YANG DITINGGAL DI BAWAH TANGGA RUMAH PANGGUNG
[1]
di bawah tangga rumah panggung tua,
terdapat batu pipih yang dulu dipakai memanggil hujan.
sekarang, batu itu dijadikan tatakan pot plastik.
hujan tetap datang—
tapi tak lagi diminta dengan hati.
[2]
seseorang menggali tanah di belakang dapur
dan menemukan tulang yang tak disebut dalam kitab mana pun.
tetangga berkata: “itu hanya anjing.”
tapi malam itu, suara nyanyian lama
terdengar dari tungku yang tak lagi menyala.
[3]
kain tua dengan benang emas
dijadikan lap meja saat pertemuan penting.
mereka tak tahu, benang itu
adalah tulisan rahasia dari seorang perempuan
yang dulu bisa bicara pada laut.
kini lautnya sudah jadi pelabuhan ekspor.
[4]
seorang anak menggambar matahari dengan lima wajah.
gurunya menghapus empat.
“Matahari hanya satu,” katanya.
tapi anak itu melihat
ada lebih dari satu pagi
di dalam tubuhnya.
[5]
di lemari yang dikunci tiga kali,
ada buku tua berisi mantra dalam bahasa yang tak lagi punya lidah.
tiap malam, halaman-halamannya terbuka sendiri
meski tak ada angin.
mungkin karena rindu dibaca.
atau karena ia tahu,
pemilik lidah itu masih bernafas
di balik kulit yang sudah disesuaikan.
[6]
tembikar pecah ditemukan di pinggir ladang.
di dalamnya: abu, rambut, dan setangkai bunga palem.
petani yang menemukannya menyebutnya “sampah”.
padahal tembikar itu dulu
dipakai untuk menyimpan ingatan
tentang pohon pertama yang tumbuh
sebelum bahasa ditemukan.
[7]
seseorang mendengar suara tangisan di bawah batu nisan.
tapi tak ada mayat.
hanya rambut neneknya
yang dulu dipotong karena dianggap tak pantas.
kini rambut itu tumbuh jadi semak
yang membuat pejalan kaki tersesat
menuju halaman belakang dirinya sendiri.
[8]
fragmen terakhir ditemukan dalam mimpi—
seorang lelaki dengan bayangan yang lebih panjang dari tubuhnya
berdiri di tengah hutan sunyi
dan berkata,
“Kami tidak ingin disembah. Kami hanya ingin diingat tanpa dibersihkan.”
Dayeuhluhur, 3 Februari 2025
MUSEUM KECIL YANG DISEMBUNYIKAN DI DALAM DADA
[1]
di balik tulang rusuk kanan seseorang,
tersimpan cermin retak
yang dulunya tergantung di rumah kepala desa lama.
cermin itu menyimpan wajah
yang tak lagi diizinkan muncul di keluarga manapun.
wajah itu masih tertawa—meski dipalingkan.
dan dari retaknya, tumbuh rumput halus
yang hanya bisa dilihat saat kau bernapas terlalu dalam.
[2]
lemari kayu tua disimpan di ruang sempit
antara kamar tidur dan ruang tamu.
di dalamnya:
potongan-potongan doa
yang tak selesai ditulis
karena terlalu panjang untuk dihafalkan,
terlalu berisik untuk dibacakan keras-keras.
Kadang terdengar suara kuku mengetuk dari dalam.
[3]
seorang ibu menggambar garis di tanah
setiap kali ada anak menangis tanpa sebab.
garis itu tak pernah dihapus.
hingga suatu malam,
semua garis menyatu dan membentuk peta.
peta itu menunjuk tempat
di mana tawa dan tangis punya akar yang sama.
[4]
di loteng sekolah dasar,
sebuah boneka tanpa mata disimpan dalam kotak sepatu.
boneka itu dulu dikeramatkan oleh sekelompok anak
yang percaya ia bisa menjawab soal ujian.
sekarang, ia hanya benda.
tapi setiap kali guru lupa kata-kata,
ada bayangan kecil yang menari di papan tulis.
