MAMA
Entah peluh ke berapa
yang luruh di sepanjang aspal
Sembari menggendong bayi merah
menjual sisa tenaga untuk sebotol susu hangat
Kaki terkelupas, tercecer di jalan
tapi punggung tetap teguh
Seolah peluh hanya keluh
Bayi itu sesekali membuka mata
juga tertawa ketika digelitik terik
tak tahu ibunya sedang mendirikan istana
dari rupiah yang dihitung dengan doa
karena di gendongannya ada harapan
yang harus selalu ia bawa pulang
dengan senyum yang ia pinjam—
dari surga.
Pekalongan, 14 April 2026
DENYUT CANTING
Sejak matahari menyentuh pelupuk pagi
Aku telah bersiap menoreh kain
menahan panas dengan tangan sabar
menulis harapan di mori membentang.
Pola-pola menuturkan budi pekerti
Bertumbuh di undak-undak akulturasi.
Dahulu, aku tak mengenal corak
hingga Keraton menyapa hangat pendatang Eropa
Bunga berlomba-lomba mekar
bersama burung gemilang,
Lilin-lilin mulai bernyala
menggandeng motif-motif
yang singgah di pelabuhan.
Dari gurat Encim
Kupinjam degup merak
Dari Buketan, bunga-bunga saling berkelindan
Menoreh keyakinan
Dari Jlamprang yang sukar ditebak
Kutegaskan makna tafsirnya.
Kepada mentari pintu hari,
Aku memulai torehan janji
Menulis ulang karakter bangsaku,
“Dengan lilin panas membara
Berpijar semangat juang
Kutenun jati diri Indonesia”.
Pekalongan, 25 Juli 2026
BISIK SINTREN DARI PESISIR
Gending berdendang merayu malam
bibir Laut Utara menyecap legenda yang tenggelam
Kemenyan melangitkan doa di sela-sela napas Dewi Lanjar
menggumamkan mantra rindu melalui pawang
Syair keramat berulang, laksana ombak tak bosan memeluk pantai
menuntun harum nurani ke Rumah
yang menjamu tamu ramah.
Berpasang-pasang mata mendamba khusyuk
Seluruh Kalisalak bersimpuh bagai kaki lumpuh
memuja waktu agar berhenti di ufuk
Pamiarsa berebut terhanyut
bersama tangan yang mengalir dari ukel Sampur kuning
membawa cerita-cerita yang tak mengenal akhir
Kacamata hitamnya percaya diri,
melawan arus duniawi
Dan tembang menyampaikan petuah
Dalam lantunan syair religi.
Lalu keping demi keping logam menampar fatamorgana
Ambruk—bukan karena rapuh
tapi teringat dawuh Ibu
“Jangan pernah ingin merampas buana
Ia hanya sebatas kurungan—yang singgah
dan kita hanya menari dalam permainannya”
Di setiap bisik pasir Kalisalak
kepada gema Turun Sintren
Aku akan terus memburu napas selendangnya
Meresapi akar-akar petuah
Hingga lalai kehilangan ruang
karena—
Bangsaku tak boleh terbuai
oleh ombak fana Jagat Raya.
Pekalongan, 2 Mei 2026
HANYA KEPADA MALAM
Aku adalah bintang
Hanya kepada malam, berbinar.
Aku adalah bintang
Yang luruh saat fajar datang.
Hanya kepada malam
bintang menghamparkan cahaya
lalu ketika malam meninggalkan cakrawala
tinggallah aku sesenggukan.
Pekalongan, 23 Juli 2026
COKELAT KEMENANGAN
Kusebut cokelat kemenangan
Buah juang dari hari kenangan.
Namun kenangannya justru tertinggal
tak kubawa pulang
Hanya kemenangan—
yang masih tertatih di sepanjang jalan.
Pekalongan, 23 Juli 2026
SEBERAPA AKURAT
Hujan menahanku di gerai pecandu kopi
Menyesap vanilla latte
Menyantap kue coklat dan gulali
Namun lidahku bak merindu—
rasa apa yang kutunggu?
Ternyata di lengkung bibirmu
Jawaban rasa manis itu
Ku lanjutkan latihan matematika
Memecahkan rumus-rumus tiada sukar
seperti sudah akrab dalam benak.
Sayangnya aku masih terheran,
Rumus apa yang Tuhan ciptakan
untuk mendesain paras tampanmu.
Sedang benakku yang lain masih berkelana
di buku sejarah
Meneliti satu persatu ilmuwan
yang jeniusnya tak terkalahkan
dan aku diam-diam membandingkan,
kecerdasanmu bahkan tak melampauinya
tapi mengapa seluruh sumbu otakku hanya berpusat
pada gagasan lugumu.
Aku memilih berhenti mengerjakan tugas-tugas
Agar esok, waktu masih mengizinkanku
menghitung seberapa akurat
lengkung bibirmu melumpuhkan saraf-sarafku
sehingga aku bisa mencipta rumus
cara mengelabuimu
dengan gagasan cintaku.
Pekalongan, 7 April 2026
SENIN MALAM INI
Senin malam ini
berhujan rintik-rintik
membasahi runguku
yang mencari-cari bunyi
bukan langkah serangga
juga bukan dengkur burung
namun dering dari nama
yang sudah lama tak muncul
di telepon genggamku.
Pekalongan, 27 Juli 2026
Riwayat Penulis

Nafilatul Zulfa lahir di Banjarnegara, 25 Agustus 2009. Saat ini, ia merupakan siswi kelas XII MAN 1 Kota Pekalongan yang memiliki ketertarikan pada bidang cipta puisi.
Kecintaannya terhadap puisi mulai tumbuh ketika mengerjakan tugas akhir kelas X berupa antologi puisi yang dibimbing oleh Bapak Najibul Mahbub. Sejak saat itu, ia terus mengembangkan kemampuan dalam merangkai kata dan menuangkan gagasan melalui puisi. Ketekunannya kemudian membawanya meraih Juara 2 FLS3N tingkat Kota pada tahun 2025 dan Juara 3 FLS3N tingkat Provinsi pada tahun 2026.
Dalam proses berkarya, ia memegang prinsip, “Tidak ada proses yang mudah untuk hasil yang indah.” Baginya, setiap kata yang ditulis adalah bagian dari perjalanan untuk terus belajar dan berkembang.
Ke depannya, ia berharap dapat terus bertumbuh dalam dunia kepenulisan, menulis kata demi kata, merangkai puisi, dan terus berkarya tanpa henti.
