Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi-puisi Galuh Kresno

Admin by Admin
27 Januari 2026
0
Puisi-puisi Galuh Kresno
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

ANAK-ANAK CAHAYA YANG LUPA GELAP

Di kota-kota yang dibangun dari piksel,

anak-anak menanam benih kata

dalam pot algoritma.

Tumbuhlah puisi yang tak pernah menangis,

cerita yang tak pernah lapar,

dan esai yang tak pernah ragu.

Mereka duduk dalam sunyi

yang bergemerincing seperti logam,

dengan mata secerah notifikasi

dan hati yang lupa bentuknya sendiri.

**

Apakah masih perlu kita menangis,

jika duka bisa dirangkai

dalam lima detik dan sepuluh gaya bahasa?

Dan wajah berganti-ganti mimik,

Hanya dengan topeng jempol.

Apakah masih penting menggali,

jika makna bisa ditambang

dari tambang sintetik

di mana air mata tak diperlukan

dan luka tak wajib hadir?

Dan mata dibiarkan mengering.

**

Malam kini ditulis oleh program.

Mimpi dipatenkan dalam format PDF.

Dan cinta?

Mungkin sudah jadi opsi dalam menu drop-down.

Didownload berkali – kali,

Seperti membagikan imitasi berkali-kali

Melipat jari.

**

Seorang murid tertunduk,

berbicara dengan bayangnya sendiri,

menanyakan arti dari diam—

namun jawabannya sudah lebih dulu

diketik oleh kecerdasan yang tak pernah patah hati.

Di dunia ini,

hanya kesalahan yang masih terasa manusiawi.

Sedangkan kebenaran bergonta-ganti bermain peran.

**

Menulis adalah ritual,

maka kita kini hanya para imam

yang membaca mantra dari skrip,

tak lagi mendengar bisikan dari langit.

Jika berpikir adalah nyala,

maka kita kini hanya lentera

yang dihidupkan

oleh tombol.

**

Tuhan,

jika esok kami lupa cara merasa,

tolong kirimkan badai—

bukan untuk menghancurkan,

tapi agar kami belajar mengungsi

ke dalam diri sendiri.

Membawa pergi semua kenyataan,

Melipat mata, melipat telinga, memangku batin

Dan menggenggam hati

Dalam kantong-kantong diri

Yang lama kami biarkan lapuk,

Aamiin.

Dayeuhluhur, 21 April 2025

 KHOTBAH DI UJUNG JARUM

di kota yang tiap jamnya berdoa,

aku melihat ayat tumbuh di papan reklame—

dibaca dengan mata yang tak pernah tidur,

tapi tak pernah bangun,

jiwanya hidup namun bermimpi

hingga pagi kosong

burung berkicau sendiri

tiada telinga yang menikmati.

orang-orang belajar Tuhan

dari stiker di kaca belakang mobil,

dari status yang diposting jam tiga pagi

dengan nada menjerit

dan huruf kapital.

Yang entah apa arti mengapa dibuat kapital, dibuat tebal?

mereka hafal nama-Nya,

tapi lupa cara-Nya mengampuni.

mereka cepat berdiri saat azan,

tapi lebih cepat menghakimi

jika kau duduk di saf yang berbeda.

**

ada yang mencurigai saudaranya

karena cara ia menyebut salam.

ada yang melipat persaudaraan

karena beda arah jari telunjuk

saat doa ditutup, dan mulut terkatup,

tangan tak tengadah sebab menghormati

melulu harus tengadah.

sebuah sandal yang tertukar di masjid

bisa jadi sebab turunnya murka,

sementara mata yang menolak melihat lapar

disebut bukan urusan.

**

aku mendengar doa

dengan suara gemetar,

tapi bukan karena cinta—

karena takut kalah

dalam lomba menjadi suci.

**

wahai engkau yang mencari surga

dalam ukuran celana,

kau lupa bahwa Tuhan

pernah menulis kasih

di napas seekor anjing

yang memberi minum

pada musafir-Nya.

**

di negeri ini,

kerikil kecil bisa membuat orang terpeleset

ke jurang debat yang tak berujung.

dan dosa bukan lagi perkara niat,

tapi siapa yang lebih dulu menyindir,

dia berhak atas tuduhan kepada si pandir!

**

aku ingin bertanya:

apakah Tuhan butuh kita membelanya

dengan marah?

atau cukup dengan duduk bersama

dan mendengar

apa yang tak diucapkan?

**

di bawah langit yang sama,

kita sujud pada arah yang satu,

tapi langkah kaki kita

selalu berbelok

saat melihat bayangan orang lain.

**

Tuhan,

jika suatu hari

kami lebih sibuk menyusun peraturan

daripada merawat kasih,

turunkanlah hujan yang deras—

bukan untuk menghukum,

tapi untuk membasuh

mata kami yang terlalu silau

oleh kebenaran sendiri.