[5]
seutas rambut ditemukan di sela-sela halaman buku tata negara.
tak ada yang tahu siapa pemiliknya.
tapi rambut itu melengkung seperti aksara tua
yang dulu dipakai untuk menamai angin.
kini angin tak lagi punya nama.
ia hanya disebut “cuaca.”
[6]
di rumah makan padang yang sudah tutup,
seorang mantan pelayan menyimpan sepiring rendang
yang tak pernah basi.
ia percaya, itu sisa persembahan
untuk sosok yang tidak boleh disebut namanya.
yang datang setiap malam jumat
dan duduk di meja pojok
tanpa pernah memesan apa-apa.
[7]
seekor tikus melahirkan anak-anaknya
di dalam gong tua yang sudah tak dipukul.
anak-anak itu tumbuh dengan pendengaran
yang mampu menangkap suara
yang tidak bisa direkam mikrofon.
[8]
dan di akhir fragmen,
ada seseorang duduk di bawah tangga,
mencatat nama-nama yang sudah tak disebut di acara keluarga.
ia tidak bicara.
tapi tiap kali namanya ditulis,
ada bunga kering yang tiba-tiba mekar
di halaman depan rumah yang sudah dijual.
“Di Hari Ketika Meja Persembahan Dibuang ke Sungai”
di sebuah desa yang tak lagi disebut dalam peta,
meja persembahan dibuang ke sungai
karena dianggap menyimpan sesuatu
yang tak bisa dijelaskan dengan hukum.
Ibu tua pemilik meja itu hanya duduk,
menyisir rambutnya yang sudah tak bisa disisir
karena lebih sering menjadi sarang kenangan
daripada helai-helai biasa.
anak-anak menonton dari balik jendela sekolah,
mereka tertawa pelan
karena tidak tahu arti kata “persembahan”
selain “barang lama yang mengganggu estetika rumah modern.”
Sungai menerima meja itu
seperti menerima kata-kata yang tak pernah sempat diucapkan.
Ia membawanya perlahan,
melewati akar pohon yang juga sudah kehilangan bahasa
untuk berdoa.
malam itu, suara-suara datang.
bukan untuk menghukum,
tapi menanyakan:
“Apa yang kalian ganti untuk rasa syukur?”
tak ada yang menjawab.
orang-orang lebih sibuk membenarkan cara mereka menangkap cahaya
dengan jendela kaca berlapis film.
sementara cahaya sendiri
sudah bosan dijadikan simbol.
keesokan paginya, meja itu kembali.
terdampar di pinggir sungai,
diapit oleh plastik dan sisa sabun cuci.
di atasnya, sehelai daun lontar yang tidak ditulis,
hanya ditaruh begitu saja,
seperti rahasia yang sudah lelah disembunyikan.
seorang anak kecil menemuinya
dan bertanya:
“Apakah ini mainan?”
ibu tua itu tak menjawab.
ia hanya berjalan mendekat,
menaruh setangkai bunga kamboja
yang sudah hampir layu
ke atas meja itu.
dan di saat itu,
matahari berhenti sebentar
seperti ingin mengingat.
Dayeuhluhur, Januari 2025
MANTRA LUMPUR DAN KEPALA TERBALIK
malam dibungkus kawung bolong,
seorang bayi merangkak ke dalam cermin,
memantulkan rawa-rawa
yang mengigaukan peradaban.
ia menyusu pada lumpur yang berkata:
“henteu sadaya nu bodas teh suci,
teu sakabeh nu hideung teh najis.”
lalu hujan turun dari bawah tanah,
membasahi langit yang tergantung di lehernya.
Ia membalik tubuhnya,
berjalan dengan kepala menyentuh bumi—
sebab katanya,
“pikiran harus mencium tanah
sebelum ia menyapa langit.”
dari ubun-ubunnya tumbuh pohon taraje,
daunnya adalah kata-kata yang belum dimengerti,
akar menjulur ke dadanya
menumbuhkan hati kedua—
yang bisa berpikir lebih jernih dari otak.
