Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Cerpen

KRUNIL

Admin by Admin
26 Januari 2026
0
KRUNIL
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

RESTU KURNIAWAN

Masih teringat jelas di pikiran, ketika 7 tahun lalu bapak menanam pohon itu persis di depan rumah yang berjejer langsung dengan jalan. Pohon mangga kecil berukuran 152 cm dengan sebagian daun berwarna hijau muda. Sambil terus membuat lubang tanam, bapak memandang wajahku. Kemudian mengangkat dan memasukkan pohon kecil itu ke dalam tanah. “Kelak, dia akan menjadi guru bagimu, Le”, ucap bapak sambil menepuk-nepuk tanah gundukan di sekeliling pohon mangga kecil itu. Aku hanya bisa mengangguk.

Usiaku terus bertambah, pohon mangga bapak terus bertumbuh besar sejak 20 tahun lalu. Sediki bisa memahami bahwa satu kali musim panen, sejak berbunga sampai terjadinya penyerbukan dan berbuah membutuhkan waktu yang tidak sebentar, setidaknya 3 sampai 5 bulan hingga buah matang. Masyarakat kampung kami meyakini di bulan oktober hingga desember, mangga masuk musim panen. Aturan itu tidak berlaku pada pohon mangga bapak, mulai dari 4 tahun setelah ditanam, ia mulai menunjukkan keanehan. Tidak seperti pohon mangga pada umumnya, berbuah hanya pada saat datang musimnya saja. Pohon mangga bapak bisa berbuah terus-menerus tanpa jeda. Tak kenal waktu. 

Aku selalu ingat, ketika keluar rumah saat pagi, selalu kutemukan krunil–mangga kecil sebesar kelereng terlihat di balik dedaunan rimbun, kadang juga di sela buah mangga lainnya yang mulai menguning. Itu terjadi setiap hari. Tak kenal waktu.

Saat itu, awalnya aku menganggap apa yang terjadi hanya sebagai kejadian biasa. Kejadian kecil sebagai berkah kesungguhan bapak merawat pohon mangga itu. Tapi sepertinya tidak untuk para tetangga rumah yang diam-diam mengamati pertumbuhan ajaib pohon mangga bapak. Kasuk-kusuk mereka semakin santer sampai ke telinga orang-orang kampung sebelah. Dengan alasan sowan ketemu bapak, sepulangnya orang-orang sibuk berburu krunil, kemudian dengan khusyu menuliskan nama mereka dan hajatnya di kulit berwarna hijau muda. 

Entah siapa yang memulai kebiasaan ini, mereka meyakini setiap nama yang ditulis pada krunil hajat dan harapannya akan terkabul.

Memang pernah suatu hari seorang ibu menuliskan nama anaknya yang demam. Empat hari setelah itu anaknya sehat, kembali bergas. Ada juga lelaki paruh baya yang bercita-cita anaknya segera punya kerja. Satu bulan setelah nama anaknya ditulis pada kulit muda krunil anaknya diterima sebagai pegawai negeri sipil di ibu kota. Setelah beberapa kejadian unik itu, orang-orang dari berbagai tempat banyak berdatangan, berdoa dan menaruh harapan di pohon mangga bapak. Tak kenal waktu.

Yang datang semakin beragam. Tidak ada waktu sepi, mereka bisa datang siang hari bolong, waktu petang, dan ada juga yang datang tengah malam lalu diam-diam menuliskan nama pada kulit hijau muda krunil yang sewaktu-waktu bisa muncul secara ajaib. 

Bapak hanya tersenyum melihat tingkah polah orang-orang itu. Lalu memandang mataku tajam.

“Kita tidak boleh mengganggu orang yang datang membawa pangarep-arep, Le”. Aku mengangguk sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar. Menatapi langit-langit kamar yang dipenuhi lamat. 

