ANAK-ANAK CAHAYA YANG LUPA GELAP
Di kota-kota yang dibangun dari piksel,
anak-anak menanam benih kata
dalam pot algoritma.
Tumbuhlah puisi yang tak pernah menangis,
cerita yang tak pernah lapar,
dan esai yang tak pernah ragu.
Mereka duduk dalam sunyi
yang bergemerincing seperti logam,
dengan mata secerah notifikasi
dan hati yang lupa bentuknya sendiri.
**
Apakah masih perlu kita menangis,
jika duka bisa dirangkai
dalam lima detik dan sepuluh gaya bahasa?
Dan wajah berganti-ganti mimik,
Hanya dengan topeng jempol.
Apakah masih penting menggali,
jika makna bisa ditambang
dari tambang sintetik
di mana air mata tak diperlukan
dan luka tak wajib hadir?
Dan mata dibiarkan mengering.
**
Malam kini ditulis oleh program.
Mimpi dipatenkan dalam format PDF.
Dan cinta?
Mungkin sudah jadi opsi dalam menu drop-down.
Didownload berkali – kali,
Seperti membagikan imitasi berkali-kali
Melipat jari.
**
Seorang murid tertunduk,
berbicara dengan bayangnya sendiri,
menanyakan arti dari diam—
namun jawabannya sudah lebih dulu
diketik oleh kecerdasan yang tak pernah patah hati.
Di dunia ini,
hanya kesalahan yang masih terasa manusiawi.
Sedangkan kebenaran bergonta-ganti bermain peran.
**
Menulis adalah ritual,
maka kita kini hanya para imam
yang membaca mantra dari skrip,
tak lagi mendengar bisikan dari langit.
Jika berpikir adalah nyala,
maka kita kini hanya lentera
yang dihidupkan
oleh tombol.
**
Tuhan,
jika esok kami lupa cara merasa,
tolong kirimkan badai—
bukan untuk menghancurkan,
tapi agar kami belajar mengungsi
ke dalam diri sendiri.
Membawa pergi semua kenyataan,
Melipat mata, melipat telinga, memangku batin
Dan menggenggam hati
Dalam kantong-kantong diri
Yang lama kami biarkan lapuk,
Aamiin.
Dayeuhluhur, 21 April 2025
KHOTBAH DI UJUNG JARUM
di kota yang tiap jamnya berdoa,
aku melihat ayat tumbuh di papan reklame—
dibaca dengan mata yang tak pernah tidur,
tapi tak pernah bangun,
jiwanya hidup namun bermimpi
hingga pagi kosong
burung berkicau sendiri
tiada telinga yang menikmati.
orang-orang belajar Tuhan
dari stiker di kaca belakang mobil,
dari status yang diposting jam tiga pagi
dengan nada menjerit
dan huruf kapital.
Yang entah apa arti mengapa dibuat kapital, dibuat tebal?
mereka hafal nama-Nya,
tapi lupa cara-Nya mengampuni.
mereka cepat berdiri saat azan,
tapi lebih cepat menghakimi
jika kau duduk di saf yang berbeda.
**
ada yang mencurigai saudaranya
karena cara ia menyebut salam.
ada yang melipat persaudaraan
karena beda arah jari telunjuk
saat doa ditutup, dan mulut terkatup,
tangan tak tengadah sebab menghormati
melulu harus tengadah.
sebuah sandal yang tertukar di masjid
bisa jadi sebab turunnya murka,
sementara mata yang menolak melihat lapar
disebut bukan urusan.
**
aku mendengar doa
dengan suara gemetar,
tapi bukan karena cinta—
karena takut kalah
dalam lomba menjadi suci.
**
wahai engkau yang mencari surga
dalam ukuran celana,
kau lupa bahwa Tuhan
pernah menulis kasih
di napas seekor anjing
yang memberi minum
pada musafir-Nya.
**
di negeri ini,
kerikil kecil bisa membuat orang terpeleset
ke jurang debat yang tak berujung.
dan dosa bukan lagi perkara niat,
tapi siapa yang lebih dulu menyindir,
dia berhak atas tuduhan kepada si pandir!
**
aku ingin bertanya:
apakah Tuhan butuh kita membelanya
dengan marah?
atau cukup dengan duduk bersama
dan mendengar
apa yang tak diucapkan?
**
di bawah langit yang sama,
kita sujud pada arah yang satu,
tapi langkah kaki kita
selalu berbelok
saat melihat bayangan orang lain.
**
Tuhan,
jika suatu hari
kami lebih sibuk menyusun peraturan
daripada merawat kasih,
turunkanlah hujan yang deras—
bukan untuk menghukum,
tapi untuk membasuh
mata kami yang terlalu silau
oleh kebenaran sendiri.
