Oleh: Bayu Suta Wardianto[1]
Sastra bukanlah sebuah definisi tunggal yang tidak bisa diganggung gugat dan tidak mengalami perkembangan. Dalam banyak definisi, sastra merupakan buah pikir manusia terhadap penginderaan yang dilakukannya dan dituliskan atau disebarluaskan melalui media bahasa. Dalam perkembangannya, sastra dipengaruhi oleh budaya. Atau sebaliknya, sastra mempengaruhi budaya.
Pada dua posisi yang sama-sama mempengaruhi tersebut, posisi sastra dipengaruhi budaya merupakan bentuk perkembangan sosial, di mana tema-tema dan topik-topik perkembangan sastra dibentuk melalui perkembangan budaya yang terjadi dalam sebuah linimasa tertentu. Misalnya, dalam masa-masa sebelum reformasi, kita membaca Seno Gumira Ajidarma yang karya-karyanya menyoroti problematika sosial dan budaya dalam bingkai kehidupan yang penuh tekanan dalam masa pemerintahan orde baru. Dalam cerpen Menanti Kematian Paman Gober (1994) kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati (1999) Seno menyoroti bagaimana memetaforakan, mengironikan, dan menganalogikan tokoh Paman Gober sebagai potret sosok pemimpin yang tiran. Misalnya dalam kumpulan cerpen yang lain, Corat-coret di Toilet (199) karya Eka Kurniawan. Karya sastra tersebut berlatarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada era Reformasi yang antara lain meliputi pro-kontra mahasiswa terhadap Sidang Istimewa MPR 1998, penuntutan penghapusan Dwifungsi ABRI, dan sederet peristiwa reformasi lainnya.
Sastra mempengaruhi budaya adalah posisi di mana karya sastra menjadi titik balik dari produk budaya yang diangkat dalam sastra untuk tampil lebih percaya diri atau lebih diperhatikan dan memerhatikan. Misalnya, dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (yang pada 2020 sudah 20 kali dicetak ulang) menceritakan bagaimana produk budaya bernama Ronggeng yang kemudian mendapat perhatian khusus, kemudian Lengger yang sama-sama seni tari juga mendapat perhatian khusus setelah novel ini mulai dibaca oleh banyak orang. Terhitung di Banyumas, Juli 2024 diadakan 10.000 Lengger Bicara yang memecahkan rekor MURI. Dalam karya sastra yang lain, masyarakat luar Sulawesi juga mulai mengenal Bissu, sosok tokoh spiritual dalam masyarakat Bugis. Melalui dua contoh karya tersebut, mulai banyak penelitian, revitalisasi, bahkan pelestarian dari berbagai pihak mengenai produk budaya yang diceritakan dalam karya sastra.
Dua hubungan karya sastra pada paragraf sebelumnya, merupakan dampak atau aktivitas lanjutan dari pembacaan karya sastra yang sifatnya ideologis. Di dalam ideologi terkonstruksi pandangan penulis yang mencakup pandangan hidup, nilai-nilai budaya, sosial, ekonomi, agama, dan lain sebagainya (Suhandra, 2019). Lebih lanjut, Suhandra menjelaskan bahwa ideologi yang termuat dalam karya sastra memiliki tujuan, seperti menggugah pembaca agar mengikuti arah pikir penulis atau tendensi penulis. Inilah kemudian yang disebut dengan politik sastra atau proganda sastra.
Karya sastra yang berideologis, secara khusus tidak memikirkan bagaimana mencari pangsa pasar. Dalam bentuk industrialisasi karya sastra, bentuk-bentuk karya sastra yang berdideologi ini menjadi magnet tersendiri bagi para pembacanya. Para pembaca sastra ‘serius’, menganggap karya sastra yang berideologi merupakan karya sastra yang autentik, tulen, atau yang sebenarnya. Sehingga ketika penulis menyelesaikan pendidikan strata 1 di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Untirta, pembelajaran kajian sastra, baik apresiasi ataupun kritik sastra, objek material yang digunakan adalah karya-karya sastra karya Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Eka Kurniawan, Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, Nh. Dini, dan sederet nama sastrawan termuka di Indonesia yang karyanya berorientasi kepada realisme sosial dan pertentangan sosial. Pembelajaran dalam pengakajian karya sastra lebih berfokus kepada karya sastra serius, walaupun kini mulai banyak juga mahasiswa yang lulus dengan mengkaji karya-karya sastra populer.
