Di Antara Dua Langkah
“Kak, aku cimolnya dua ya!”
“Pop ice coklatnya satu ya kak!”
Ramai sekali pembeli sore ini. Di tengah keramaian itu, Ning terlihat gesit melayani pembeli di kedai sederhana milik bosnya. Senyum manis tak pernah luntur dari bibirnya, menjawab permintaan pelanggan kedai dengan suara lembut meskipun peluh membanjiri dahi. Rambut hitam panjangnya digulung agar tidak menghalangi kegiatannya. Banyak orang senang dengan keramahannya, apalagi anak-anak. Ning bahkan sudah bersahabat dengan anak-anak yang datang ke kedai.
Kedai tempat Ning bekerja bukanlah kedai besar, melainkan hanya kedai sederhana yang menjual aneka jajanan. Meskipun kedai sederhana, namun kedai itu ramai dikunjungi orang apalagi anak-anak. Terkadang, Ning juga merasa kewalahan melayani pelanggan. Tapi ketika ia pejamkan mata dan kedua sosok orang tuanya muncul, rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya itu hilang seketika.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00, itu artinya sebentar lagi kedai akan tutup. Ning pun bersiap, ia membereskan satu persatu peralatan kedai. Tak lama muncul 6 orang yang sepertinya usianya lebih tua dari Ning sendiri. Mereka berenam muncul dengan tergesa-gesa.
“Dek, masih buka kan?”, tanya salah satu diantara mereka.
Sekali lagi, Ning menelisik penampilan mereka. Ning menyadari mereka menggunakan almamater salah satu kampus yang ada di ibu kota. Ning menyimpullkan kalau mereka ini adalah mahasiswa.
“Masih kak, mau dibungkus saja?”, tanya Ning sopan. Walaupun sebenarnya tubuhnya sudah meronta ingin dipertemukan dengan kasur empuk, namun dia harus tetap melayani pelanggan dengan sepenuh hati.
“Ahh iya dek, cimolnya 20 dan sempolnya 20 ya” pesan mereka.
Ning pun dengan cepat menyiapkan pesanan tersebut. Sembari menyiapkan pesanan itu, dalam benak Ning terlintas sesuatu.
“Maaf saya izin menanyakan sesuatu ya kakak-kakak semua, kalian ini mahasiswa kan? Sedang apa disini?”, Ning bertanya dengan sangat sopan.
“Iya dek, kami sedang KKN di desa ini”, jawab salah satunya.
Ning terdiam sejenak, ternyata mereka sedang KKN. Ning tau itu.
“Oh begitu ya kak, oh iya ini pesanannya sudah jadi. Totalnya jadi 40 ribu kak”, ucap Ning tersenyum ramah.
“Terima kasih dek” ucap mereka, kemudian pergi meninggalkan kedai.
Ning segera menutup kedai dan mengambil upahnya.
Sesampainya di rumah kecilnya, Ning bergegas membersihkan diri dan pergi ke dalam kamar. Di dalam kamar, Ning terdiam. Ia memikirkan kejadian tadi. Indah sekali mereka memakai almamater kampus dan sedang melaksanakan KKN. Ning tiba-tiba terpikirkan, apa dia bisa memakai almamater kampus juga?, Pergi kuliah dan merantau di ibu kota layaknya teman-temannya?, dan mendapatkan gelar sarjana untuk membuat bangga ayah dan ibunya?. Semua pertanyaan itu berputar di kepalanya.
Ning jadi teringat satu tahun yang lalu, tepatnya dia masih di bangku SMA kelas 12. Di masa itu, Ning juga sudah bekerja. Ia bekerja untuk membeli peralatan sekolahnya. Orang tuanya bukan tidak bertaggung jawab, namun memang keadaan mereka yang tidak bisa dipaksa. Terlahir dari keluarga yang kekurangan tidak membuat Ning mengeluh. Ia berpedoman bahwasannya tuhan memberikan ia tantangan, bukan cobaan.
Hingga tibalah saat kelulusan. Teman-temannya berbondong-bondong bercerita setelah lulus akan menempuh perguruan tinggi kemana. Ning? Ia hanya ikut tertawa dan menanggapi saja, tetapi ia tidak ikut bercerita. Keadaan Ning saat itu tidak bisa dipaksakan untuk melanjutkan pendidikannya. Ning tidak pernah mengeluh dengan itu, ia yakin mungkin takdirnya memang diam di desa dan bekerja membantu orang tuanya. Menurutnya, berbakti kepada orang tua juga takdir indah. Namun, mimpi melanjutkan pendidikannya masih terpatri dalam lubuk hati terdalamnya.
