Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Puisi-puisi Talitha Salsabila

Admin by Admin
16 April 2026
0
Puisi-puisi Talitha Salsabila
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

MAWAR YANG BELAJAR MEKAR

Di sudut taman yang jarang disentuh matahari,

ada mawar yang batangnya pernah patah

Bukan karena angin, bukan karena hujan

melainkan tangan seorang anak kecil

yang lupa bahwa duri

juga bagian dari mawar

Hujan membasahi tanah di akar,

kelopak yang tersisa jatuh perlahan

seperti surat yang tak pernah sampai

Orang-orang hanya melihat durinya,

“Ah, mawar itu galak,”

kata mereka

tanpa pernah tinggal cukup lama

untuk memahami diamnya

Musim berganti,

dari bekas patahan itu

tumbuh tunas kecil

ragu, namun tetap hidup

Setiap pagi

ia membuka mahkotanya

sedikit demi sedikit

Kini aku duduk di dekatnya:

batangnya bengkok,

warnanya tak terlalu merah

Namun ia tetap mekar

bukan untuk dipetik,

bukan untuk dipuji

Di sudut taman ini,

segala sesuatu tetap tumbuh

meski tak pernah utuh.

Cilacap, 13 Maret 2026


BATU DI SUNGAI

Di dasar sungai yang dingin

di bawah jembatan kampung

yang sudah tak dilewati orang,

sebuah batu terdiam

Bukan karena ia memilih diam,

tapi karena arus tak pernah berhenti mendorong,

membawanya ke sana kemari,

meski ia hanya ingin diam di satu tempat

Air datang setiap musim hujan,

membawa ranting kecil,

pasir vulkanik dari hulu,

dan benturan-benturan kecil dengan batu lain

yang tak pernah ia minta

Setiap benturan meninggalkan luka,

retak halus yang tak kasat mata

Hari berganti musim,

musim berganti tahun

Perlahan

sudut-sudut tajamnya hilang,

bukan karena ia ingin tumpul,

tapi karena arus terus menggosoknya

Tak ada yang melihat

beberapa kali ia terbentur.

Tak ada yang mengitung

seberapa dalam retaknya

Mereka tidak tahu

bahwa bentuknya yang sekarang

lahir dari arus yang dulu hampir memecahkannya,

dari benturan yang dulu terasa terlalu keras

Tapi batu itu diam saja.

Ia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan

Retak-retak itu

diam di tubuhnya

tak pernah hilang

Cilacap, 14 Maret 2026


ANAK KECIL DI HALAMAN RUMAH

Di halaman rumah lama,

seorang anak kecil duduk mangangkang

di atas sepeda yang terlalu besar dari ukurannya

Ia mencoba mengayuh

satu setengah putaran, lalu oleng.

Rerumputan basah setelah hujan subuh

menangkap jatuhnya

Dari sini, dari teras,

aku melihat lututnya berdebu,

telapak tangan merah karena aspal

Ia bangkit lagi,

mengibaskan debu dari lutut dan celana,

memegang setang seolah itu satu-satunya hal

yang bisa ia kendalikan di dunia

Mata itu masih sama seperti dulu,

mata yang tidak mengenal

apa itu menyerah

Cilacap, 15 Maret 2026


RUMAH YANG SUNYI

Ada rumah di dalam dada

yang sering  tak berpenghuni.

Bukan rumah sungguhan,

tapi kamar dengan dinding dari debu

dan jendela yang tidak pernah bisa tertutup rapat

Lampunya redup sejak lama.

Mungkin sejak ibu terakhir kali memelukku,

atau sejak ayah lupa mengetuk pintu

Di sana aku duduk sendirian

mendengar detak waktu

yang berdetak lebih keras dari jantung.

Setiap tik-tok mengingatkan:

waktu terus berjalan,

tapi tidak ada yang datang

Sunyi itu tetap tinggal

dan aku mendengar

sesuatu yang tak pernah sempat bersuara

Cilacap, 16 Maret 2026


KURSI YANG KINI TERISI ORANG LAIN

Di meja dekat jendela itu,

pernah ada dua cangkir keramik putih.

Uap kopi naik perlahan,

membentuk lingkaran tipis,

bersama cerita

yang tidak pernah selesai kami rangkai

Sekarang, dari seberang jalan,

aku melihat meja yang sama.

Satu kursi tetap ditempatnya,

tapi tangan yang memegang cangkir

bukan lagi tanganku

Seseorang dengan rambut sebahu

tertawa

mendengar sesuatu

yang dulu hanya aku yang tahu

Aku berhenti di depan kafe,

berpura-pura menatap ponsel

Di kaca jendela,

bayanganku sendiri menatapku.

Dua tahun berlalu

aku masih berdiri di sini,

bersama kenangan

yang tetap hangat

seperti kopi

yang pernah tumpah di meja itu

Hujan mulai turun.

Aku memasukkan tangan ke saku jaket,

berjalan menjauh

Di belakangku,

kaca jendela mengabur oleh rintik,

dan bayanganku perlahan menghilang

seperti uap

yang tak pernah benar-benar bisa kembali

Cilacap, 17 Maret 2026

Talitha Salsabila merupakan mahasiswa Program Studi Informatika yang memiliki ketertarikan dalam dunia tulis-menulis, khususnya puisi. Karya yang ditulisnya merupakan bagian dari proses belajar dalam memahami serta mengungkapkan gagasan melalui bahasa. Saat ini, ia terus berupaya mengembangkan kemampuan menulisnya agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan bermakna.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In