Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi-puisi Ardhi Ridwansyah

Admin by Admin
18 September 2022
0
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

WAKTU SUBUH

 

Jelang
pagi aku mengingat-Mu,

Sebagai
azan subuh mengetuk dada rapuh,

Bangkitkan
jiwa dari nyaman dunia fana

Lekas
membasuh wajah hingga kaki,

Mengalir
bersama doa bertebaran,

Dari
mulut yang beku.

 

Sajadah
terbentang,

Songkok
dan koko pemberian ibu,

Merekat
di badan yang kukuh,

Lantas
takbir terucap; hanya tertuju pada-Mu,

 

Rukuk
dan sujud,

Rasa
syukur atas rahmat dalam setiap napasku,

Mata
berdebu dengan dosa,

Memohon
ampun lantunkan doa-doa.

Air
mata berguguran.

 

Jakarta, 2022

RESAH AYAH IBU

 

Tubuh
layu gairah berguguran,

Menatap
waktu, mata membeku,

Mentari
pagi hangat membelai kening,

Usai
jendela terbuka udara sejuk,

Merasuk
mengusir jenuh di kepala.

 

Rintihan
ibu; suara merdu penebas rindu,

Ayah
termenung melihat anaknya menanam sendu,

Rambut
memutih melambai-lambai,

Tertiup
lirih angin seolah salam perpisahan.

 

Detak
jantung bernyanyi sedih,

Selang
infus menancap erat di tangan,

Bersamaan
ibu dan ayah menyentuh,

Penuh
kasih sayang.

 

Bibir
menebar doa,

Sepasang
mata memupuk harap,

Agar
sehat lekas masuk ke dalam diri,

Yang
mematung di ranjang rumah sakit.

 

Jakarta, 2022

MENGINGATMU

 

Sinar
mentari menerobos masuk,

Ke
relung jiwa beku mencair segala keluh,

Terserak
menjadi kata-kata dalam puisi,

Bermandikan
air mata dan peluh.

 

Tuhan,
semesta adalah pena yang nyata,

Belajar
darinya melihat diri sebagai fana,

Tiada
keagungan tanpa pengorbanan.

 

Siang
malam mengingat-Mu,

Kala
mata melihat senja dan terdengar azan,

Dari
pelantang masjid yang terkepung,

Gedung
penantang langit.

 

Riuh
jalan tanda kesibukan manusia,

Hilir
mudik ke tempat tujuan bukan kematian,

Tetapi
penderitaan jadi rangkaian hidup,

Tak
berkesudahan hingga ajal menjemput,

Dengan
wajah gemilang.

 

Jakarta, 2022

 




PULANG

 

Aku
pulang ke rumah-Mu,

Tak
berbusana namun bernoda dosa,

Kuserahkan
jiwa terhadap Yang Kuasa,

Sucikan
dari najis yang melekat,

Pada
wajah keriput.

 

Kilau
cahaya menusuk mata,

Mengisi
kelam pandang dengan rindu,

Meruak
mawar bermekaran dalam kepala sendu,

Melilit
benci, menikam caci,

Menuai
asa,

Dalam
darah mengalir gairah.

 

Jakarta, 2022

 




MAWAR UNTUK
IBLIS

 

Mawar
berlumur darah

Ketika
tubuh berdebu menahan sakit

Dihunjam
maki dan dengki

Melangkah
dengan tertatih

Menuju
neraka; singgasana para iblis

Penebar
benci dalam dada yang sakit.

 

Duri
menusuk jantung dan hati yang melepuh,

Api
membakar segala nyeri,

Menjadi
abu kesedihan.

 

Mata
merah penuh marah

Genggam
dendam

Jerit
tangis menuai pilu

Iblis
tertawa pamer tanduk dan gigi runcingnya,

Membentangkan
sayap merangkul dosa umat manusia

Mendekap
jiwa-jiwa sakit, menerkam cinta tanpa asa

Menjadi
tulang belulang.

 

Jakarta, 2022

 




KOPI TANPA SENJA

 

Kopi
tanpa senja

Hanya
sepi membiak tak keruan

Dalam
kelam kepahitan

Membekas
di lidah kelu

 

Menyisakan
rindu tak bertepi

Merintih
jiwa, memasung kasih

Yang
tertanam dalam hati.

 

Terngiang
di jemala canda menuai candu,

Suara
tawamu; anak-anak yang asyik menikmati gulali,

Sembari
bermain di taman mimpi

Membunuh
sepi, menyala api gairah diri

Aku
pergi, senja mati,

 

Jakarta, 2022

 




HILANG

 

Ada
yang hilang pada tubuh pena

Bukan
tinta mungkin cinta

Kata-kata
menyendiri berkawan sepi

Kertas
putih tak lagi suci

Ternoda
oleh caci yang bergumul di hati.

 

Jakarta, 2022

 




BARA ASMARA

 

Izinkan
aku mencabikmu malam ini

Bak
serigala lapar menerkam sang merak

Mengoyak
bulu-bulu indahnya

Mengalir
darah menyantap kenyang

 

Jangan
berontak! Biarkan jemariku

Berperan
pada ragamu yang layu

Menikam
resah menuai desah.

 

Sebab
kecup mesra

Bibir
ranum itu terbakar

Menghitam
sendu di kelopak mata

Bara
asmara bergelora.

 

Jakarta, 2022

Tentang Penulis


Ardhi
Ridwansyah

kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998.  Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di
buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Termasuk
115 karya terbaik dalam Lomba Cipta Puisi Bengkel Deklamasi 2021. Puisinya juga
dimuat di media seperti labrak.co, litera.co.id,  kawaca.com, balipolitika.com, galeribukujakarta.com, Majalah
Kuntum, Majalah Elipsis, Radar Cirebon, Radar Malang, koran Minggu Pagi, 
Harian Bhirawa, Dinamika News, Harian Fajar, koran Pos Bali, Riau Pos, Suara
Merdeka, Radar Malang,  Radar Madiun,
Radar Banyuwangi, Radar Kediri, Nusa Bali, 
Suara Sarawak (Malaysia), koran Merapi, Pontianak Post, Harian Waspada,
dan Media Indonesia. Instagram: @ardhigidaw. WhatsApp: 087819823958

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In