(Endah Kusumaningrum)
Akhir-akhir ini, warganet kita sedang ramai dan sibuk membincangkan buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Broken Strings adalah buku memoar yang berisi kisah perjalanan hidup penulisnya. Terutama soal perjalanan hidup di masa remaja yang penuh kegelisahan, hubungan keluarga yang tidak selalu hangat, luka-luka emosional yang tumbuh pelan-pelan karena pengalaman yang lama diperam sendirian. Fragmen dari buku ini juga banyak dikutip dan dijadikan takarir di medsos. Ramai pula diulas dari pelbagai POV berbeda dan dijadikan bahan diskusi di kanal-kanal media sosial.
Kalau dicermati, yang membuat Broken Strings cepat menyebar bukan cuma karena ia sedang viral, melainkan karena cara bertuturnya terasa akrab. Pembaca seperti tidak sedang “dipameri” kemampuan bahasa, tetapi diajak masuk ke cerita dengan kalimat-kalimat yang ringan, langsung, dan tidak berbelit. Ada narasi yang terasa dekat, seolah pernah lewat sekelebat di kepala banyak orang, tetapi baru sekarang ada bentuknya dalam kalimat.
Namun, saya kira kesan “mudah” itu, tentu, tidak muncul begitu saja. Ada beberapa hal yang membuat kesan itu terbentuk.
Pertama, gaya bahasanya tidak “maksa sastra”. Broken Strings tidak berusaha tampil sebagai tulisan dengan “bahasa sastra” yang hiperbolik atau penuh permainan kata. Ia justru tampil apa adanya; sederhana, lugas, dan personal saja. Kadang bahkan terasa seperti catatan yang ditulis diam-diam. Karena tidak banyak jarak, pembaca tidak perlu “mengurai” kalimat untuk menangkap maksudnya. Mengalir saja seperti orang bercerita, bukan seperti orang sedang mempertontonkan estetika bahasa yang purna.
Kedua, bentuk tulisannya yang “ramah” dibaca per bagian. Banyak bagian terasa seperti potongan narasi yang berdiri sendiri, sehingga orang bisa membaca sebentar-sebentar tanpa kehilangan arah. Rasanya hal ini penting, karena kebiasaan membaca kita hari ini sering kali tidak lagi panjang dalam sekali duduk. Model seperti ini membuat buku mudah “masuk”. Artinya, pembaca bisa berhenti di satu fragmen, lalu lanjut lagi kapan pun.
Ketiga, cara buku ini beredar ikut memperkuat kesan mudah itu. Ia tidak ramai lewat ulasan panjang, melainkan lewat potongan teks yang beredar di story, status, atau takarir di sosmed. Dari situ muncul respons bermacam-macam, mulai dari yang merasa “ini aku bangettt” sampai yang sekadar mengamini dan meneruskan. Artinya, bukan hanya isi yang dibaca, tetapi juga kalimat-kalimatnya “dipakai” ulang oleh pembaca untuk menyatakan sesuatu tentang dirinya. Di sini, bahasa buku itu seperti menemukan jalannya sendiri di ruang publik.
Ada hal lain yang menarik dari situ. Ketika kalimat-kalimat sebuah buku bisa “dipakai ulang”, berarti bahasa dalam buku tersebut tidak berhenti sebagai milik penulis. Ia berpindah tangan, masuk ke percakapan, lalu hidup sebagai bagian dari ekspresi orang lain. Banyak orang mengutip karena menemukan kata yang pas untuk menyebut perasaan yang selama ini sulit dijelaskan. Dalam konteks seperti ini, Broken Strings tidak hanya dibaca, tetapi juga “diaktifkan”: dijadikan penanda, dijadikan penguat, bahkan kadang dijadikan semacam pegangan.
Kalau kita tarik ke kebiasaan membaca hari ini, Broken Strings seperti bertemu dengan pembacanya di titik yang pas. Banyak orang membaca sambil lalu; di sela kerja, di sela perjalanan, sebelum tidur. Dan bentuk narasi yang pendek-pendek itu cocok dengan ritme tersebut. Karena itulah, kesan “mudah” tidak hanya soal pilihan kata, tetapi juga soal ritme: buku ini tidak menuntut pembaca untuk selalu punya waktu panjang. Ia memberi ruang untuk membaca pelan-pelan, sedikit demi sedikit.
Namun, ada catatan kecil yang perlu kita ingat. Ketika buku lebih sering hadir sebagai kutipan, teks mudah menjadi potongan lepas: dibaca tanpa konteks, ditarik ke sana-sini, dan kadang disederhanakan hanya menjadi “kalimat yang relate”. Padahal, dalam buku utuhnya, potongan-potongan itu saling menyambung dan punya arah. Karena itu, meskipun kutipannya memang enak dinikmati, Broken Strings tetap lebih adil dibaca secara utuh.
Dengan membaca utuh, kita melihat bahwa ini bukan sekadar kumpulan kalimat sedih, tetapi rangkaian pengalaman yang punya alur, ada fase, ada proses, ada upaya memahami diri. Kita juga bisa menilai buku ini dengan lebih tepat bukan cuma dari “kalimat yang viral”, tetapi dari cara penulis merangkai pengalaman menjadi cerita yang bisa diikuti pembaca.
Mungkin di situlah letak menariknya Broken Strings. Ia terasa ringan di permukaan, tetapi tetap menyimpan kedalaman ketika dibaca pelan-pelan. Dan barangkali, itulah alasan mengapa ia mudah dibaca dan mudah pula dibicarakan.
_____________
Endah Kusumaningrum, pengajar di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Bergiat di Lembaga Kajian Nusantara Raya.

