oleh Abdul Wachid B.S. [1]
Realitas yang Kontras
Pojok Kompas edisi Selasa, 27 Mei 2025, menyentil dengan kalimat pendek namun tajam: “Sastrawan tak bisa hidup dari sastra. Sebaliknya, sastra tiada tanpa sastrawan.” Sebuah refleksi yang menghadirkan paradoks dalam dunia kesusastraan kita. Di satu sisi, sastra adalah puncak peradaban bahasa dan imajinasi, tetapi di sisi lain, kehidupan para pengarangnya nyaris tanpa jaminan yang layak.
Sastrawan seolah hidup dari udara. Mereka menulis bukan demi upah, tapi karena panggilan batin. Namun ironisnya, ketika karya-karya mereka mulai diajarkan di sekolah atau dibaca dalam diskusi akademik, nama mereka hanya jadi pelengkap bibliografi. Banyak sastrawan yang wafat dalam kesunyian atau kekurangan. Sebut saja Kirdjomuljo, Subagio Sastrowardoyo, dan bahkan Rendra, yang semasa hidupnya tak pernah menikmati gelimang dunia literasi dalam bentuk materi.
Sementara itu, institusi-institusi kebudayaan dan pendidikan tak jarang mengutip karya sastra sebagai instrumen penciptaan nilai dan moral. Sastra dianggap penting, tapi sastrawannya tetap berada di pinggir. Di sinilah muncul pertanyaan penting: siapa sesungguhnya yang memelihara siapa? Apakah sastrawan yang menjaga api sastra agar tak padam, ataukah sastra yang menyelamatkan eksistensi para sastrawan?
Sastra: Puncak Bahasa, Tapi Bukan Prioritas
Sastra adalah kesaksian batin sebuah zaman. Melalui puisi, cerpen, novel, dan drama, sastrawan merekam tragedi, harapan, cinta, dan keresahan manusia. Karya mereka tak hanya memberi keindahan, tapi juga membuka kesadaran sosial dan spiritual. Dalam konteks Indonesia, sastra kerap menjadi suara dari yang tak bersuara, entah itu rakyat kecil, kaum tertindas, atau suara-suara hati yang sunyi.
Namun, dalam ekosistem kebudayaan nasional, sastra belum dianggap sebagai pilar utama pembangunan bangsa. Dukungan terhadap penulis dan karya mereka masih minim. Royalti buku yang rendah, honorarium media yang tak sebanding, hingga kurangnya dana pembinaan bagi penulis muda menjadi tantangan nyata. Kita seperti sedang merayakan hasil panen tanpa pernah menyirami ladangnya.
Di sekolah, sastra diajarkan sebagai pelengkap kurikulum. Padahal, jika benar-benar diposisikan sebagai wahana pembentukan karakter, sastra bisa jadi sumber daya strategis. Tapi realitasnya, guru bahasa lebih banyak menguji unsur intrinsik cerpen ketimbang makna kehidupan yang dikandungnya. Mahasiswa sastra pun jarang didorong untuk menulis kreatif, melainkan dituntut menganalisis dengan teori yang tak menyentuh sisi humanistik sastra itu sendiri.
Lebih dari itu, media massa yang dulu menjadi rumah bagi puisi dan cerpen kini semakin jarang menyediakan ruang. Media digital pun lebih condong pada konten viral ketimbang karya literasi yang menuntut perenungan. Akibatnya, ruang-ruang ekspresi sastra semakin menyempit, sementara penulis baru kian sulit menemukan panggung. Bahkan penghargaan sastra pun terkadang lebih menjadi seremoni simbolik daripada keberpihakan yang nyata pada proses kreatif.
Membangun Ekosistem yang Seimbang
Sudah saatnya kita membalik cara pandang: bukan hanya sastrawan yang mengabdi pada sastra, tetapi negara dan masyarakat juga perlu mengabdi pada kelangsungan hidup sastrawan. Ini bukan soal romantisme, melainkan keberlanjutan ekosistem budaya. Negara bisa hadir dengan skema dana abadi kebudayaan yang memberi jaminan finansial bagi para penulis aktif. Pemerintah daerah dapat menyelenggarakan residensi penulis, merangsang karya lokal, dan memperkuat infrastruktur penerbitan yang ramah pada naskah-naskah bernilai.
Kita juga memerlukan kritik sastra yang hidup, media yang konsisten memuat karya kreatif, dan ruang publik yang mempertemukan pembaca dan penulis. Jika ekosistem ini terbangun, sastrawan tak perlu berjuang sendirian. Mereka dapat hidup dari kerja intelektualnya, tanpa kehilangan integritas dan idealisme.
Di sisi lain, sastrawan juga perlu terus memperdalam jalan keilmuannya. Mereka bukan hanya pencipta metafora, tapi juga penjaga nurani zaman. Maka sudah selayaknya karya sastra tidak berhenti pada keindahan bentuk, tetapi menyentuh kedalaman makna. Dalam masyarakat yang kian terpecah oleh informasi cepat dan dangkal, sastra bisa menjadi ruang kontemplasi, tempat manusia kembali mengenali dirinya sendiri.
Sastrawan sejati tahu bahwa menulis bukan sekadar menyusun kata, melainkan membangun makna. Ia menuliskan pengalaman batin dan perenungan hidup yang tak bisa digantikan oleh kecanggihan mesin atau algoritma. Maka menghargai sastrawan adalah menghargai kemanusiaan kita sendiri.
Simbiosis yang Saling Menjaga
Sastra dan sastrawan adalah dua entitas yang tak terpisahkan. Sastrawan menghidupkan bahasa dengan imajinasi, sementara sastra menyelamatkan manusia dari kekeringan rasa. Namun, keduanya tidak bisa terus-menerus berjalan dalam ketimpangan. Jika sastra terus dipelihara oleh sastrawan tanpa dukungan yang adil, maka generasi mendatang akan kehilangan bukan hanya karya, tapi juga para penciptanya.
Kita perlu membangun simbiosis yang saling menjaga. Negara memberi ruang dan jaminan, masyarakat memberi penghargaan yang layak, sementara sastrawan terus menjaga api kebudayaan dengan ketekunan. Dengan begitu, sastra tak hanya akan hidup di rak buku, tetapi di hati, di kebijakan, dan di kesadaran kolektif bangsa ini.***
[1] Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