Jika menilik ke laman scholar.google.com menelusuri analisis atau kajian sastra yang berorientasi pada karya sastra serius lebih banyak ditemui karena memang karya sastra tersebut banyak dikaji dalam berbegai perspektif. Pengkajian terhadap karya sastra populer lebih berorientasi pada motivasi yang ditimbulkan oleh tokoh, romantisme, dan tren atau budaya terbaru serta konflik moral antara tokoh antagonis dengan tokoh protagonis.
Sastra populer dapat diartikan sebagai karya sastra yang “populer” pada masanya dan banyak pembacanya dalam rentang usia tertentu (dalam hal ini remaja). Dalam ciri yang lebih umum, sastra populer tidak menampilkan permasalahan hidup secara intens. Sebab jika demikian, sastra populer akan menjadi berat dan berubah menjadi sastra serius (Nurgiantoro, 2019). Perkembangan sastra populer dimulai pada tahun 1970-an dengan dikenalnya novel Karmila karya Marga T. dan Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar. Hal ini ditandai dengan semakin besarnya jumlah pembaca sastra berlatar sekolah menengah dan perguruan tinggi (Wumu, 2015).
Karya sastra populer memiliki penggemar yang relatif lebih beragam dari penggembar karya sastra serius. Karya sastra populer menggunakan penggunaan bahasa yang sederhana, tidak rumit, dan biasanya kekinian. Tiga unsur penggunaan bahasa ini yang menjadikan karya sastra populer lebih bisa dinikmati oleh pembaca secara umum dengan beragam latar yang ada. Selain itu, kepopuleran karya sastra populer ini juga didukung oleh industrialisasi sastra dengan adanya fungsi penerbit untuk mencetak dan mendistribusikan karya sastra tersebut. Sebagai perbandingan, novel Pada Sebuah Kapal karya Nh. Dini telah mengalami tiga kali cetak oleh penerbit dan di tahun 2018 setelah cetakan terakhirnya (tahun 1979) dicetak kembali. Kemudian, sebuah karya sastra populer berjudul Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) karya Marchella FP (2018) yang sempat menjadi salah satu best seller dan dicetak sebanyak sebelas kali serta sukses mengantarkan penulisnya mendapatkan predikatsebagai penulis terbaik tahun ini (2019) dari IKAPI Awards.
Membandingkan karya sastra Nh. Dini dan karya populer Marchella FP memang tidak apple to apple atau sangat sulit jika dikatakan menjadi sebuah perbandingan yang setara. Pasalnya, Nh. Dini dan Marchella FP memiliki latar historis yang berbeda pula, sehingga karya yang dituliskannya pun pasti berbeda. Akan tetapi, bukan itu poinnya. Karya sastra populer sangat didukung oleh industrialisasi, sehingga karya populer atau karya sastra populer bisa sangat berdampak kepada jumlah cetak dan jumlah eksemplar buku yang sukses dijual. Dari banyaknya buku yang berhasil dicetak ini, menjadikan karya sastra populer menjangkau lebih banyak rak-rak buku di tanah air dan dibaca oleh masyarakat Indonesia.
Marchella FP dan Karya Sastranya
Karya sastra Marchella FP tersusun atas keresahan-keresahan kehidupan yang berorientasi pada tokoh yang memiliki usia muda, tinggal dalam lingkup sosial urban, serta harapan-harapannya akan masa depan. Dalam meneropong pembacanya, Marchella FP tahu betul selera remaja atau anak-anak muda di Indonesia. Karya sastra Marchella FP, merupakan sastra yang dikolaborasikan dengan grafik. Tak heran, karena memang penulis memiliki latar belakang keilmuan di bidang itu. Membandingkan dengan ‘sastra serius’ yang di dalamnya hanya terdapat teks, membuat warna pembeda dalam perkembangan karya sastra di Indonesia. Walaupun bukan sesuatu yang baru, akan tetapi grafik yang ditampilkan mampu membuat pasar karya sastra populer semakin ramai.
Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) adalah karya sastra populernya yang paling booming. Dari proses penerbitan bukunya, penulis mampu meracik strategi pemasaran yang brilliant dengan membuat tak ubahnya sineas sederhana di media sosial sebelum meluncurkan bukunya. Potong-potongan kutipan dalam NKCTHI nampaknya juga masih tersebar di media sosial yang diikuti remaja-remaja sampai orang dewasa bahkan sampai hari ini.