Setelah sekian lama, akhirnya pohon mangga bapak menjadi rumah ziarah kecil. Sering kali malam hari terdengar orang-orang nggremeng merapalkan doa-doa dan mantra di bawah rindangnya pohon itu. Ada yang hanya duduk-duduk santai. Ada juga yang membawa bunga, lalu disebar di sekitar pohon sebelum menuliskan nama pada kulit muda krunil. Beberapa warga menetapkan diri menjadi kuncen, memandu setiap tamu yang datang. Kendaraan motor dan mobil plat luar kota ramai di desaku, mereka parkir di halaman sekitar rumah warga. Semua kebanjiran berkah, setiap motor dan mobil ditetapkan tarif parkir. Warung-warung bermunculan, menjadi tempat istirahat para peziarah. 

Suatu hari, ketika di luar rumahku begitu ramai, bapak tiba-tiba tergeletak sakit. Yang aku tahu, itu terjadi setelah siang ada seseorang yang menuliskan kulit hijau krunil denan tinta warna merah, aku melihat dia komat-kamit dengan bahasa yang sulit dimengerti. 

Dengan perasaan takut, aku menitipkan pertanyaan di telinga kanan bapak, “Apa pohon itu bisa membawa sial juga?”. Hatiku bergetar hebat saat lagi-lagi bapak menatapku tajam. Matanya benar-benar tajam, membuatku tunduk, diam tanpa perlawanan. Lalu meluncur deras dari mulutnya petuah magis.

“Semua hanya milik Gusti Allah, Le. Semua bisa Ia ambil kapan pun. Tugas kita hanya perlu berhati-hati, eling”. 

Sejujurnya, apa yang bapak ucapkan justru membuatku semakin penasaran. Hatiku tidak lega sama sekali. Terutama mengenai misteri pohon mangga bapak, mengenai orang-orang yang datang, atau tentang tinta warna merah yang dituliskan seseorang pada kulit hijau muda krunil, dan beragam harapan dari banyak banyak orang datang. 

Sebulan setelah kejadian itu, pengunjung semakin ramai. Beberapa kali aku mendapati pengunjung yang berkelahi berebut menuliskan nama pada krunil yang sama. 

Aku coba memahami, semestinya pohon mangga bapak bisa membawa berkah bukan malah menjadi akar perselisihan. 

Setelah beberapa kejadian itu, aku kembali memberanikan diri membisikan di telinga kanan bapak yang belum juga pulih kesehatannya.

“Apa tidak sebaiknya kita larang orang-orang untuk menulis nama mereka di pohon mangga itu?”. 

Dalam helaan napas panjangnya, mata bapak menyapu setiap sudut kamar, sebelum akhirnya kembali menatapku tajam.

“Pohon mangga itu bukan milik kita. Orang-orang terlanjur percaya pada pohon itu. Mereka yang datang sudah nandur pangarep-arep. Semua orang yang datang menuju pohon itu sungguh di luar kendali kita”. 

Sejujurnya, lagi-lagi aku tidak puas dengan jawaban bapak. Jawaban seperti itu terlalu berat untuk bisa dipahami. Aku hanya tidak rela jika akhirnya pohon itu menjadi rebutan orang-orang, menjadi akar keributan. 

Suatu sore, gerimis menderas. Orang-orang tak bergerak pergi, mereka tetap khusyu sendiri-sendiri. Sesuatu yang aneh terjadi, tubuhkan seperti tertarik untuk mendekati pohon mangga bapak. Wajahku langsung tertuju pada krunil berwarna merah darah yang di kulitnya tertulis namaku. Padahal jelas aku tidak pernah menuliskan namaku sama sekali. Berusaha melepaskan diri dari jerat, aku membaca doa sebisanya, lalu pergi masuk ke dalam rumah mencari bapak yang terbaring. Mata bapak Kembali menatapku tajam, sambil berucap sangat lirih, “Sudah saatnya, Le”.

Sungguh, kejadian itu membuatku tidak bisa tidur. Malam ini benar-benar terasa gangguannya. Imajinasi krunil merah darah terus menjadi hantu di kepala. Ia seperti asyik menggedor-gedor setiap pintu otak. Malam ini berisik sekali, terasa benar magisnya. 