Dayeuhluhur, April 2025
LANGIT TAK PERNAH MENGKAFIRKAN
seseorang menimbang iman
di atas timbangan digital
di pojok warung kopi
di mana rokok dinyalakan dengan ayat.
tangannya gemetar,
bukan karena dosa—
tapi karena takut
dibilang salah tafsir.
**
seekor kambing tersesat ke halaman masjid.
seorang anak menunjuknya:
“itu najis.”
ibunya membisik:
“asal jangan seperti pamanmu
yang shalatnya rapat tapi mulutnya longgar.”
**
di lorong sempit antara adzan dan iqamah,
ada perang status,
ada sabda yang dikutip separuh,
ada hati yang dirajam
karena salah tanda baca.
sementara itu,
di balik langit yang malu-malu,
Tuhan menulis catatan kecil
tentang cinta
dengan kapur yang mudah dihapus air mata.
**
orang-orang sibuk mencocokkan panjang celana
dengan tinggi surga,
menentukan level iman
berdasarkan warna jilbab
dan huruf arab di belakang nama.
dan ketika ada yang berkata:
“Aku ragu,”
mereka melempar batu
bernama ‘kafir’
dengan kemasan digital
dan emoji api.
**
aku bertemu Nabi di terminal—
ia sedang menuntun sepeda
dan membagikan roti
kepada pemulung
yang baru saja diusir dari pengajian.
Nabi tak bicara panjang,
tapi aku mengerti:
kadang orang sibuk mencuci kaki
hingga lupa membasuh hati.
**
di negeri ini,
hal-hal kecil tumbuh jadi monster,
dan cinta mengecil jadi syarat.
aku bertanya pada bayanganku:
siapa yang akan kita selamatkan
jika semua orang sibuk mengadili
dari balik kata ‘ikhwan’, ‘akhwat’,
‘bidaah’, ‘masyhur’, ‘dhaif’,
dan ‘like and subscribe’?
**
Tuhan,
jika kami terlalu banyak menghafal-Mu
tapi lupa merasakan-Mu,
tiupkan satu huruf
yang bisa merontokkan
ego dari kitab-kitab kami.
YANG TUMBUH DARI BUNYI YANG TIDAK DIUCAPKAN
1.
Di halaman belakang,
seorang perempuan menyiram batu bata
dengan air dari ingatannya yang pecah.
Ia bilang, bunga tak butuh tanah.
Yang mereka butuh adalah sabar yang tak ditanya-tanya.
Bunganya tidak tumbuh.
Tapi ia terus menyiram.
Mungkin karena kehilangan pun perlu disiram.
2.
Seseorang menggantungkan cahaya
di langit-langit lidahnya.
Ia berkata—
“Aku tahu arah.”
Tapi arah selalu bergetar
di dalam saku orang-orang yang haus disebut benar.
Dan di bawahnya,
jalan-jalan berbisik:
“Semua petunjuk hanyalah cermin.”
3.
Seekor burung berwarna abu-abu
hinggap di kepala seorang lelaki
yang sedang menjelaskan kebenaran
dengan jarinya.
Burung itu tidak berkicau,
hanya menatap jauh
ke dalam genteng yang retak.
Lelaki itu terus bicara.
Burung itu tetap diam.
Entah siapa yang sebenarnya mendengar siapa.
4.
Di sebuah ruangan
penuh buku dan penghapus,
orang-orang menggambar garis lurus
dengan penggaris tak kasat mata.
Mereka saling membandingkan garis,
tanpa sadar
semua tinta mereka berasal dari sumur yang sama—
sumur yang kini tak punya tali timba.
5.
Anak-anak kecil bermain di lapangan retak.
Mereka saling melempar kata yang dilapisi makna.
“Maaf.”
“Kenapa?”
“Kalau aku salah, tolong koreksi.”
Tapi setiap kata jatuh
seperti daun yang sudah disemprot pestisida.
Berwarna indah.
Tapi tak punya aroma.
6.
Malam datang bukan dengan gelap,
tapi dengan bisikan orang-orang
yang ingin benar tanpa menjadi lembut.
Angin mengangkat mereka
ke langit-langit wacana,
lalu menjatuhkan perlahan
ke dalam cangkir-cangkir
yang sudah tak ada tehnya.
7.
Di dalam tubuhmu,
ada kamar kosong
yang sudah lama dikunci oleh suara-suara luar.
Kunci itu masih ada.
Tapi bentuknya berubah menjadi air.
Kalau kau sabar,
air itu bisa kau minum perlahan.
Dan kamar itu akan membuka sendiri.
Dayeuhluhur, 6 Maret 2025
TANDA YANG TAK SEMPAT DIBACA
I.
Langit melipat dirinya sendiri pagi itu.
Tak ada awan. Hanya ruang kosong,
seperti halaman kosong dalam kitab yang terlalu sering dibuka,
terlalu jarang direnungi.
II.
