Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Cerpen

Tuhan Maha Ada-Ada Saja (Cerpen Tania Rahayu)

Admin by Admin
18 November 2025
0
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

Tuhan Sungguh Maha Ada-ada saja. Tiga kali gagal berpacaran, enam kali cinta bertepuk sebelah tangan, sekarang saat akhirnya aku mendapatkan suami yang mencintaiku sepenuh hati, memberikan segala yang ia punya, selalu merencanakan hal menyenangkan untuk percintaan kami justru kami harus berhubungan jarak jauh. Jika kami ingin saling berciuman, kami hanya bisa mengecup gawai. Semua ini karena kami hidup di Indonesia. Jika suamiku tetap berada di sisiku, katanya ia tak bisa mewujudkan semua impian kami.  

Tapi bagaimanapun juga, ini membuat aku lebih bisa mengendalikan diri. Aku masih bisa berkonsentrasi mengajar, membaca buku, menulis, melukis, dan hal-hal menyenangkan lainnya seperti saat aku masih gadis. Konon kata ibu, keluarga kami mandhi atau mudah memiliki keturunan. Jika Mas Wicak, suamiku tetap ada disampingku, mungkin anakku sudah duabelas.   

Dua tahun pernikahanku dengan Mas Wicak, Tuhan menganugerahkan kami seorang putri yang kami namai Rimbun. Kini Rimbun berusia lima belas tahun. Beruntungnya aku, meski harus berjarak jauh dengan suami, anakku Rimbun memiliki ketertarikan yang besar dengan seni dan perkebunan seperti aku. Kami seringkali melakukan hal-hal yang kami gemari bersama. Sehingga aku tak pernah merasa bosan. 

Pagi ini setelah mengantar Rimbun ke sekolah, aku seperti biasa menuju kampus tempatku mengajar. Aku akan mengunjungi perpustakaan sebentar untuk mengembalikan beberapa buku yang kupinjam di perpustakaan. Aku melangkah ke sebuah bangunan penting yang membuat aku kini menjadi seorang doktor. Tempat yang membuat siapapun yang datang kesana akan merasa bodoh. Tempat yang aku selalu herankan karena entah kenapa tempat ini tidak bisa seramai kedai kopi yang biasa digunakan untuk berdiskusi. Kenapa tempat ini jarang mendapatkan bantuan dan perhatian pemerintah, padahal tempat ini adalah tempat yang sangat menguntungkan.  

Lucunya tiap kali aku hadir ke tempat ini, aku seperti memutar waktu saat dulu aku masih menjadi mahasiswa, aku sering berkeliling dan belajar disini bersama seorang sahabat baik bernama Adi. Sahabat yang kini justru seperti tak lagi saling mengenali tersebab cinta tumbuh dalam hati salah satu dari kami. Ya. Aku jatuh cinta padanya waktu itu. 

Tangga berbelok di pintu masuk, mengingatkanku kepada Adi yang selalu terkejut saat aku diam berdiri di kelokan tangga menantinya datang dan seketika berucap “Pagi, Di,” Loker-loker di samping koridor auditorium mengingatkan aku pada kejahilan Adi menaruh sketsa wajah hantu dalam lokerku, serta akuarium berukuran besar yang bertengger di sebelah meja resepsionis peminjaman buku yang semula berukuran kecil, selalu mengingatkan aku pada ikan cupang yang aku dan Adi dulu titipkan pada Pak Bimo, petugas peminjaman buku.  

Bagiku semua sudut tempat ini adalah kenangan indah antara aku dan Adi dulu. Di tempat ini aku menyumpahi Adi, bahwa suatu saat nanti berkat buku-buku ini Adi akan menjadi seorang bupati. Tapi kenangan indah yang muncul di kepalaku saat melangkah ke perpustakaan ini juga mengingatkan aku betapa menyakitkannya menjadi seorang perempuan yang menurunkan segala gengsinya mengungkapkan rasa cinta lalu diabaikan begitu saja. Seketika aku mengenang-ngenang. Seketika kemudian aku menggeleng kepala menghapus semua yang muncul di kepalaku dan mengingat wajah tampan Mas Wicak.  

Aku menyusuri rak-rak perpustakaan. Bau kertas lembab bercampur debu yang menenangkan itu seakan menerjemahkan ulang masa mudaku. Tanganku berhenti pada sebuah buku dengan sampul kusam: Filsafat Politik Modern. Buku itu, justru buku itu, yang dulu kerap kami rebutkan saat masih mahasiswa. Aku tersenyum kecil. Betapa menyedihkannya bahwa manusia bisa begitu mudah jatuh cinta hanya karena berbagi sebuah bab tentang kebebasan. 

Saat aku membalik halaman depannya, sebuah bayangan duduk di kursi panjang sampingku. Aku tak perlu menoleh untuk tahu siapa dia. Aroma parfumnya tak berubah sejak dua puluh tahun lalu. Paduan kayu manis dan kopi hitam yang terlalu manis. 

“Pagi, Yu.” 

Nada itu. Tenangnya. Nyaris membuatku lupa bahwa dulu ia adalah orang yang paling mahir membuatku menunggu. Aku menutup buku perlahan.  

“Pagi, Di.” 

