Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

Admin by Admin
29 Januari 2026
0
Puisi-puisi D. Zawawi Imron
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

SAJAK II

berlapis, berlapis-lapis gemunung

di balik kabut yang amat tipis

konon ini negeri para petarung

yang pedangnya tak boleh amis

dan memang

di puncak bukit yang selalu tafakkur

yang bersubuh sajadah sepi

ada sesuatu yang tak terukur

sejenis kelembutan tapi bergigi

pada telinga yang dibersihkan dengan bulu belibis

telinga yang kalis,

dan dipasang sinyal peduli, wahai munsyi!

kata amis bisa terdengar menjadi najis

atau tangis

DARI BATU BATIKAM

Itulah, kenapa batu itu disebut

Batu Batikam, bukan agar kau dan aku mengasah kesaktian

Sehingga jejak tikaman menjadi kekal

Ada yang lebih berharga pada “tambo”

Tentang pentingnya membongkar

Lapis-lapis jantungku yang bagai buku

Kemudian pada halaman yang tertulis firman

Kau bersujud di situ

Sehingga kubangun malu

Dan hakikat malu

Beduk masjidku bertalu-talu

Dan keris itu sudah lama tersimpan

Dan disimpan untuk menulis tanda tangan

Untuk derap dan kebersamaan

Kita tak cukup membangun harapan

Yang kita bangun adalah keringat dan kenyataan

PEMANDANGAN DI PANTAI PADANG

                                    dengan Ahmad Tohari

lautan terkembang pagi hari,

langkah-langkah hangat pada dua orang nelayan

menyatu pada sebuah pencalang

sehingga pencalang itu terbang

di atas gunung-gunung ombak

gelombang terus berkembang

ke luas jauh samudra

pencalang itu tetap berenang

mengusung jiwa yang tenang

nelayan yang tahu nikmatnya zikir

tahu bahwa suara ombak zikirnya air

nelayan dan ombak berzikir bersama-sama

menuju kekekalan yang tak berakhir

melampaui batas dunia

AIE ANGEK, BERSAMA TAUFIK ABDULLAH

Suara azan merayapi Merapi, menyiapkan sawah sebagai sajadah. Engkau berlagu saat belatuk memainkan lagu batuknya. Aku berlari dalam angin yang tahu bahasa ingin, bahasa seribu mungkin. Seperti rumpun-rumpun bambu yang setia menyimpan sedihmu, sedih batu semesta. Gunung-gunung dibakar di kejauhan mengirim sesak ke dada orang-orang jiran. Dan kita seperti tak malu, dan aku tak malu, karena malu telah digadaikan bersama milik, laut dan hutan. Buat apa malu, malu itu tak ada gunanya, malu mencegahku menjadi orang besar, dan teramat tua untuk dipakai. Kemudian kudayung sampan, Singkarak, Toba, laut Cina Selatan, semua menyanyikan harapan. Jangankan engkau jangankan aku, cucumu mungkin telah lama mengenalmu, karena wayang-wayang telah menjadi orang. Petruk dan Gareng telah menjadi gelandangan dan orang-orang telah memulai haus harimau. Bintang, bulan, gunung dan tambang telah bergumul membangun masa depan. Padahal yang dibangun bukan bangunan, tapi janji yang melahirkan seribu sesal. Satu, dua, dan semua hitungan silakan menghitung diri, tapi kita harus berlari dan terus berlari untuk mengejar suara azan yang lenyap. Kita kalahkan gelombang, kita hancurkan sejarah dan kepalsuan untuk sebuah sejarah yang lain. Sejarah paduan keringat dan Amin..

LAGU

Tak ada suara bulan

Tak ada suara tambur

Alam hanya angin

Dan daun-daun yang berlepasan

Langit yang hanya ruang

Sesekali mempertanyakan kepada bumi

Perihal keseimbangan musim

Kenapa panen mengingkari janji

Memang tak mudah menjadi bumi

Menjadi daging yang menyiapkan ruang

Yang disuburi ganggang dan ilalang

Ada orang memilih telanjang diri

Dari pada telanjang hati

Ketika ada bertanya mengapa onak dan bagaimana duri

Lengking seruling melengkungkan langit

Dalam riuh yang gasing

Pertanyaan menjadi layang-layang yang compang-camping

Yang tak mungkin dilenggangkan angin

Barangkali ada saat kita kasihan kepada bumi

Yang tak marah kita kencingi kita beraki

Ada saat kita merasa letih kerkelahi

Karena bumi merasa malu

Kepada bulan dan matahari

Yang sorot matanya selalu sampai ke bumi

Bionarasi Penulis

D. Zawawi Imron, lahir diBatang-Batang, Sumenep, Madura, 1946. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di media lokal, nasional, dan internasional. Buku puisinya (1) Semerbak Mayang (1977), (2) Madura, Akulah Lautmu (1978), (3) Bulan Tertusuk Lalang (1982), (4) Nenekmoyangku Airmata (1985), (5) Celurit Emas (1986), (6) Derap-derap Tasbih (1993), (7) Berlayar di Pamor Badik (1994), (8) Laut-Mu Tak Habis Gelombang (1996), (9) Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), (10) Madura, Akulah Darahmu (1999), (11) Kujilat Manis Empedu (2003), (12) Cinta Ladang Sajadah (2003), (13) Refrein di Sudut Dam (2003), (14) Kelenjar Laut (2007), dan beberapa lainnya. Buku kumpulan esai sosial keagamaannya Unjuk Rasa kepada Allah (1999), Gumam-gumam dari Dusun (2000). D. Zawawi Imron pernah juara pertama menulis puisi di AN-teve (1995), dan menjadi pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunai Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunai Darussalam (Maret 2002). Sastrawan-budayawan ini memenangkan Hadiah Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The SEA Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Dari khalayak pembaca luas, Kiai Haji D. Zawawi Imron  mendapat gelar “Penyair Celurit Emas”, dan tetap tinggal di desa kelahirannya, di Batang-Batang, sebuah desa ujung timur pulau Madura. Pada Minggu, 9 Desember 2018, Presiden RI Joko Widodo memberikan penghargaan kepada dua budayawan dan dua sastrawan pada acara Kongres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, satu di antaranya ialah D. Zawawi Imron, atas kontribusinya sebagai penyair dan pendakwah yang terus menyiarkan kebajikan sastra dan religi ke seluuruh Indonesia.

Tags: poetry
Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In