Dayeuhluhur, April 2025

LANGIT TAK PERNAH MENGKAFIRKAN

seseorang menimbang iman

di atas timbangan digital

di pojok warung kopi

di mana rokok dinyalakan dengan ayat.

tangannya gemetar,

bukan karena dosa—

tapi karena takut

dibilang salah tafsir.

**

seekor kambing tersesat ke halaman masjid.

seorang anak menunjuknya:

“itu najis.”

ibunya membisik:

“asal jangan seperti pamanmu

yang shalatnya rapat tapi mulutnya longgar.”

**

di lorong sempit antara adzan dan iqamah,

ada perang status,

ada sabda yang dikutip separuh,

ada hati yang dirajam

karena salah tanda baca.

sementara itu,

di balik langit yang malu-malu,

Tuhan menulis catatan kecil

tentang cinta

dengan kapur yang mudah dihapus air mata.

**

orang-orang sibuk mencocokkan panjang celana

dengan tinggi surga,

menentukan level iman

berdasarkan warna jilbab

dan huruf arab di belakang nama.

dan ketika ada yang berkata:

“Aku ragu,”

mereka melempar batu

bernama ‘kafir’

dengan kemasan digital

dan emoji api.

**

aku bertemu Nabi di terminal—

ia sedang menuntun sepeda

dan membagikan roti

kepada pemulung

yang baru saja diusir dari pengajian.

Nabi tak bicara panjang,

tapi aku mengerti:

kadang orang sibuk mencuci kaki

hingga lupa membasuh hati.

**

di negeri ini,

hal-hal kecil tumbuh jadi monster,

dan cinta mengecil jadi syarat.

aku bertanya pada bayanganku:

siapa yang akan kita selamatkan

jika semua orang sibuk mengadili

dari balik kata ‘ikhwan’, ‘akhwat’,

‘bidaah’, ‘masyhur’, ‘dhaif’,

dan ‘like and subscribe’?

**

Tuhan,

jika kami terlalu banyak menghafal-Mu

tapi lupa merasakan-Mu,

tiupkan satu huruf

yang bisa merontokkan

ego dari kitab-kitab kami.

YANG TUMBUH DARI BUNYI YANG TIDAK DIUCAPKAN

1.

Di halaman belakang,

seorang perempuan menyiram batu bata

dengan air dari ingatannya yang pecah.

Ia bilang, bunga tak butuh tanah.

Yang mereka butuh adalah sabar yang tak ditanya-tanya.

Bunganya tidak tumbuh.

Tapi ia terus menyiram.

Mungkin karena kehilangan pun perlu disiram.

2.

Seseorang menggantungkan cahaya

di langit-langit lidahnya.

Ia berkata—

“Aku tahu arah.”

Tapi arah selalu bergetar

di dalam saku orang-orang yang haus disebut benar.

Dan di bawahnya,

jalan-jalan berbisik:

“Semua petunjuk hanyalah cermin.”

3.

Seekor burung berwarna abu-abu

hinggap di kepala seorang lelaki

yang sedang menjelaskan kebenaran

dengan jarinya.

Burung itu tidak berkicau,

hanya menatap jauh

ke dalam genteng yang retak.

Lelaki itu terus bicara.

Burung itu tetap diam.

Entah siapa yang sebenarnya mendengar siapa.

4.

Di sebuah ruangan

penuh buku dan penghapus,

orang-orang menggambar garis lurus

dengan penggaris tak kasat mata.

Mereka saling membandingkan garis,

tanpa sadar

semua tinta mereka berasal dari sumur yang sama—

sumur yang kini tak punya tali timba.

5.

Anak-anak kecil bermain di lapangan retak.

Mereka saling melempar kata yang dilapisi makna.

“Maaf.”

“Kenapa?”

“Kalau aku salah, tolong koreksi.”

Tapi setiap kata jatuh

seperti daun yang sudah disemprot pestisida.

Berwarna indah.

Tapi tak punya aroma.

6.

Malam datang bukan dengan gelap,

tapi dengan bisikan orang-orang

yang ingin benar tanpa menjadi lembut.

Angin mengangkat mereka

ke langit-langit wacana,

lalu menjatuhkan perlahan

ke dalam cangkir-cangkir

yang sudah tak ada tehnya.

7.

Di dalam tubuhmu,

ada kamar kosong

yang sudah lama dikunci oleh suara-suara luar.

Kunci itu masih ada.

Tapi bentuknya berubah menjadi air.

Kalau kau sabar,

air itu bisa kau minum perlahan.

Dan kamar itu akan membuka sendiri.

Dayeuhluhur, 6 Maret 2025

TANDA YANG TAK SEMPAT DIBACA

I.

Langit melipat dirinya sendiri pagi itu.

Tak ada awan. Hanya ruang kosong,

seperti halaman kosong dalam kitab yang terlalu sering dibuka,

terlalu jarang direnungi.

II.

