MENGUNJUNGI MASA YANG TAK BISA KEMBALI
I
Sebuah buku harian menemani sepi
Menyaksikan hidup yang kumal
Kulihat sekuntum bunga telah mekar
Dari puing amsal yang putus asa
II
Di jendela tua kamarku
Rindu diselimuti kabut kampung halaman
Membeku pada setiap sudut ingatan
Selipkan lara dalam kenangan
III
Aku melangkah pada tempat asing
Menyusur jalan yang tertera pada alamat
Dengan payung yang melindungiku dari kuyup hujan
Kesunyian diramaikan oleh tetabuhan gerimis
IV
Jemariku mengetuk pintu rapuh itu
Kudengar sahut lirih dari wanita paruh baya
Di ruang tamu, pigura mengukir cerita kita
Kini nama-nama hanya tersisa beberapa
V
Aku berjalan dengan udara berat
Menuju taman yang tinggal menyisakan harumnya
Dulu kita pernah berlari-lari tanpa batas disini
Tak pernah berhenti sampai ibu memanggil
Hingga sandekala menjemput
2026
PANTULAN DILEMA
Lampu mati namun tak sepenuhnya gelap
Ada cahaya menyelinap jendela tanpa permisi
Mataku risih melihat lilitan pada stopkontak
Sementara bantal menantiku terlelap
Wangi di kamar tercium akrab
Mencoba bersahabat pada suasana yang resah
Dari rumah sebelah, harum masakan sangat tak ramah
Aku melihat dahaga pada pantulan kaca
Menampakkan raga yang lemah
Keheningan merayapi tembok
Lekas pecah oleh siul burung dari luar
2026
RINDU YANG KESEPIAN
Daun gugur dari dahan oleh ringkih angin
Aku tempatkan diri pada asing dan sepi
Di antara lorong gelap perlahan kudengar jerit kerita
Semacam isyarat jarak yang tak terkira
Di sela hening udara
Terdengar alun kaset lama
Teringat aku pada janji-janji fana
Kita telah menjadi senandung penglipur lara
Wajahku semakin terbenam dalam waktu
Menyimpan rindu yang sangat kumal
Suaraku tercekik mati pada lorong sunyi
Angan dan perlambang memekik diam
2026
ORANG-ORANG ARCA USIA SENJA DI BELAKANG CANDI BOROBUDUR
Ia memukul tatah baja pada gelap malam
Merendamnya sesekali dan mengetuk pelan
Lalu menghapus debu batu begitu khusyuk
Kadang bersila atau duduk pada dingklik
Dengan ikhtiar ia memahat patung dan arca para petinggi
Sampai dongeng bahari
Biarlah jika dahi berlekuk dan uban mengunci
Akan kusambung karya pujangga menjadi permadani
Kini ia membungkuk, tiarap dan takluk
Masih ada jemari mengukir aksara dari suluk
Membuat relief mahkota Dewa
Menatahnya sebagai wasiat untuk sendiri
2026
SETAMAN BUNGA UNTUK KAKEK
Wajahmu adalah embun yang menetap di mata bintang
Seperti doa yang kau tiupkan ke dalam lipatan sarungku
Di tanah ini kau bukan sekedar tua, kau adalah segala asal
Mengajariku cara meletakkan kaki di atas bumi yang kadang angkuh
Sembari melantunkan tembang-tembang dari rahim Jawa
Kau ceritakan perihal para wali
Seolah mereka adalah tetangga yang baru saja pulang dari surau
“Hidup hanya sekali dan ia adalah tamu yang gelisah”
Ucapmu, sesunyi rembulan yang menyelinap di sela-sela bilik bambu
Katamu, sejarah bukan disusun oleh strategi
Melainkan oleh cara kita berdamai dengan imaji dan sunyi
Kau tak pernah benar-benar takut pada maut
Bagimu, ajal hanyalah pintu yang lupa ditutup
Ketakutanmu jika cucumu kehilangan arah
saat mendaki tebing-tebing terjal yang tak bernama
Kini kau telah menjadi bagian dari kenangan
Tak ada lagi suara, hanya deretan huruf di atas nisan
Yang harus kubaca berulang-ulang
Seperti caraku membaca rindu yang tak selesai diketik waktu
2026
PETUAH
Aku menyusuri jalan yang tak lagi dikenali ingatan
Seperti kata yang kau tiupkan ke dalam telingaku
Kali pemukiman adalah gedung-gedung yang mencakar langit
Dan kebisingan yang hadir bukan lagi dari kelepak selendang
Di kota ini, aku lupa dengan kalimat-kalimat
Seperti malam yang kehilangan bulan di langit tembaga
Ia mengandung makna yang diriwayatkan oleh para ternama
Kueja kata seperti anak yang baru bertemu ibunya setelah sekian lama
Disini tak ada lagi sapa hangat dari setiap penduduknya
Kabar pagelaran pun sudah tak terdengar dari girangnya mulut anak-anak
Mereka hanya berlalu lalang menyingkap hari-harinya
Seperti lincahnya sang penari pada pembatas senja
2026
BEKAS KATA-KATA
Suaramu adalah lumut yang menggenangi sawah-sawah
Seperti alga yang tak sekalipun rela meninggalkan permukaan rawa
Di tanah ini kau tak pantas untuk dikenang
Memberi petuah yang terlukis dalam gurat aksara
Karyamu adalah dongeng tidurku sewaktu senja berpamit
“Berkaryalah dengan sederhana, dan cukup lihat kehidupan yang ada”
Katamu, di antara baris-baris bijaksana
Katamu, lestari adalah bangunan yang sudah bosan dengan amsal
Membisu pada setiap sudut ruang yang fana
Dalam mimpi bayangmu tak ingin meninggalkan masa
Seperti ibu yang terpaksa berpisah dengan anaknya ke luar kota
2026
SAJAK BUMI
Wangi kemenyan adalah bayangku yang membekas pada matamu
Seperti kenangan yang menyelinap pada sudut ingatanku
Di pesisir laut, deretan perahu berbaris menunggu waktu hendak dituju
Sementara aku masih termangu dengan angin yang membelai rambutku
Di antara baris orang-orang dengan sesaji di atas kepala
Kita memilih menghembus udara dalam-dalam, dalam diam
Seperti khusyuk yang melekat pada syukur
2026
KESATRIA YANG KESEPIAN
Aku bukan dia yang gagal dalam pertempuran
Namun kau adalah ksatria di dalam sepi
Menerima derita kesunyian dan dosa dalam diam
Jika hari terlalu silau melihat cahaya
Maka cacahlah laraku di sela-sela lubang punggung
Kata-kata tereja serempak degup jantung
Aku bukan dia yang gagal membawa pedang
Namun aku ksatria dalam janji yang dipahat di dinding bumi
Membuat saksi pada langit pikiran
Jika ruang tak cukup untuk menadahkan isyarat hati
Maka datanglah dari khayal kepada hasrat
Sampai kalimat-kalimat akan terkabul
Kala senja tak mampu untuk terbenam
2026
Riwayat Penulis

Aghnia Raisa Nazafarin, bertempat tinggal di Purwokerto, lahir pada 23 April 2009, sedang bersekolah di SMA Takhassus Al-Qur’an Wonosobo, akun medsos aktif adalah instagram, ig : @aghnrsnzfrn
