Heru Kurniawan
Novel sudah siap dibaca. Target membaca sudah ditentukan. Lalu, kapan kita harus membaca novel? Tentu saja saat itu juga. Jika kita sudah ingin membaca novel, maka lekaslah membaca. Jangan ditunda. Tapi, saat membaca kok malah mengantuk, maka segeralah tidur. Sungguh nikmat bukan jika kita bisa tidur dengan muda. Baru baca novel lima menit langsung tidur, maka tidurlah. Novel dengan baik hati telah mengantarkan tidur kita.
Tidak hanya mengantuk, tapi kita tidak fokus saat membaca novel. Kita tidak bisa menikmati dan memahami isi novel. Itu pertanda pikiran dan perasaan kita sedang tidak enak atau sedang kacau. Sedang ada yang merisaukan dan mencemaskan kita. Hentikan sejenak. Coba tarik nafas dalam-dalam dan berusaha fokus. Jika tetap tidak bisa, maka berhentilah. Coba renungkan ada hal apa yang merisaukan kita. Apakah soal pekerjaan belum selesai atau sedang ada konflik dengan orang lain. Jika, iya, maka jangaan membaca novel. Selesaikan dulu persoalan itu.
Dua situasi di atas menunjukkan bahwa membaca novel itu butuh dua kesiapan: kesiapan fisik dan kesiapan perasaan dan pikiran. Jika fisik kita lelah, maka membaca novel akan jadi pengantar tidur yang asyik. Jangan merasa tidak cocok membaca novel jika setiap kali membaca selalu mengantuk. Itu pertanda tubuh kita sedang tidak siap membaca. Tubuh kita sedang membutuhkan istirahat yang cukup, maka istirahatlah, maka tidurlah. Jadikan membaca novel sebagai pengantar tidur yang lelap.
Atau, saat pikiran dan perasaan kita sedang ada masalah. Sedang mengalami kecemasan, ketakutan, atau penderitaan yang jadi pikiran, maka membaca novel hanya jadi aktivitas yang sia-sia. Kita tidak akan bisa paham dengan novel yang kita baca. Pikiran dan perasaan kita sedang lari ke suatu tempat yang penuh persoalan. Tidak mungkin bisa mengikuti rangkaian peristiwa yang dibangun novel. Jadi hentikan. Segera selesaikan persoalan tersebut. Jika sudah selesai dan pikiran-perasaan tenang, maka kita bisa membaca novel kembali.
Itu artinya, kita bisa membaca novel dengan baik jika tubuh atau pikiran kita sedang segar dan bugar. Pertanyaannya, kapan tubuh dan pikiran kita segar bugar? Jawabannya adalah setelah kita bangun dari tidur yang cukup? Amati diri kita saat bangun tidur. Tubuh dan pikiran menjadi segar dan bugar. Inilah saat yang tepat untuk membaca. Ambil novel dan segeralah membaca. Pasti kita akan senang dengan novel yang kita baca. Tanpa terasa kita akan membaca selama tiga puluh hingga enam puluh menit. Membaca dua puluh lima sampai lima puluh halaman novel dalam sekali duduk.
Kita jadi fokus membaca novel. Kita menikmati setiap peristiwa yang disajikan novel. Kita hanyut dalam proses membaca begitu lancar. Tubuh kita kuat untuk membaca lama. Pikiran dan perasaan kita fokus dalam perjalanan membaca. Membaca novel jadi kegiatan yang tidak terasa. Inilah rahasia sederhana membaca novel setelah kita bangun tidur. Bisa setelah bangun tidur di pagi hari. Atau, bangun tidur siang atau malam hari. Setelah bangun dari tidur yang cukup adalah saat terbaik untuk membaca novel. Jadi, kita bisa mempraktikannya.
Apakah ada lagi saat yang tepat untuk membaca novel? Tentu saja ada. Saat kita merasa punya waktu luang. Merasa kita ingin mengisi waktu luang itu dengan membaca, maka segeralah membaca novel. Tapi, pastikan bahwa tubuh dan pikiran kita sedang segar. Jika, iya, maka membaca novel bisa jadi aktivitas yang menyenangkan. Kita bisa mambaca novel di mana saja. Saat di rumah sedang santai. Saat di sekolah sambil memanfatkan waktu bosan. Saat di ruang perkuliahan sambil menunggu dosen datang. Atau, saat dalam perjalanan panjang yang sering membuat jenuh.
Novel bisa dibaca di manapun dan kapanpun. Yang terpenting penting kita menginginkannya. Atau, bisa juga memaksa diri dulu untuk ingin atau harus membaca novel. Tapi, sebelum membaca, pastikan badan dan pikiran sedang tidak mengalami kelelahan. Jika semua prasyarat ini terpenuhi, maka beruntunglah kita. Kita bisa membaca novel sepuas kita. Atau, sesuai dengan target membaca kita yang sudah ditentukan. Inilah yang disebut saat yang tepat untuk membaca novel.
Heru Kurniawan, pembaca Novel dan Periset di Lembaga Kajian Nusantara Raya

