(Abdul Wachid B.S.)
Dalam kehidupan kultural anak muda hari ini, film tidak lagi sekadar tontonan, melainkan teks visual yang membentuk cara pandang, kepekaan, dan nilai-nilai moral mereka. Di tengah derasnya arus media digital, pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan literasi visual dan sastra melalui alih wahana menjadi semakin relevan. Festival Film Pelajar Purbalingga (FFPP) menghadirkan satu model yang layak dicermati: pelajar tidak hanya menonton film, tapi juga membuat, menafsir, dan mendiskusikannya secara reflektif.
Menonton sebagai Aktivitas Kultural
Menonton film sering dipandang sebagai aktivitas pasif, sekadar hiburan. Namun dalam perspektif pendidikan budaya, menonton justru bisa menjadi pengalaman yang membentuk cara berpikir dan empati sosial. Menonton, meski reseptif, bisa bersifat interpretatif dan produktif. Di sinilah pentingnya pendekatan usia dalam budaya menonton: bukan untuk membatasi, tetapi mengarahkan pengalaman itu agar sesuai dengan perkembangan anak muda.
Di FFPP, film bukan hanya tontonan, tapi titik tolak percakapan budaya. Pelajar diajak membuat film pendek, merekam kehidupan lokal, menyusun narasi, dan mengemas pesan. Mereka menulis skenario, menyutradarai adegan, memikirkan tata cahaya, dan menyusun musik. Ini bukan sekadar teknis, melainkan proses membangun literasi budaya sekaligus mengembangkan kepekaan dan kreativitas. Film pelajar berjudul “Limbah” misalnya, mengangkat kesadaran lingkungan di desa pinggiran. Film lain, “Sesajen”, menggambarkan konflik keyakinan dan kebiasaan masyarakat lokal dalam menyikapi kematian. Semuanya lahir dari pergulatan pelajar terhadap realitas sekitar mereka.
Literasi Visual: Kemampuan Membaca Gambar dan Simbol
Anak muda hari ini adalah visual native, lahir dan tumbuh dalam budaya gambar. Namun, kedekatan dengan gambar tak selalu sebanding dengan kemampuan membacanya. Literasi visual bukan sekadar mengenali objek, tetapi memahami simbol, sudut pandang, komposisi, serta pesan tersembunyi di balik gambar. Dalam banyak kasus, generasi muda lebih akrab dengan scrolling daripada decoding gambar.
Sebagaimana puisi, film pun memiliki “bahasa”: struktur, ritme, simbol, dan metafora. Sayangnya, belum banyak sekolah yang mengajarkan cara membaca film seperti kita membaca teks sastra. Padahal kemampuan ini penting untuk membentuk pelajar yang kritis dan tidak mudah terseret oleh narasi dominan media.
Alih wahana karya sastra ke film, misalnya cerpen menjadi film pendek, dapat menjadi jembatan pedagogis yang efektif. Ketika pelajar diminta memvisualkan cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis, misalnya, mereka tidak hanya memahami cerita secara literal, tapi juga menggali isu sosial-politik, kegelisahan eksistensial, dan ironi keagamaan dalam bentuk visual yang hidup. Mereka harus memikirkan: bagaimana suasana dibentuk cahaya, bagaimana emosi dibangun ekspresi wajah atau musik. Ini membuat mereka sadar bahwa segala bentuk ekspresi budaya punya lapisan makna.
Menonton Secara Reflektif: Peran Sekolah dan Komunitas
Pembelajaran sastra dan budaya sebaiknya tidak hanya mengandalkan teks cetak. Sekolah dan komunitas seperti FFPP menunjukkan bahwa menonton secara reflektif dapat menjadi strategi pendidikan karakter yang kuat. Menonton bersama, diikuti diskusi terbuka, adalah cara memperkenalkan nilai tanpa menggurui. Dalam forum semacam ini, pelajar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga kritikus dan pemakna.