Selain NKCTHI dalam bentuk novel yang dalam proses produksinya mencapai 11 kali cetak dan dibaca oleh jutaan orang, hadir juga dalam bentuk film. Alih wahana novel menjadi film dari NKCTHI ini juga sukses dengan ditontonnya film ini oleh 2 jutaan orang di Indonesia. Namun pada artikel ini, penulis tidak membahas tentang kuantitas dari NKCTHI. Sebagai penulis, Marchella FP mampu membaca pasar pembaca. NKCTHI yang dibuat menjadi flash fiction, merupakan bentuk konkrit perubahan dalam karya sastra kontemporer. Flash fiction merupakan bentuk karya fiksi yang disusun secara singkat, meskipun tidak terdapat ketentuan baku mengenai batasan jumlah kata. Cerita ini dibuat supaya padat dan terkadang elemen fiksi yang terkandung di dalamnya tidak disajikan secara eksplisit, melainkan disarikan dalam bentuk yang lebih tersembunyi (Taum, 2022). Fiksi singkat dan kuat akan makna yang dapat langsung ditemukan oleh pembaca dalam NKCTHI ini menjadikannya salah satu karya sastra populer yang digemari oleh kaula muda hingga hari ini.
Kesuksesan Novel NKCTHI ini diikuti juga oleh karya selanjutnya berjudul Kamu Terlalu Banyak Bercanda (KTBB). Walau tidak sebooming novel sebelumnya, akan tetapi ruh atau jiwa dari NKTCHI berlanjut di novel ini, karena dalam Kamu Terlalu Banyak Bercanda merupakan wadah bercerita yang disampaikan oleh Marchella FP untuk mernceritakan sisi lain dari tokoh utama di NKCHI. Kutipan-kutipan flash fiction dalam kedua buku karya sastra populer itu masih menggunakan pola grafik dan kutipan-kutipan singkat yang saling terjalin satu sama lain.
Kedua buku ini menunjukkan bahwa fenomena seperti Instapoetry (puisi ringkas) atau kutipan singkat yang bisa kita katakan flash fiction yang disertai dengan elemen visual dan didistribusikan melalui media sosial dapat merepresentasikan transformasi mendasar dalam lanskap sastra modern (Zahron, 2025). Pada kedua buku ini, Marchella FP menguasai betul bentuk promosi sampai produksi karya sastra populer yang ditulisnya sampai pada tangan tangan pembaca dan mempengaruhi bahwasanya karyanya dapat diperhitungan karena distribusi yang massif dan terasa lebih dekat, karena memang dalam kedua buku tersebut menggunakan bahasa sederhana, alur sederhana, serta lanskap sosial yang banyak digemari oleh remaja.
Karya ketiga yang penulis bahas dari Marchella FP adalah novel yang terbit di tahun 2023 berjudul Tabi. Berbeda dengan kedua fiksi singkat yang penulis bahasa pada paragraf sebelumnua, Tabi merupakan novel populer yang ditulis oleh Marchella FP dengan tidak mengandalkan kutipan-kutipan singkat yang berisi motivasi. Walaupun masih dengan grafik khas Marchella FP, Tabi mengangkat persolan kehidupan tokohnya yang lebih komplek. Penggunaan narasi bercerita yang renyah dan mengeksplorasi kejiwaan tokoh utamanya. Sebagai tokoh utama, Tabindamemiliki alur cerita seperti kebanyakan cerita teenlit. Bekerja di sebuah perusahaan, pemilik perusahaan tersebut adalah lelaki muda dan kaya raya, berharap menjadi kekasih dari lelaki muda tersebut, kemudian ‘kejadian’, walaupun berakhir dengan kegagalan cinta.
Tabi merupakan sastra populer yang membahas bagaimana seorang tokoh yang meresapi guncangan jiwa dan bangkit dari keterpurukan, dari patah hati ke patah hati yang baru, dari kegagal ke kegagalan yang baru. Sebagai sastra populer, Tabinda diperkenalkan sebagai tokoh yang tinggal di sebuah kota metropolitan, bekerja di gedung bertingkat, beristirahat dan makan siang di kafe dan restoran, hingga dalam proses penyembuhan dirinya dilalui melalui perjalanan demi perjalanan. Hingga akhrinya mengisahkan Tabinda hidup di Jepang untuk menyembuhkan diri (self-healing).