Seorang pria membungkus kesunyian dengan keresek
dan menaruhnya di depan pintu tetangga.
Ia bilang: “Kuberi kamu hadiah, jangan buka terlalu cepat.”
Tapi suara-suara di dalamnya sudah berteriak
sebelum matahari turun.
III.
Dinding di ruang tamu berdebat dengan jam dinding;
Soal waktu.
Soal siapa yang lebih cepat menyalahkan.
Sementara cermin di dekat pintu hanya tertawa pelan,
karena ia tahu:
yang salah bukan waktu,
tapi cara menatapnya.
IV.
Seekor cicak jatuh dari langit-langit masjid.
Tak ada yang memperhatikannya—
semua mata tertuju pada sepatu yang salah tempat.
Seseorang berkata: “Ini tanda.”
Tapi tak tahu tanda apa.
V.
Seorang anak kecil menulis doa dengan spidol merah
di balik kursi kelas.
Guru tidak melihat.
Tapi lantai mengingat huruf-huruf itu
seperti tanah mengingat jejak
yang tak pernah pulang.
VI.
Ada kata yang tercekat di tenggorokan seorang perempuan
yang terlalu sering meminta maaf
atas luka yang bukan miliknya.
Kata itu tumbuh seperti jamur—
tak terlihat, tapi tetap hidup
di antara jeda dan napas yang tak selesai.
VII.
Kadang, kebenaran datang
dalam bentuk kursi kosong
di tengah rapat yang penuh suara.
Tapi tak ada yang duduk.
Semua memilih berdiri,
sambil menunjuk.
VIII.
Seseorang membungkus keheningan
dengan pita emas
dan memberikannya sebagai hadiah ulang tahun.
Penerimanya menangis—
bukan karena tak mengerti,
tapi karena terlalu paham
apa yang tak bisa diucapkan.
IX.
Mereka membangun pagar tinggi
di sekitar taman kecil yang sepi.
Katanya: “Agar tak ada yang sembarangan masuk.”
Padahal sejak awal,
tak ada yang pernah mencoba.
X.
Dan pada akhirnya,
sepotong cahaya tercekat di langit-langit mulutku.
Aku menelannya perlahan,
karena tahu,
kadang yang paling terang pun
bisa membakar
jika disampaikan dengan suara yang salah.
Dayeuhluhur, 25 Februari 2025
DI MANA WAJAH LELUHUR DISEMBUNYIKAN
di tengah sawah yang ditimbun semen,
aku melihat jejak
yang tak lagi diakui sebagai jejak.
ia menari dalam gerak lambat
di antara pilar dan pengeras suara,
dengan pakaian lusuh dari kain tenun
yang kini dijual sebagai hiasan dinding
di kafe bertema “alam tropis.”
**
sebuah nama dicoret dari pohon keluarga,
diganti dengan huruf-huruf yang lebih suci,
lebih rapi, lebih layak untuk disebut
di forum-forum berpendingin udara.
anak-anak kini tak tahu
bahwa nenek moyangnya
berdoa dengan tarian,
dan menyembuhkan luka
dengan air dari mata angin.
**
di pasar malam yang sunyi,
seorang kakek membawa topeng kayu
yang tak laku dijual.
“tak ada yang mau jadi leluhur,” katanya.
“mereka semua ingin jadi pemenang kuis
tentang siapa yang paling benar.”
ia tertawa,
tapi aku melihat serpih tulang
di balik giginya yang ompong.
**
ada lelaki membakar jimat warisan,
katanya: “demi masa depan.”
tapi asapnya naik
dan berubah jadi suara perempuan tua
yang bertanya:
“kalau semua dibakar,
di mana kita akan pulang nanti?”
**
sekarang,
anak-anak menari di atas lantai kaca,
dengan langkah dari tutorial
yang tak kenal tanah.
suara suling tua digantikan dengan notifikasi,
dan roh-roh penjaga hutan
duduk di halte
menunggu bus
yang tak pernah datang.
**
leluhur tak marah.
mereka hanya makin pelan
berbisik di angin,
di air yang disaring,
di nasi yang dibungkus plastik
dan dimakan sambil membuka video
tentang kebenaran abadi
yang diproduksi dalam tiga menit.
**
aku menulis puisi ini
dengan arang yang kutemukan
di balik altar yang dibongkar.
aku tak tahu
untuk siapa.
mungkin untuk bayangan
yang makin jauh
dari wajahnya sendiri.
Dayeuhluhur, 18 Februari 2025
Galuh Kresno, Salah satu pendidik di SMP Negeri 2 Dayeuhluhur. Menulis puisi sejak berkuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Puisinya pernah terbit di beberapa media offline; Radar Banyumas, Harian Fajar Makasar, Rubrik Sastra Rakyat Sultra, Suara Merdeka, dan media online; biem.co, skspliterary.com, https://top.cafe.daum.net/