Ia menyimpan karuhun di jari-jarinya,
dan setiap gerak adalah amanat gaib
dari gunung-gunung yang tak pernah meletus
karena tahu kapan harus diam.
Manusia lain memandangnya sambil tertawa:
“Bayi itu gila”
tapi siapa yang lebih waras?
yang berlari-lari membawa kebenaran
seperti koper kosong,
atau bayi yang mendengarkan lumpur
dan menangis dalam irama semesta?
bayi itu tahu:
kebenaran bukan cahaya,
bukan gelap,
tapi lembab—
seperti rahasia yang disimpan daun talas
yang tak pernah basah walau hujan turun berabad-abad.
Ia bukan ingin suci.
Ia ingin utuh.
Ia ingin jadi perahu dari tanah
mengapung di lautan dada dan kepala,
menyebrangi rasi bintang
yang ia lukis
dengan air liur
dan debu kabuyutan.
Dayeuhluhur, Januari 2025
IKAN-IKAN YANG MELAYANG DI LANGIT DALAM
sirip-siripnya membelah awan
seperti sunyi
yang ingin menjelaskan arti kata “cukup”.
Ikan itu tak tersesat.
Ia tahu ia air,
tapi ia juga tahu,
laut terlalu penuh suara yang tak didengar.
ia memilih langit
karena di sanalah pikiran dan batin tak saling memburu,
melainkan berdamai.
di perut ikan itu—
ada kota,
dan seorang ibu yang menumbuk padi
dengan irama detak nadi semesta.
Ada bapak yang menggambar langit
dengan arang dari tungku yang belum padam.
Ikan itu,
tak memilih jadi burung,
karena tahu sayap tak selalu berarti tinggi.
tak kembali ke laut,
karena paham:
hanya mengintip di permukaan
takkan menjelaskan bab tentang arah.
Ia menggantung di antara petir dan pelangi,
menjadi jembatan yang tak disebut,
tapi dilalui setiap jiwa
yang berdamai dengan gelap dan terang.
Orang-orang menunjuk dan bertanya,
“Kenapa tidak jatuh?”
dan langit menjawab:
“Sebab ia berenang bukan dengan insang,
tapi dengan keutuhan.”
gadis dengan kepala di dadanya
ia menggantungkan kepala di dada,
tempat pelipis tumbuh akar,
dan tawa memecah jendela
yang tak pernah dibuat untuk dibuka.
Ia menyisir rambut dengan waktu,
menanam helai-helai yang jatuh
menjadi tangga
namun tak menuju ke mana pun.
Air matanya mengalir ke atas,
membasahi langit
awan muncul dari bawah kakinya.
Ia tidak berjalan—
ia melipat jarak
hingga bumi terasa seperti bisikan
yang tak memilih suara.
Dayeuhluhur, 2 Desember 2024
TUBUH YANG TAK SALING MENYEBUT
pohon menjulur dari perut dinding
daunnya berbisik di langit-langit
lantai retak oleh akar
yang tak ingin sampai
atap merunduk
dipeluk cabang yang dingin
getah menetes ke kusen
seperti suara yang lupa pulang
di dalam batang,
ruang tamu menggema
oleh langkah yang belum dilahirkan
bangunan tumbuh ke arah hening
pohon tumbuh ke arah hilang
tak saling rebut,
tak saling beri nama
hanya tumbuh
di tubuh yang tak pernah utuh.
Dayeuhluhur, 12 November 2024

Galuh Kresno, Salah satu pendidik di SMP Negeri 2 Dayeuhluhur. Menulis puisi sejak berkuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Puisinya pernah terbit di beberapa media offline; Radar Banyumas, Harian Fajar Makasar, Rubrik Sastra Rakyat Sultra, Suara Merdeka, dan media online; biem.co, skspliterary.com, https://top.cafe.daum.net/.