Keesokan hari, daun-daun jatuh dari pohon mangga bapak. Lebih dari separuh daunnya benar-benar meranggas walau buahnya tetap lebat, dan orang-orang masih berdatangan meskipun tidak seramai di waktu sebelumnya. Beberapa dari mereka mulai berbisik kalau pohon mangga bapak pelan-pelan sudah kehilangan tuahnya.

Aku mendakati pohon itu, hendak mencari krunil merah darah. Menyasari setiap lebat daun. Yang  ditemukan hanya tangkai patah, seperti bekas ditarik paksa seseorang. 

Malam ini, pohon mangga bapak sudah tidak seramai biasanya. Bahkan cenderung sepi. Aku duduk di bawahnya. Menikmati angin yang menarik-narik sisa daun. Seketika terlintas pertanyaan di kepala, “Apakah benar pohon ini membawa berkah dari Gusti Allah atau justru akan menjadi sumber kutukan?”

Tiba-tiba bapak sudah berada di sebelahku, Kembali matanya tajam menatap sambil berkata lirih.

“Tidak semua pertanyaan di kepalamu harus memiliki jawaban, Le?. Yang penting kamu tetap eling, semua cuma serupa barang titipan”. 

Aku berusaha menatap wajah bapak yang tiba-tiba samar, mengabur sembunyi dalam gelap. Telingaku tidak mendengar bapak yang bergerak pergi, hanya menangkap suara angin dan daun yang bergesekan.

Pada hampir sepertiga malam, wajahku masih terangkat menghadap daun-daun, persis di atas kepala. Dalam remang hening malam ini, aku melihat krunil-krunil dipenuhi cahaya keemasan tiba-tiba muncul di cabang-cabang muda. Salah satunya bertuliskan namaku, PRANA.

Angin terasa lebih dingin dari biasanya ketika perlahan aku menarik nafas dalam. “Tentang krunil itu, baik atau buruk kehadirannya, terserah Gusti Allah saja”, itu doaku malam ini. Untuk esok, entahlah!

Di dalam kamar, bapak mendengkur hebat, sebelum datang waktu subuh. Pagi harinya, dari pengeras mushola yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahku terdengar siaran berita duka warga kampung sebelah. Lalu ramai berita, di tangan orang yang meninggal tergenggam krunil yang kulitnya berwarna merah darah. Pagi ini juga, bapak menarik tanganku untuk ikut menemani melayat ke rumah sahabatnya, di kampung sebelah. 

Bionarasi Penulis

RESTU KURNIAWAN Lahir di Bogor, 9 Oktober 1982. Aktif menulis puisi, cerpen dan esai sejak kuliah. Karya-karyanya bertebaran di beberapa surat kabar, seperti: Suara Merdeka, Minggu Pagi, Koran Rakyat, Wawasan, Radar Banyumas, Merapi, Kompas.com, dan LiteraSIP. Beberapa kumpulan puisi bersama, antara lain: Syair-Syair Fajar (Mimbar Semarang, 2007), Pendhapa-5 “Temu Penyair Antar Kota” (DKJT, 2008), Pandhapa-6 “Temu Penyair Banyumas – Solo” (DKJT, 2009), PROGO 9–KSS3G Temanggung (Raditeens, 2024). Cerpennya tergabung di kumpulan cerpen “Seputar Pusar” 20 Kisah yang Ahh (Kelindan Solo, 2008). Di tahun 2023 salah satu puisi yang berjudul “Kembali Puisi” terpilih menjadi puisi terbaik 1 di Festival Sastra KOPISISA Purworejo, dan di 2024 pentigraf yang berjudul “Prana” menjadi yang terbaik kedua di acara Festival Sastra KOPISISA Purworejo. Buku kumpulan puisi tunggalnya, “Kembali Puisi” (LovRinz) terbit di tahun 2025. Saat ini menjadi guru di SMP VIP Ma’arif NU 1 Kemiri Purworejo, tinggal di Desa Rejosari RT.02/RW.01 Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Nomor HP yang bisa dihubungi: 082226264611. Email: restu.hypno@gmail.com

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In