Adi menatapku lekat-lekat, seakan waktulah yang harus mengaku kalah karena tak mampu menghapusku dari kepalanya. Ia tersenyum, tapi senyum itu seperti seseorang yang baru kehilangan sesuatu yang sejak lama ia kira akan tetap menunggunya. 

“Kenapa tidak dengan lelaki intelek metropolitan seperti yang kamu dambakan dahulu?” tanyanya tanpa basa-basi.  

“Kau akan bisa didukung menjadi doktor, bahkan profesor, Yu. Bukankah di sini banyak dosen-dosen keren? Kenapa harus memilih lelaki yang kerja jauh ke negeri orang?” 

Aku terkekeh pelan. “Kau masih ingat semua ambisiku rupanya.” 

“Tentu,” ia menjawab. “Kau pikir aku lupa?” 

Aku menatap jendela besar perpustakaan yang penuh goresan tangan mahasiswa.

“Sedari awal dia melamarku, Wicak selalu mengusahakan yang terbaik. Dia melihat banyak detail dalam hidupku. Baginya, jangankan jadi profesor. Mungkin kalau aku ingin jadi presiden pun, dia akan mendukung. Karena dia sangat mencintaiku.” 

Adi mengembuskan napas lama, seperti seseorang yang menertawakan nasib. “Dan itu alasanmu?” 

“Jika aku menikah dengan dosen-dosen di sini,” kataku, menatapnya lurus, “aku hanya akan melihat suami yang pekerjaannya bukan hanya mengajar—tapi gajinya bahkan tak cukup untuk membayar dia sendiri sebagai pengajar. Terlebih jika dosen-dosen itu menikahiku karena aku juga dosen dengan nasib bagus.” 

Adi menunduk. Aku tahu kalimat itu menghantamnya, meski aku tak pernah berniat menghinanya. 

“Di,” kataku lebih pelan, “Kamu baik. Tapi kamu terlalu sering melewatkanku.” 

Ia menggigit bibirnya. “Aku bodoh, ya.” 

“Tidak. Hanya… selalu terlambat.” 

Keheningan jatuh di antara kami, seperti debu yang akhirnya memilih di mana ia akan menetap. 

“Bagiku,” lanjutku, “lebih baik Wicak melakukan semua usahanya untuk menjadikan aku seorang doktor, dan aku bergelimang cinta sekalipun ia harus pergi ke Jepang, dibanding seorang yang bisa jadi profesor tapi membuatku tidak menjadi diri sendiri.” 

Aku menutup buku itu. “Seandainya aku gagal jadi doktor pun, aku tidak menyesal. Karena aku tidak gagal jatuh cinta kali ini.” 

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Adi tampak tua. Matanya meredup. Ia mengangguk kecil lalu berdiri, seperti seseorang yang akhirnya berani menyerah pada sesuatu yang tak pernah benar-benar ia genggam. 

“Aku harap kau bahagia, Yu.” 

“Aku memang bahagia, Di.” Ia tersenyum getir, dan pergi. 

Untuk pertama kalinya sejak dua puluh tahun lalu, aku merasa lega. Sungguh lega. Aku tak ingin menemuinya lagi. Tak ingin bertemu kenangan itu lagi. Aku berjalan keluar perpustakaan dengan langkah ringan, hati terasa lapang. 

Tapi Tuhan, seperti biasa, memang Maha Ada-ada saja.  Setelah percakapan itu, aku berjalan keluar perpustakaan dengan hati yang akhirnya selesai. Aku yakin tak akan bertemu Adi lagi. Tidak perlu. Tidak penting. 

Hari demi hari kembali normal. Mengajar. Menulis. Menyiram tanaman. Mengantar Rimbun. Hidupku tenang tanpa bayang-bayang masa lalu. Hingga Rimbun kuliah. 

Di hari pertama, ia pulang dengan mata berbinar. 
“Bu… aku ketemu temen satu jurusan. Namanya Reno.” Beberapa bulan kemudian, Rimbun dan Reno makin dekat. Lalu tiga tahun berlalu, dan Reno datang melamar dengan wajah penuh harap. 

“Ibu, saya ingin menikahi Rimbun.” 

Aku mengangguk. “Baik. Tapi Ibu ingin bertemu orang tuamu.” 

Hari itu datang. Pintu rumah dibuka. Di sana berdiri seseorang yang justru tidak ingin kutemui lagi. 

“Assalamualaikum…” 
Adi masuk bersama istrinya. Di belakangnya, Reno tersenyum gugup. Aku terpaku. Bukan sedih, lebih seperti menertawakan nasib yang memutar jalan terlalu jauh hanya untuk mempertemukan kami lagi. Adi tersenyum kecil.  

“Yu… ternyata kita akan jadi keluarga.” 

Aku menarik napas pelan. “Tuhan memang Maha Ada-ada saja,” 

Tentang Penulis

TANIA RAHAYU, mahasiswi semester 6 Komunikasi dan Penyiaran Islam kelas B meraih Juara I Lomba Cipta dan Baca Puisi Tingkat Nasional, yang diselenggarakan oleh  UIN Sultan Thoha Saifuddin (UIN STS) Jambi, dan meraih Gold Medal dalam SEIBA International Festival di UIN Imam Bonjol Padang, tahun 2024. Tania Rahayu adalah anggota Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban di dalam Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In