Diskusi film pasca-penayangan menghidupkan ruang dialog antar pengalaman. Pelajar bisa berbagi tafsir terhadap sebuah film, menyandingkan cerita dalam film dengan kehidupan sehari-hari mereka. Mereka belajar bahwa satu cerita bisa ditafsirkan berbeda tergantung pengalaman dan latar belakang penonton. Ini pelajaran penting dalam demokrasi kultural: mendengar, menafsir, dan memahami perbedaan.
Klasifikasi Usia: Panduan, Bukan Larangan
Klasifikasi usia sering dianggap bentuk pelarangan. Padahal, ia semacam penunjuk arah: membantu memilih tontonan yang sesuai perkembangan psikologis dan sosial anak. Menonton sesuai usia bukan membatasi kreativitas, tapi memastikan pengalaman kultural tidak melampaui kesiapan mereka.
Film dengan kekerasan, seksualitas, atau isu dewasa bukan tontonan yang salah, tapi perlu konteks usia dan pendampingan. Dalam budaya literasi visual yang sehat, klasifikasi usia bukan tembok pemisah, melainkan jendela pengantar. Ini bisa disisipkan dalam pembelajaran PPKn, Bimbingan Konseling, atau Pendidikan Agama, tanpa harus bersikap represif.
Tantangan Era Digital: Konten Tanpa Sensor
Tantangan besar hari ini adalah banyak konten digital tidak melalui sensor. Platform seperti YouTube, TikTok, atau OTT menyediakan ribuan tontonan tanpa klasifikasi yang efektif. Di sinilah pentingnya pendidikan literasi visual di sekolah.
Sensor atau pemblokiran saja tak cukup. Yang lebih penting adalah membentuk kesadaran dan tanggung jawab menonton. Sekolah perlu merancang kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler yang menumbuhkan keterampilan menonton: mengenali genre, menyaring pesan, membedakan fakta dan opini, hingga mempertanyakan bias narasi. Ini bisa dikolaborasikan dengan guru Bahasa Indonesia, Sosiologi, dan Seni Budaya.
Kekuatan Lokal: Nilai-Nilai Daerah dalam Film Pelajar
Banyak film pelajar dari FFPP mengangkat kearifan lokal: tradisi desa, bahasa ibu, relasi sosial, hingga konflik moral khas daerah. Ini kekayaan yang tak ternilai. Namun dalam sistem sensor yang normatif atau Jawa-sentris, nilai lokal ini bisa disalahpahami sebagai penyimpangan atau kekumuhan. Padahal, di dalamnya ada kebenaran budaya yang hidup dan penuh nuansa.
Sensor film ke depan perlu lebih empatik dan kontekstual: peka terhadap keragaman budaya Indonesia. Pelibatan komunitas lokal, sastrawan daerah, dan akademisi dalam proses klasifikasi bisa menjadi jalan tengah yang adil. Film pelajar bukan sekadar latihan teknis, tetapi refleksi kultural anak muda terhadap lingkungannya. Mereka tidak sedang meniru sinema komersial, tapi sedang menyuarakan suara yang jarang terdengar.
Penutup: Menonton sebagai Aktivitas Mendidik Diri
Menonton film tidak boleh dianggap kegiatan sia-sia. Ia bisa menjadi pengalaman mendidik, jika dilakukan secara sadar, sesuai usia, dan dibingkai dalam literasi visual yang memadai. Sekolah dan komunitas film pelajar berperan penting membentuk generasi yang tak hanya mahir menonton, tetapi juga mampu membaca dan menafsirkan dunia melalui bahasa gambar.
Alih wahana sastra ke film adalah satu jalan indah menuju itu. Ketika pelajar membaca puisi lalu mengubahnya menjadi gambar bergerak, mereka tak sekadar mengadaptasi. Mereka sedang belajar memahami, menginterpretasi, dan menanamkan nilai ke dalam medium yang hidup. Dari sana, pendidikan sastra menjelma menjadi pendidikan kultural yang utuh dan relevan.***
Tentang Penulis

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Magister Humaniora Sastra Indonesia UGM, jadi dosen-negeri di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, dan lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (15/1/2019), dan telah menjadi Guru Besar di Bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. Buku terbaru karyanya: Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus, Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), dan, Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2024), Kumpulan Sajak Kisah untuk Anak Cucu (2025).
