MAWAR YANG BELAJAR MEKAR
Di sudut taman yang jarang disentuh matahari,
ada mawar yang batangnya pernah patah
Bukan karena angin, bukan karena hujan
melainkan tangan seorang anak kecil
yang lupa bahwa duri
juga bagian dari mawar
Hujan membasahi tanah di akar,
kelopak yang tersisa jatuh perlahan
seperti surat yang tak pernah sampai
Orang-orang hanya melihat durinya,
“Ah, mawar itu galak,”
kata mereka
tanpa pernah tinggal cukup lama
untuk memahami diamnya
Musim berganti,
dari bekas patahan itu
tumbuh tunas kecil
ragu, namun tetap hidup
Setiap pagi
ia membuka mahkotanya
sedikit demi sedikit
Kini aku duduk di dekatnya:
batangnya bengkok,
warnanya tak terlalu merah
Namun ia tetap mekar
bukan untuk dipetik,
bukan untuk dipuji
Di sudut taman ini,
segala sesuatu tetap tumbuh
meski tak pernah utuh.
Cilacap, 13 Maret 2026
BATU DI SUNGAI
Di dasar sungai yang dingin
di bawah jembatan kampung
yang sudah tak dilewati orang,
sebuah batu terdiam
Bukan karena ia memilih diam,
tapi karena arus tak pernah berhenti mendorong,
membawanya ke sana kemari,
meski ia hanya ingin diam di satu tempat
Air datang setiap musim hujan,
membawa ranting kecil,
pasir vulkanik dari hulu,
dan benturan-benturan kecil dengan batu lain
yang tak pernah ia minta
Setiap benturan meninggalkan luka,
retak halus yang tak kasat mata
Hari berganti musim,
musim berganti tahun
Perlahan
sudut-sudut tajamnya hilang,
bukan karena ia ingin tumpul,
tapi karena arus terus menggosoknya
Tak ada yang melihat
beberapa kali ia terbentur.
Tak ada yang mengitung
seberapa dalam retaknya
Mereka tidak tahu
bahwa bentuknya yang sekarang
lahir dari arus yang dulu hampir memecahkannya,
dari benturan yang dulu terasa terlalu keras
Tapi batu itu diam saja.
Ia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan
Retak-retak itu
diam di tubuhnya
tak pernah hilang
Cilacap, 14 Maret 2026
ANAK KECIL DI HALAMAN RUMAH
Di halaman rumah lama,
seorang anak kecil duduk mangangkang
di atas sepeda yang terlalu besar dari ukurannya
Ia mencoba mengayuh
satu setengah putaran, lalu oleng.
Rerumputan basah setelah hujan subuh
menangkap jatuhnya
Dari sini, dari teras,
aku melihat lututnya berdebu,
telapak tangan merah karena aspal
Ia bangkit lagi,
mengibaskan debu dari lutut dan celana,
memegang setang seolah itu satu-satunya hal
yang bisa ia kendalikan di dunia
Mata itu masih sama seperti dulu,
mata yang tidak mengenal
apa itu menyerah
Cilacap, 15 Maret 2026
RUMAH YANG SUNYI
Ada rumah di dalam dada
yang sering tak berpenghuni.
Bukan rumah sungguhan,
tapi kamar dengan dinding dari debu
dan jendela yang tidak pernah bisa tertutup rapat
Lampunya redup sejak lama.
Mungkin sejak ibu terakhir kali memelukku,
atau sejak ayah lupa mengetuk pintu
Di sana aku duduk sendirian
mendengar detak waktu
yang berdetak lebih keras dari jantung.
Setiap tik-tok mengingatkan:
waktu terus berjalan,
tapi tidak ada yang datang
Sunyi itu tetap tinggal
dan aku mendengar
sesuatu yang tak pernah sempat bersuara
Cilacap, 16 Maret 2026
KURSI YANG KINI TERISI ORANG LAIN
Di meja dekat jendela itu,
pernah ada dua cangkir keramik putih.
Uap kopi naik perlahan,
membentuk lingkaran tipis,
bersama cerita
yang tidak pernah selesai kami rangkai
Sekarang, dari seberang jalan,
aku melihat meja yang sama.
Satu kursi tetap ditempatnya,
tapi tangan yang memegang cangkir
bukan lagi tanganku
Seseorang dengan rambut sebahu
tertawa
mendengar sesuatu
yang dulu hanya aku yang tahu
Aku berhenti di depan kafe,
berpura-pura menatap ponsel
Di kaca jendela,
bayanganku sendiri menatapku.
Dua tahun berlalu
aku masih berdiri di sini,
bersama kenangan
yang tetap hangat
seperti kopi
yang pernah tumpah di meja itu
Hujan mulai turun.
Aku memasukkan tangan ke saku jaket,
berjalan menjauh
Di belakangku,
kaca jendela mengabur oleh rintik,
dan bayanganku perlahan menghilang
seperti uap
yang tak pernah benar-benar bisa kembali
Cilacap, 17 Maret 2026
Talitha Salsabila merupakan mahasiswa Program Studi Informatika yang memiliki ketertarikan dalam dunia tulis-menulis, khususnya puisi. Karya yang ditulisnya merupakan bagian dari proses belajar dalam memahami serta mengungkapkan gagasan melalui bahasa. Saat ini, ia terus berupaya mengembangkan kemampuan menulisnya agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan bermakna.


