Api dan Hujan
Sebagian orang, hujan adalah titik tolak
untuk kembali ke rahim rumah
Yang entah parah atau ramah
tetap saja tempat berserah
Merebahkan sejenak geliat mimpi
atau merubah arah berdikari
Tapi sepasang kekasih
Memilih melawan hujan
dengan tangan sehampa segumpal moral sebagian dewan-dewan
Api membara di antara sepasang cinta
Lebih menyala sewaktu hujan terjaga
dan tetesnya melintasi ruang sunyi antara teduh dua bola mata
Purwokerto, 2025
Tentang Strawberry
Kau bertanya:
“Mengapa aku?”
Aku bertanya:
“Mengapa strawberry?”
Kau aku terperangkap sunyi
di hadapan sekresek strawberry
yang seolah-olah geli
Purbalingga, 2025
Di Pangkuan Bambu
Putih kabut mengecup hitam aspal
Hujan terlampau tanggal
Di lereng gunung, sebutir kasih menggelinding
Kau Aku di pangkuan bambu
yang menguning membuntuti waktu
Sedang mereka di pangkuan sofa
mengurus negara seraya leha-leha
Sementara Ia tak pernah berpangku
hanyalah memangku
Secangkir kopi menggigil
Sepotong hati terpanggil
Sepotongnya lagi tak ingin cepat berakhir
Purbalingga, 2025
Berpayung Selembar Kain
Dihantui padam lampu jalan
Malam membentang lebih sekadar pekat
Amuk geluduk membanting
setiap tawa riang dan melengking
Hujan sederas tangis ibu
sewaktu hatinya mendadak kelabu
Berpayung selembar kain
Kita tak perlu khawatir
Selama doa masih berkibar
Tuhan senantiasa berkabar
Bahkan saat doa-doa terlampau hangus terbakar
Purwokerto, 2025
Soal Sial Siul
Soalnya mata dicipta untuk membaca
Syukur menuai makna
meski belum “sampai ke putih tulang”
Itu kata Chairil
Sialnya mata ini berkali-kali tergelincir
saat membaca alismu bak bulan di hari kelima
dan berujung jatuh tertimpa senyummu pula
Siulnya burung di pucuk pohon
Adalah caranya memuja
Adalah doa untuk semesta
Nah Kita kejatah juga, semestinya.
Purwokerto, 2025
RIWAYAT PENYAIR
Fajrul Alam, menulis puisi, cerita, dan esai. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (Jejak Pustaka: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_
