Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi Endah Kusumaningrum

Admin by Admin
26 November 2021
1
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

 


RENJANA

 

siapa sangka, dalam tiap diam yang begitu batu

ia selalu bersijingkat

mencoba mendekat dan mengenal tiap jengkal rotasi
hidupnya sendiri

 

seumpama pejalan,

ia belajar mengenal setapak dan jejak-jejak
sehabis hujan

kemudian akrab dengan terik dan gemuruh langit

yang seringkali menghujani matanya sendiri

 

ia selalu 
ingin mendekat dan bicara kepadaku

ambillah mataku

ambil lenganku

ambillah jantungku, yang mendebarkan mimpimu

ambillah tubuhku untuk hidupmu

ambillah, agar ia sempurna

 

jika dunia ini milikku, ambillah

dan jadikan ia milikmu

sampai kita tak perlu lagi berbagi

sebab ada satu bunga yang mengakar di rahimku,
bertunas di dadamu

 

 

Banjarnegara, 2019-2021



 




RENJANA #2

 

ia kerap merupa pejalan linglung yang urung
pulang

 

pada derap langkah kaki telanjang itu

ia kembali menjadi bocah-bocah masa lalu

direngkuhnya dalam terik, mendung, dan angin
musim penghujan; yang dingin, sedikit mengkhawatirkan

 

kadang, ia menjadi pejalan linglung

yang selalu urung pulang

 

sebab, di sebuah lantai paling dasar dalam
hidupnya,

ia telah bertemu alamat rindu

yang menyajikan semangkuk bubur

dengan asap membumbung dan mengepul

 

yang membuatnya berpikir tentang mata yang
bertahan melawan kantuknya

tentang semangkuk bubur ia santap

dengan lahap hingga tandas sampai ceruk
mangkuknya

ada niat yang mengalahkan setumpuk keluh

ada hati yang begitu hangat meracik

yang mengajarkannya bagaimana caranya menawar
harga lapar

 

 

Banjarnegara, 2019-2021







DERSIK

 

Bung,

kembang ilalang tidaklah bisu

mereka nembang bernada sendu

 

seorang bocah kecil telanjang kaki, berlari

mengejar matahari yang selalu singgah di timur
punggungnya

 

hari ini gerimis mengantarnya pada purnama
ke-sekian

hingga ia sibuk sekali menata debar sendiri

tak beratur, gugup dan riuh berbaur

tetapi rindu, baginya, selalu menang lebih dulu

dan setiap perjalanan, selalu berumah pada pulang

 

 

Banjarnegara, 2019-2021



 




BERGERIMIS

 

seperti pintamu, gerimis adalah aku

 

jika aku adalah gerimis

aku lebih memilih jatuh pada pelipismu

membelai-belai kelopak matamu dengan kedalaman
telaganya

 

jika aku adalah gerimis,

aku adalah airmata pertanda puncak sukacita milik
semesta

bermuara pada biru. gerimis yang mengeja namamu

 

jika aku adalah gerimis,

aku ingin kau jadi matahari

biar kita dapat lahirkan pelangi

menyesaki segala dada dengan bahagia

 

jika aku adalah gerimis dan kau mataharinya,

cahaya seketika saja meruang

menggugurkan mendung di degub-degub jantung

 

aku adalah gerimis,

yang merintik sebagai titik

yang luluh sebagai detik, selalu saja,

menyertaimu pada segala dimensi waktu

 

 

Satu Atap, 2021



 




KIDUNG ASMARADHANA

—kepada Mehrunisa Nailaka

 

Mehrunisa, putriku yang ayu

di tiap degup dalam dadamu

ada ribuan doa yang tersemat tak habis-habisnya

berjalin pada tiap ingatan waktu

 

Mehrunisa, yang karenanya kakiku tetap kukuh
berpijak

meski sepetak malam terselip di bias wajah kita

Engkau tetaplah rumah

tempat paling nyaman

ke mana aku selalu pulang

merebahkan tiap kenang dan rindu yang begitu
piatu

 

Mehrunisa, yang di matanya melengkung indah
pelangi

akan aku ceritakan kisah paling puisi padamu

tentang malaikat yang mengantarmu sampai di bumi

dan cinta yang dititipkan padanya lewat semesta

tanpa habis-habisnya

 

Malaikat itu tanpa cela,

ia alirkan kasihnya padaku dan padamu

tanpa mengenal syarat

 

rekah senyumnya selalu mampu hapuskan air  yang diamdiam turun  dari mata

hangat dekapnya mampu meninabobokkan hari yang
letih dan begitu rusuh

lembut kecupnya selalu mampu  memberi jawaban untuk apa kita dilahirkan

 

Mehrunisa, 

padamu aku bisa melihat wujudnya yang paling utuh
dan sempurna

 

 

Purwokerto, Oktober  2021



 

 



Mawar-Mawar di Pusara

                                –Hevin
Faharisa

 

menabur mawar di pusaramu, sahabatku
pada tiap kelopaknya yang
layu, tak terlewat kusemat berpilin rindu

: tentang renyah tawa dan
ganjilnya selisih

tentang pahitnya duka dan indahnya kasih

 

semoga Al Fatihah-ku nuju ke kalbumu.

 

 

Purwokerto, Oktober 2021



 




PARODI

 

di antara pohon angsana menjulang

seorang gadis kecil nyempil, bersembunyi
dari kawan-kawan bermain

wajahnya tirus kausnya kumal jalannya
berjingkat-jingkat

serupa kelinci datangnya sembunyisembunyi

 

sekawanan semut di pohon angsana sibuk berdiskusi

mencium wangi gulagula di saku celana

di pohon satu lagi rangrang sendiri merangkak
cepatcepat

sembunyisembunyi

 

ketemu!

teriak seorang bocah ompong nyengir kesenangan

pongah bocahbocah mencubiti hati

tapi bocah kecil ternyata rangrang

ia sendiri berani meradang

 

digigitinya hati bocahbocah pongah

ternyata hatinya hitam, tertutup warna

ah, siasia!

 

gadis kecil di antara pohon angsana

melangkah gentar melihat dunia

serba malam

sialan!

 

 

Purwokerto, 2020



 




AKU TIDUR DI BALIK LEMBAR-LEMBAR BUKU

 

aku adalah anak kampung

tempat mainku adalah sawah dan ladang

bapak-ibuku berangkat kerja tanpa dasi dan sepatu
hak tinggi

tapi cita-citaku

menuntut ilmu sampai ke negeri tirai bambu

 

aku adalah anak kampung

sekelilingku adalah rumputan, pohonan, dan
derasnya arus kali

tapi harapanku mengalir

untuk sekolah yang tinggi

 

kampung 
halamaku memang jauh dari riuhnya kota

tapi di sana, halaman-halaman buku terus dibaca

 

kalau malam datang,

aku akan tidur nyenyak

di bawah temaram cahaya

di balik lembar buku-buku

yang berkisah tentang masa lalu

yang diceritakan ibu dan bapakku

 

 

Rumah Kreatif Wadas Kelir, 2018-2021






Tentang Penulis


Endah Kusumaningrum, lahir di Banyumas, 05 Juni 1994. Beralamat di Kecila RT 02 RW 02, Kemranjen, Banyumas, Jawa Tengah. Aktif menulis sejak bergabung di Rumah Kreatif Wadas Kelir, Purwokerto. Menerbitkan karya-karyanya berupa dongeng, artikel, puisi, dan cerpen di berbagai lini media massa. Saat ini aktif sebagai pengajar di UIN Saizu.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In