KOSONG
sudah sembilan belas tahun sejak ia pertama kali bernapas
menjadi bagian dari diorama-diorama yang sangat nyata
beberapa dari mereka melukis
beberapa dari mereka mengukir
beberapa dari mereka bercerita
menjahit sebuah karya
sebuah karya yang masih memiliki sepetak putih
bagai satu bab novel yang masih suci
entahlah,
mungkin itulah bab yang harus “mereka” ceritakan?
2026
KANDAS
budinya hilang ditelan laut
sariranya rusak dihantam ombak
atmanya linglung di tengah kabut
mereka tenggelam menyisa jejak
cengkrama kenari mengudara
Sang fajar menyapa penghuni dunia
Tuhan yang baik mempertemukan mereka
yang berharap hari itu akan berbeda
rakyat kecil meriuh ruak
berbondong-bondong mengguncang badai
ke sia-siaan menghantam telak
kegagalan menjemput mereka lagi, lagi dan lagi.
2026
PUKUL TUJUH LEBIH LIMA
dering bel tak kasat mata memanggil mereka di dunia
makhluk-makhluk “sempurna” berhambur keluar dari tempat persembunyiannya
mencetak ratusan tapak sepatu
mengarah ke tempatnya memperoleh kehormatan
untuk mereka yang masih belum mengerti dunia
dering bel menggaung di telinga
memecah ringkik tawa yang bergema
menarik mereka kembali dari entah berantah
mengarahkannya ke jalan setapak
untuk menemui dirinya di masa datang
untuk mereka yang berusaha bangkit
dering bel bak genderang perang yang menendang ke segala arah
menyadarkan mereka akan eksistensinya di dunia
bertudung harapan
bersiap memikul doa
beranjak mencari singgasananya
2026
DI UJUNG LANGIT DI ATAS BINTANG
dirinya hancur dibanting takdir
jutaan lukisan merah menghias jiwanya
wajahnya tersungkur tubuhnya melemah
pita suaranya meraung tak terdengar
teraduk mesra dengan embun di matanya
tulisan penanya teruntuk Tuhan tak kunjung dibalas
utopianya berserakan
tak lama,
Tuhan seakan membisiki telinganya
menyemen hatinya dengan cakap
memberi harap pada jiwanya
tirai di langit ditarik sang surya
membuat kemarin menjadi cerita
ia paham,
semuanya merupakan bagian narasi Tuhan
berharap
luka perang yang ia peroleh dapat diukir berbentuk kisah
ketika sampai di ujung langit,
di atas bintang
2026
KAMU YANG BISU
bisu tapi tak semu
tuturmu lembut meraba kalbu
mistisnya hangat menembus waktu
kulitmu kasar tapi tak kelabu
asam garammu mengajarkanku
amanat baikmu menyadarkanku
ingin rasanya kudekap dirimu
temani aku di malam tergelapku
napasmu panjang tak sepertiku
tapi tak pernah dirimu merendahkanku
ke manapun topan membawamu
alkisahmu akan selalu tertidur nyenyak dalam diriku
2026
KANZ MAKHFIY HERUDIAN, lahir di Banyumas, 1 Desember 2006. Aktivitasnya sehari-hari sebagai volunteer di komunitas sastra Rumah Kreatif Wadas Kelir. Ketertarikannya pada sastra dimulai sejak TK membuatnya telah menerbitkan beberapa karya di usianya yang masih muda. Hobinya membaca buku dan menulis beberapa karya sastra di sela-sela kesibukannya.

