Heru Kurniawan
Suasana yang harus dibangun dalam membaca novel adalah suasana santai dan menyenangkan. Sesantai dan semenyenangkan mungkin, terutama untuk kita yang baru belajar membiasakan membaca novel. Membaca novel baru sebatas untuk tujuan mendapatkan hiburan semata. Semakin santai dan semakin menyenangkan, maka hiburan yang disajikan dalam novel akan semakin bisa kita nikmati. Ekspresi santai dan senang dalam menikmati novel, salah satunya, bisa kita dapatkan melalui posisi membaca yang pas. Kita pun perlu mencoba berbagai posisi dalam membaca novel. Percobaan yang akan membuat kita bisa menentukan posisi terbaik yang membuat kita nyaman dalam membaca novel.
Posisi pertama adalah membaca sambil tiduran atau rebahan. Waktu kecil banyak anak suka dengan membaca sambil tiduran. Tapi, orang tua selalu berkomentar, “Jangan membaca sambil tiduran, kasihan matanya.” Saat itu anak-anak sering bertanya dalam hati: apa kaitannya mata dengan membaca sambil tiduran. Banyak yang tidak percaya, tapi ceramah orang tua makin panjang. Jadi, banyak yang menghentikan kebiasaan itu. Celakanya, saat kita tumbuh dewasa, kita merasakan kurang nyaman membaca novel dengan posisi tidur.
Membaca novel dengan posisi tidur terlentang membuat mata tidak nyaman. Membaca dengan posisi tidur tengkurap, tidak bertahan lama. Bahu dan tubuh terasa lebih cepat capai. Sepertinya membaca dengan posisi tidur pun bukan pilihan yang tepat, terutama jika dilakukan dalam durasi waktu yang panjang. Kita pasti akan merasa sangat tidak nyaman. Posisi membaca seperti ini pun jarang dilakukan untuk kita yang sudah dewasa. Tapi, mungkin ada yang merasa nyaman. Silakan saja. Namun kenyatannya, membaca dengan posisi tidur sangat tidak disarankan karena mudah membuat ketegangan leher dan bahu, mata mudah lelah, dan pening.
Posisi kedua adalah membaca dengan posisi duduk. Ini posisi ideal yang setiap orang melakukannya. Ada yang duduk setengah tiduran atau bersandar atau duduk tegak sempurna. Untuk posisi membaca setengah tiduran atau sandaran memang sangat nyaman, tetapi mudah sekali membawa kita ke alam mimpi alias mengantuk dan tertidur. Boleh melakukan aktivitas membaca dengan posisi setengah tiduran atau rebahan jika tujuan utama membaca untuk pengantar tidur, terutama membaca novel saat tubuh sedang lelah dan menanti tidur. Inilah solusi posisi membaca paling tepat.
Akan tetapi, jika membaca kita sedang dalam keadaan serius dan menikmati senikmat-nikmatnya, maka bacalah novel dengan posisi duduk sempurna. Tubuh tegak dalam duduk, kedua tangan memegang novel atau novel di atas meja, lalu membaca perlahan. Ini posisi tempur terbaik dalam membaca novel. Jika tubuh sedang dalam keadaan bugar dan pikiran sedang jernih, maka posisi membaca duduk sempurna akan memiliki daya tahan yang lama. Kita bisa kuat bertahan membaca novel dalam durasi 30 – 60 menit, bahkan lebih dari itu. Tapi, rerata membaca novel di atas satu jam sudah mulai mengalami kelelahan dan kejenuhan. Jadi, hentikan saja dulu sejenak, selingi dengan aktivitas lainnya, terutama gerak untuk menjaga kebugaran tubuh. Ini adalah posisi membaca novel pada umumnya.
Posisi ketiga adalah membaca novel dengan posisi berdiri. Pernah mencoba posisi membaca seperti ini. Ini sungguh menantang dan mengasyikan. Ini bisa jadi variasi posisi membaca yang perlu dicoba. Kita harus melakukan posisi membaca berdiri dan sungguh seru. Posisi membaca dengan berdiri dilakukan jika kita sudah jenuh dengan duduk. Seharian sudah banyak waktu yang digunakan untuk duduk. Maka, coba nikmati sensasi membaca dengan berdiri. Kita akan merasa lebih asyik dan punya sensasi. Apalagi, membaca berdiri dilakukan dengan pencahayaan dari matahari. Membaca dilakukan saat terang sehingga cahaya matahari bisa menerangi sampai ke teras rumah, misalnya. Di teras rumah kita bisa membaca novel dengan posisi berdiri.
Dipastikan kita akan bisa kuat membaca hingga 20-30 menit. Ini terjadi karena kaki yang menjadi tumpuan tubuh kita akan jadi lebih cepat lelah dibandingkan dengan duduk. Tapi, dengan posisi berdiri membaca jadi lebih seru dan punya variasi. Aliran darah dalam tubuh dan otak bisa mengalir sempurna. Pencahayaan matahari, secara tidak langsung, memberikan sensasi indah tersendiri dibandingkan dengan cahaya lampu. Udara segara teras rumah membuat tubuh sangat suka. Posisi berdiri ini membuat membaca novel jadi punya variasi yang tidak menjenuhkan. Lakukan membaca novel dengan posisi berdiri saat kita mengingkan atau saat tubuh sudah terlalu banyak duduk.
Posisi keempat adalah membaca novel dengan posisi berjalan pelan. Pernah melakukannya? Memang, memabaca dengan sambil berjalan pelan banyak yang tidak menyarankan karena membuat mata cepat lelah, kurang fokus, dan membahayakan, terutama jika berjalan ditempat umum atau keramaian. Tapi, jika membaca dengan berjalan pelan dilakukan di teras rumah yang aman, kita sedang posisi jenuh, dan sedang mengingkannya, maka bisa juga dicoba. Banyak orang sering melakukannya dan merasa senang. Walapun, lebih nyaman dan punya daya tahan lebih lama dengan berdiri, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Apalagi jika kita sedang mengalami kejenuhan membaca. Membaca dengan posisi berjalan pelan bisa jadi solusi untuk hilangkan bosan dan terlalu banyak diam. Tapi, jangan terlalu lama karena memang tidak baik untuk daya tahan fokus dan cepat membuat mata lelah.
Mana posisi membaca yang paling kita suka? Pasti posisi duduk. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba berbagai posisi membaca. Mulai dari duduk bersandar, duduk sempurna, berdiri, hingga berjalan pelan. Semua posisi ini kita lakukan untuk tujuan bisa mendapatkan pengalaman membaca yang menyenangkan dan tidak membosankan. Sebab, pengalaman yang tidak menyenangkan dalam membaca membuat kita jadi tidak suka membaca.
Untuk itu, ciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan. Salah satunya dengan membuat berbagai variasi posisi membaca yang asyik dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita. Dengan cara inilah membaca novel akan jadi aktivitas yang begitu dekat dengan keseharian kita. Cara ini bisa menjadi salah satu kunci untuk menciptakan kebiasaan membaca novel yang menyenangkan dan berkesan mendalam sehingga kita benar-benar jatuh cinta dengan membaca novel.
Heru Kurniawan, Pembaca Novel dan Periset di Lembaga Kajian Nusantara Raya