Terlepas dari unsur intrinsik di dalamnya, proses Tabi menuju debutnya, dimulai riset yang dilakukan Marchella FP dengan membuat akun media sosial di TikTok dan Instagram dengan nama yang sama dengan novelnya. Sebagai seorang influencer, Marchella melakukan penelitian tentang perempuan yang patah hati karena cinta dengan membuat media sosial TikTok Tabi (@tabi.tabinda) selama satu tahun ke belakang sebelum novelnya rilis. Tabi juga menjadi teman virtual perempuan yang turut berbagi kisahnya (Liana, dkk., 2024). Marchella FP benar-benar memanfaatkan media sosial untuk memancing interaksi pembaca atau calon pembacanya dengan teknologi digital yang mudah diakses. Akibatnya, Tabi dapat masuk ke ruang-ruang toko buku dan sampai ke banyak tangan pembaca di Indonesia.
Walaupun dipandang sebagai karya sastra populer yang dianggap ‘tidak berideologi’, oleh sebagian pembaca, Tabi dianggap sebagai teman penyembuh luka hati. Hal ini penulis sadari ketika berkesempatan memoderatori Marchella FP dalam sebuah acara literasi. Banyak di antara pada penanya, mulai dari remaja hingga orang dewasa, pembaca bercerita bahwasanya Tabi turut menemani jatuh hati sampai patah hatinya. Bahkan ada seorang psikolog yang kemudian menggunaan Tabi menjadi media bagi salah satu pasiennya dalam menghadai gangguan kecemasan.
Kesimpulan
Memandang karya sastra, berarti memandang refleksi-refleksi kehidupan yang ada di dunia nyata. Dalam proses mewujudnya karya sastra sejak dalam kepala hingga sampai ke tangan pembaca, penulis memiliki strategi masing-masing kepada ‘anak pemikirannya’ tersebut. Dalam pandangan sastra berideologi, penulis akan betul-betul mematangkan konsep, peristiwa, pesan, hingga makna yang terkandung di dalam karya sastra tersebut, hingga memunculkan dampak lanjutan bagaimana publik menanggapinya sebagai buah pemikiran yang memunculkan diskursus bagi karyanya. Karena penulis-penulis sastra yang berideologi akan memiliki pesan khusus selayaknya ‘propaganda sastra’ dan nilai yang terkandungnya. Karya sastra populer, sebetulnya juga memiliki kematangan konsep sejak dalam proses penulisannya. Namun, banyak ditemui hasilnya, karya sastra populer menitikberatkan pada tujuan seperti hiburan dan bacaan untuk menemani pembaca memahami pesan yang disampaikan dengan cara yang sederhana dalam aktivitas keseharian pada pembacanya. Baik karya sastra berideologi atau karya sastra populer, sama-sama hasil buah pemikiran dari penulis yang sama-sama memiliki nilai berharga bagi perkembangan kesusastraan Indonesia.
Referensi:
Liana, Patricia, dkk. (2024). Digitalisasi Sastra Kontemporer Lewat Grafik Novel “Tabi” Karya Marchella FP. Prosodi: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra. Vol. 18, No. 1.
Nurgiyantoro, Burhan. (2019). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.
Suhandra, Ika Rama. (2019). Hubungan Bahasa, Sastra, dan Ideologi. Cordova Journal Language and Culture Studies. Vol. 9, No. 2.
Taum, Y. Y. (2022). Sinergi Budaya dan Teknologi dalam Sastra Indonesia serta Implikasinya di dalam Pengajaran. Vol. 4 No. 1.
Wumu, Wahyuni. (2015). Sastra Populer di Indonesia. Kibas Cendrawasih. Vol. 12, No.1.
Zahron, A. M. (2025). Eksplorasi Flash Fiction @nkcthi dan @kttb Karya Marchella sebagai Manifestasi Kontemporer Sastra Digital di Indonesia dalam Representasi Narasi Lintas Media.
Tentang Penulis

Bayu Suta Wardianto, lahir di Tegal pada 18 Maret 1998. Penulis adalah Dosen Tamu di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dan Universitas Amikom Purwokerto. Peneliti bidang bahasa dan sastra di Lembaga Kajian Nusantara Raya. Penulis bisa dihubungi melalui nomor WA: 089611006360, email: bayusutawr@gmail.com atau media sosial Instagramya @suta_sartika.
[1] Penulis adalah Dosen Tamu di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dan Universitas Amikom Purwokerto. Berkegiatan di Lembaga Kajian Nusantara Raya.