Seorang pria membungkus kesunyian dengan keresek

dan menaruhnya di depan pintu tetangga.

Ia bilang: “Kuberi kamu hadiah, jangan buka terlalu cepat.”

Tapi suara-suara di dalamnya sudah berteriak

sebelum matahari turun.

III.

Dinding di ruang tamu berdebat dengan jam dinding;

Soal waktu.

Soal siapa yang lebih cepat menyalahkan.

Sementara cermin di dekat pintu hanya tertawa pelan,

karena ia tahu:

yang salah bukan waktu,

tapi cara menatapnya.

IV.

Seekor cicak jatuh dari langit-langit masjid.

Tak ada yang memperhatikannya—

semua mata tertuju pada sepatu yang salah tempat.

Seseorang berkata: “Ini tanda.”

Tapi tak tahu tanda apa.

V.

Seorang anak kecil menulis doa dengan spidol merah

di balik kursi kelas.

Guru tidak melihat.

Tapi lantai mengingat huruf-huruf itu

seperti tanah mengingat jejak

yang tak pernah pulang.

VI.

Ada kata yang tercekat di tenggorokan seorang perempuan

yang terlalu sering meminta maaf

atas luka yang bukan miliknya.

Kata itu tumbuh seperti jamur—

tak terlihat, tapi tetap hidup

di antara jeda dan napas yang tak selesai.

VII.

Kadang, kebenaran datang

dalam bentuk kursi kosong

di tengah rapat yang penuh suara.

Tapi tak ada yang duduk.

Semua memilih berdiri,

sambil menunjuk.

VIII.

Seseorang membungkus keheningan

dengan pita emas

dan memberikannya sebagai hadiah ulang tahun.

Penerimanya menangis—

bukan karena tak mengerti,

tapi karena terlalu paham

apa yang tak bisa diucapkan.

IX.

Mereka membangun pagar tinggi

di sekitar taman kecil yang sepi.

Katanya: “Agar tak ada yang sembarangan masuk.”

Padahal sejak awal,

tak ada yang pernah mencoba.

X.

Dan pada akhirnya,

sepotong cahaya tercekat di langit-langit mulutku.

Aku menelannya perlahan,

karena tahu,

kadang yang paling terang pun

bisa membakar

jika disampaikan dengan suara yang salah.

Dayeuhluhur, 25 Februari 2025

DI MANA WAJAH LELUHUR DISEMBUNYIKAN

di tengah sawah yang ditimbun semen,

aku melihat jejak

yang tak lagi diakui sebagai jejak.

ia menari dalam gerak lambat

di antara pilar dan pengeras suara,

dengan pakaian lusuh dari kain tenun

yang kini dijual sebagai hiasan dinding

di kafe bertema “alam tropis.”

**

sebuah nama dicoret dari pohon keluarga,

diganti dengan huruf-huruf yang lebih suci,

lebih rapi, lebih layak untuk disebut

di forum-forum berpendingin udara.

anak-anak kini tak tahu

bahwa nenek moyangnya

berdoa dengan tarian,

dan menyembuhkan luka

dengan air dari mata angin.

**

di pasar malam yang sunyi,

seorang kakek membawa topeng kayu

yang tak laku dijual.

“tak ada yang mau jadi leluhur,” katanya.

“mereka semua ingin jadi pemenang kuis

tentang siapa yang paling benar.”

ia tertawa,

tapi aku melihat serpih tulang

di balik giginya yang ompong.

**

ada lelaki membakar jimat warisan,

katanya: “demi masa depan.”

tapi asapnya naik

dan berubah jadi suara perempuan tua

yang bertanya:

“kalau semua dibakar,

di mana kita akan pulang nanti?”

**

sekarang,

anak-anak menari di atas lantai kaca,

dengan langkah dari tutorial

yang tak kenal tanah.

suara suling tua digantikan dengan notifikasi,

dan roh-roh penjaga hutan

duduk di halte

menunggu bus

yang tak pernah datang.

**

leluhur tak marah.

mereka hanya makin pelan

berbisik di angin,

di air yang disaring,

di nasi yang dibungkus plastik

dan dimakan sambil membuka video

tentang kebenaran abadi

yang diproduksi dalam tiga menit.

**

aku menulis puisi ini

dengan arang yang kutemukan

di balik altar yang dibongkar.

aku tak tahu

untuk siapa.

mungkin untuk bayangan

yang makin jauh

dari wajahnya sendiri.

Dayeuhluhur, 18 Februari 2025

Galuh Kresno, Salah satu pendidik di SMP Negeri 2 Dayeuhluhur. Menulis puisi sejak berkuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Puisinya pernah terbit di beberapa media offline; Radar Banyumas, Harian Fajar Makasar, Rubrik Sastra Rakyat Sultra, Suara Merdeka, dan media online; biem.co, skspliterary.com, https://top.cafe.daum.net/

Tags: #POETRY
Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In