun gentar, Ayah.
Di balik kelembutan suaranya
ada angin gurun yang berputar,
ada rahasia yang tak seluruhnya gelap,
tetapi tak seluruhnya terang.
Ia bukan Rama, Ayah
dan barangkali ia mendekat
sebagaimana Rahwana memandang Sinta:
kagum hingga membakar dirinya sendiri.

5
Tetapi bagaimana jika
walau ia Rahwana
pujaannya adalah sumur
yang membuatku kembali merasa menjadi air?
Bagaimana jika
karena aku perempuan
aku begitu ingin didengarkan,
dipandang, diminta, dicintai?

6
Izinkan aku berkata jujur, Ayah:
bukan cinta yang kupilih,
melainkan getar yang membuatku
tak lagi mengenali langkahku sendiri.
Akulah putri yang masih belajar
membedakan cahaya dari nyala,
harum dari racun,
pelukan dari jerat.

7
Maka aku pulang padamu malam ini
karena hanya kepada ayahnya
seorang putri berani mengaku:
ia sedang berada di antara dua takdir,
di antara rembulan yang menuntun
dan bayang-bayang yang memanggil.

8
Jika lelaki itu benar cinta,
Engkau akan melihat nyalanya menentramkan, Ayah.
Jika ia hanya nyala yang membakar,
Engkau akan menjadi suara pertama
yang kuterima sebagai kebenaran.

9
Malam ini, aku berserah:
di hadapanmu, Ayah,
aku belajar bahwa cinta
bukanlah tentang siapa yang memuja,
tetapi kepada siapa seluruh jiwaku
dapat bersandar dan kembali terang.

2025

BALADA AYAH YANG MENDENGAR PENGAKUAN PUTRINYA

1
Putriku, pada malam ketika engkau kembali
dengan wajah yang diselimuti rembulan retak,
aku tahu: ada langkah yang gemetar
seperti dedaunan yang baru saja kehilangan angin.
Di pintuku, aku mendengar suara masa kecilmu
yang dulu selalu mencari pangkuan ketika takut.

2
Engkau duduk di hadapanku,
membawa kisah yang tak pernah diajarkan
oleh kitab-kitab yang kutanamkan di hatimu.
Ada lelaki, katamu, yang menyalakan rimba.
Aku melihat rimba itu dari sorot matamu
ada cahaya yang belum mengenal asalnya.

3
Putriku, aku lelaki tua
yang menyimpan banyak serpihan kisah manusia.
Dari cara engkau menyebut namanya
aku tahu: ia telah memasuki ruang
yang bahkan doa-doaku tak mampu menjaga sepenuhnya.
Begitulah perempuan,
mereka hidup dari cara dunia memandangnya.

4
Namun aku juga mencium angin gurun
yang engkau sebutkan dengan gelisah.
Setiap lelaki membawa rahasianya,
dan tak semua rahasia adalah gelap
tetapi tak semuanya adalah cahaya.
Rama dan Rahwana,
dua bayangan yang selalu mengejar perempuan
yang belum mengerti dari mana nyala bermula.

5
Putriku, air memang selalu kembali ke sumurnya,
bahkan ketika batu-batu di sekelilingnya
tampak menyimpan api yang tak jinak.
Tetapi air pula yang paling mudah
menyimpan luka dari batu yang ia peluk terlalu lama.
Engkau ingin didengarkan, dipandang, dicintai—
itu naluri perempuan sejak Hawa memandang langit pertama.

6
Engkau berkata: bukan cinta yang kau pilih,
melainkan getar yang membuat langkahmu asing.
Aku mengenal getar itu:
ia datang seperti angin yang tak membawa arah,
tetapi menuntun manusia ke persimpangan.
Engkau sedang belajar
membedakan aroma bunga dari racun,
sentuhan dari belitan,
bisikan dari perintah takdir.

7
Dan malam ini engkau pulang,
karena hanya seorang putri
yang berani meletakkan hatinya
di tangan ayahnya yang renta.
Engkau berdiri di dua takdir,
di antara cahaya yang memanggil lembut
dan bayang-bayang yang menunggu dari kejauhan.

8
Jika lelaki itu benar cinta,
aku akan melihat matanya
menjadi tempat engkau beristirahat.
Jika ia hanya nyala yang membakar,
akulah dinding pertama
yang akan merobohkan apinya
sebelum menyentuh kakimu.

9
Putriku, malam ini aku menerima pengakuanmu
sebagaimana aku menerima tangisanmu
pada malam-malam kecil yang jauh itu.
Ingatlah: cinta bukanlah tentang siapa yang memujamu,
tetapi siapa yang membuat ruhmu pulang kepada Tuhan
tanpa kehilangan cahaya yang Dia titipkan.
Bersandarlah di bahuku,
hingga engkau kembali menemukan terangmu sendiri.

2025

RIWAYAT PENYAIR

Abdul Wachid B.S. lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Mengajar di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Buku-buku puisinya, antara lain, Biyanglala (Cinta Buku, 2020), Jalan Malam (Basabasi, 2021), Penyair Cinta (Jejak Pustaka, 2022). Buku esainya Sastra Pencerahan (Basabasi, 2019) menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 2021.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In