Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Esai

Mati dan Tumbuhnya Sastrawan Muda

Admin by Admin
20 Januari 2026
0
Mati dan Tumbuhnya Sastrawan Muda
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

(Bagus Sulistio)

Masyarakat sering menyayangkan ketika ada seseorang mati di usia muda. Tapi umur berapa seseorang dianggap muda? Lalu apa hubungan kalimat pertama dengan judul? 

Negara menetapkan bahwa seseorang dikategorikan sebagai pemuda apabila berada dalam rentang usia 16 hingga 30 tahun. Penetapan ini memberi batas administratif sekaligus simbolik. Penetapan tersebut juga menegaskan tentang siapa yang dianggap masih berada di fase pertumbuhan, penuh potensi, dan harapan.

Dalam konteks sastra,”mati” tidak selalu berarti kematian biologis atau hilangnya ruh. Kematian sastrawan lebih sering bersifat simbolik. Seorang sastrawan muda dapat dikatakan “mati” sebelum benar-benar tumbuh. Sastrawan “mati” ketika kehilangan akses terhadap medan sastra, tidak memperoleh pengakuan, atau terhenti dalam proses memproduksi karya.

Pada buku The Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature, Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa medan sastra adalah ruang kompetisi yang keras dan tidak seimbang. Mau tidak mau sastrawan muda akan memasuki ruang itu. Di sisi lain, mereka memiliki banyak kerentanan. Mereka belum memiliki reputasi, jaringan, atau legitimasi dari sebuah institusi. Mereka hanya bertahan di sastra bermodal karya yang terus dibuat. Namun, ketika karya mereka tidak memperoleh ruang publikasi, tidak dibaca, atau tidak diakui, maka secara sosial sastrawan tersebut mengalami “kematian” meskipun secara biologis masih berada pada usia produktif.

Di sisi lain, medan sastra yang terlihat ekslusif membuat seseorang yang belum terjun ke dunia tersebut tertarik dalam fatamorgana kemewahan sastra. Maka muncullah sastrawan muda yang penuh harapan. Sastrawan muda sering kali diawali oleh ilusi dan keberanian semata. Banyak sastrawan muda masuk ke dunia sastra dengan keyakinan bahwa kualitas karya akan berbicara dengan sendirinya. Mereka menulis dengan gairah, mengikuti lomba, mengirimkan naskah ke media, bahkam mempublikasikan karya secara mandiri melalui media sosial atau lainnya. Pada tahap ini, proses kepenulisan masih digerakkan oleh semangat idealisme dan kebutuhan ekspresi diri, bukan oleh kalkulasi posisi dalam medan sastra.

Seiring waktu berjalan, penulis muda mulai berhadapan dengan realitas struktural medan sastra. Tidak semua karya memperoleh ruang, tidak semua tulisan dibaca, dan tidak semua upaya mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam situasi ini, sastrawan muda dihadapkan pada pilihan-pilihan krusial: bertahan dengan lelah dan ketidakjelasan atau perlahan meninggalkan dunia sastra. 

Sebagian sastrawan muda terkadang mampu bertahan karena membangun jejaring, bergabung dengan komunitas, atau mendapatkan legitimasi dari institusi sastra, media, maupun akademisi. Legitimasi tersebut berfungsi sebagai modal simbolik yang memperpanjang usia sosial kepenulisan mereka. Sastrawan muda yang berhasil memperoleh modal ini tidak hanya tumbuh secara personal, tetapi juga ikut membentuk dinamika medan sastra itu sendiri. Mereka membawa tema baru, gaya ungkap baru, dan cara baru dalam mendistribusikan karya sehingga ia tetap eksis dalam dunia sastra. 

Kembali lagi, ada pula sastrawan muda yang “mati” secara perlahan. Kematian ini tidak selalu disertai kehilangan total dalam memproduksi karya, melainkan hadir dalam bentuk kelelahan, kekecewaan, dan keterputusan relasi dengan dunia sastra. Karya tetap ditulis, tetapi tidak lagi dipublikasikan atau mendapat ruang publikasi. Dalam perspektif Bourdieu, kondisi ini menunjukkan bagaimana medan sastra tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menyaring dan menyingkirkan pemain yang tidak mampu mempertahankan posisinya. 

Dengan demikian, mati dan tumbuhnya sastrawan muda menandakan bahwa sastra hidup melalui regenerasi, kompetisi, dan kolaborasi terus-menerus. Penulis sastra tidak tumbuh dalam ruang hampa, melainkan dalam medan yang digerakkan oleh kehadiran para pemain yang tegar atau pemain yang kaya legitimasi serta luas relasi. Alhasil dunia sastra itu akan bertahan panjang dengan sendirinya.

Bagus Sulistio, lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Alumni magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Jakarta dan sarjana Pendidikan Bahasa Arab UIN Prof. K.H Saifuddin Zuhri Purwokerto. Karya-karyanya termuat dalam berbagai media massa daring maupun luring. 

Tags: sastrrawanmudatumbuhnya sastrawan
Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In