Maka dari itu, Ning bekerja di sebuah kedai sederhana di desanya. Upah yang dia dapatkan dari pekerjaan itu ia berikan setengahnya kepada orang tuanya, setengah lagi ia gunakan untuk membeli kebutuhannya, dan sedikit ia tabung. Ning berniat tabunngan itu untuk modal pendidikannya nanti, namun entah kapan itu. Ning selalu berdo’a dan berusaha.
Melihat enam mahasiswa malam itu, semangat dalam dirinya untuk mengejar mimpi melanjutkan pendidikannya tiba-tiba bangkit. Bagaikan api yang berkobar membakar kemungkinan-kemungkinan terburuk. Ning bergegas mengambil tabungannya.
‘Praaanggg!’ Tabungan ayam itu hancur berkeping-keping, beberapa kertas bernilai itu terlihat mengintip malu-malu dari balik kepingan-kepingan tabungan. Ning mulai menghitung jumlah uang tabungannya. Totalnya lumayan juga, Ning rasa ini cukup untuk modal merantau melanjutkan pendidikan tinggi. Ini tabungannya selama setahun bekerja. Dengan tekad yang kuat, ia memberanikan diri membicarakan niatnya kepada orang tuanya.
Langkah demi langkah ia bawa menuju kamar orang tuanya. Membawa keyakinan besar dirinya akan diizinkan. Namun, setelah sampai di kamar. Ia melihat pemandangan yang membuatnya terdiam. Disana, ibunya terbaring memegangi kepalanya, ayahnya terbatuk-batuk. Orang tuanya memang sudah renta. Dengan usia yang sudah tua, memang rentan penyakit datang. Ning bergegas mengambil air minum untuk ayah, lalu memijit kepala ibunya pelan.
“Ning, ada apa nak”, tanya ibunya pelan.
Ning meremas rok yang ia pakai. Ia memejamkan mata dan mencoba bicara.
“Ning mau bilang sesuatu ibu, ayah”, Ning membulatkan tekad sekali lagi.
“Ning ingin merantau ke kota, melanjutkan pendidikan Ning. Ning sebenarnya punya tabungan, dan Ning rasa tabungan Ning sudah cukup ayah, ibu”, tubuh Ning bergetar setelah mengucapkan rentetan kalimat itu.
Selain tentang biaya, yang menjadi pertimbangan Ning adalah Kesehatan orang tuanya. Ning lah orang pertama yang sigap ketika penyakit mereka kambuh. Jika Ning pergi, siapa lagi yang menjaga kedua orang tuanya? Namun jika Ning tidak berani mengambil langkah, maka nasib mereka tidak akan berubah. Semua pertimbangan itu berputar dikepalanya.
“Ning, ayah senang kamu berniat baik. Namun, ayah melihat keraguan dimatamu, kenapa nak? Ayah bertanya dengan lembut. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata bening itu, Ning menangis.
“Ning bimbang ayah. Ning ingin mengejar mimpi Ning. Tapi kalau Ning pergi, siapa yang menjaga ayah dan ibu?” tangis Ning pecah seketika.
“Ayah dan ibu baik-baik saja nak, pergilah merantau dan dapatkan kesempatan merubah nasib kita”, ayah menggenggam tangan Ning.
“Kami juga ada tabungan, walaupun tidak banyak tapi kami harap ini bisa membantu nak” ucap ibu.
Ning terenyuh, Ning tahu kalau pendapatan ayahnya tidak seberapa. Namun, mereka bahkan masih bisa menyisihkan uang untuk Ning. Rasanya Ning dihadapkan dengan dua pilihan. Masa depan atau orang tuanya. Ning senang karena orang tuanya pun mendukung keputusannnya. Namun, Ning tahu kalau jika ia pergi maka orang tuanya akan sendiri.
BIONARASI

Rahmit adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang memiliki minat pada bidang retorika dan keterampilan berbicara di depan umum. Ia merupakan lulusan SMA Negeri 1 Laung Tuhup dan semasa sekolah aktif dalam kegiatan public speaking, seperti menjadi pembawa acara (MC) pada kegiatan OSIS, ambalan, serta berbagai acara internal sekolah. Rahmit juga pernah mengikuti lomba pidato antar sekolah.
Dalam bidang sastra, ia memiliki ketertarikan pada karya sastra berbentuk novel. Melalui pendidikan yang sedang ditempuh, Rahmit berharap dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, bersastra, dan beretorika secara lebih mendalam.

