Judul : Pejalan Anarki
Penulis : Jazuli Imam
Penerbit : Djelajah Pustaka
ISBN : 978-602-396-059-0
Halaman : vi + 400 Hal.
Buku ini bukan sekedar memaparkan cinta tapi juga menggambarkan idealisme yang hadir pada diri mahasiswa yang memandang dunia dengan kacamata yang luas dan rasionalisme yang jernih. Namun, caranya menggambarkan kemerdekaan dan kebebasan dalam diri sering kali dianggap sebelah mata oleh sebagian orang. Hal inilah yang hadir dalam Novel Pejalan Anarki karya Jazuli Imam.
Novel ini menceritakan Sekar, Mahasiswa Jurusan Ekonomi yang sedang berkuliah di salah satu kampus di Yogyakarta. Sekar merupakan perempuan yang kerap kali banyak orang yang mengincar. Karena Sekar merupakan ketua HMJ jurusan Ekonomi dan mahasiswa yang cerdas dan tentunya kecantikannya yang menawan. Dalam perjalananya di kampus Sekar bertemu dengan salah satu mahasiswa yang bernama El.
Plot pun dimulai, perkenalan Sekar dan El bermula pada kesalahaman yang berujung pada pertemuan demi pertemuan berikutnya. Karakter keras kepala Sekar di sini terpampang jelas saat beberapa kali ia berusaha mengajak El untuk menyelesaikan masalah mereka di kampus. Namun, kenyaataanya El yang hadir dengan pola pikir jauh berbeda dengan Sekar, ia selalu menghindar dan menjauh karena apa yang ingin selesaikan itu tidak ada hubungannya El.
El yang kemudian memilih menyepi, menjernihkan pikirannya di suatu tempat dan karakter inilah yang membuat El hidup dalam cerita itu, idealisme yang di bangun selaras dengan apa yang di tulis oleh El dan apa yang ia lakukan saat proses menyepi mencari ketenangan. Pada titik inilah Sekar seorang mahasiswa teladan keluar dari zonannya untuk mencari jawaban yang hilang.
Dalam Prosenya, diibutuhkan keberanian yang tinggi seorang Sekar yang hidupnya tertata kini berani melangkah keluar dari zona nyamannya sebagai ketua HMJ dan mahasiswa berprestasi. Kini ia memilih mengikuti intuisinya, memilih untuk mengikuti hatinya untuk melangkah.
Atraksi Kata
Jazuli Imam sebagai penulis, pengembara, dan pegiat lingkungan asal Indonesia. Dengan atraksi kata-kata, bukan hanya sekedar novel yang memaparkan cerita cinta pada umumnya tetapi menata kata-kata berbentuk puisi dan prosa yang bukan hanya indah namun menampar realita.
Lain waktu, Jazuli imam mencantumkan beberapa obrolan antara Sekar dan El tentang ketidaksepakatan pemikiran antar satu mahasiswa. Namun yang dimaksud penulis bukan sesederhana perdebatan atau konflik pada umumnya. Ia sedang berusaha mengajak pembaca mendalami karakter dari cara berpikir dan merespon sebuah permasalah di kampus.
Dilihat dari narasi-narasi yang hadir di buku novel Pejalan Anarki, tersimak bahwa Jazuli Imam hendak menumpahkan rentetan kisah sedih, gundah, gulana seorang pejalan. Bukan sekedar kasmaran seorang mahasiswa, maka dari itu satu buku saja tidak cukup untuk menampung kisah Sekar dan El.
Jazuli imam mencoba menggedor kesadaran pembaca tentang cinta tanah air, perbedaan pemikiran seorang mahasiswa dan makna kemerdekaan diri. Banyak di era sekarang mahasiswa yang dikecilkan karena tampilan atau sekedar pemikirannya yang unik dan berbeda dari kebanyakan sikap, meskipun Jazuli juga menjelaskan dalam karakter tokoh dampak dari terlalu dominannya idealisme yang digunakan itu seperti apa, karena hal itu penulis menghadirkan juga penyeimbang dari konflik tersebut.
“Segala bentuk ketergantungan adalah penjajahan.” (hlm. 309)
El mengajak kepada para pembaca bukan sekedar cinta atau kata-kata cinta yang senantiasa mendekap. Tapi tentang saling bermanfaat dan mengajak bermanfaat untuk orang-orang terdekat. Selalu berusaha menjadi kehangatan di mata orang-orang tersayang.
Umi Kulsum binti Jaenudin, berasal dari Garut, Jawa Barat. Sekarang, dia telah menempuh Pendidikan S1, Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Dia turut aktif di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Selain itu, dia aktif juga di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Tarbiyah Komisariat Walisongo UIN SAIZU. Karyanya dimuat di GolAgong puisi tentang rumah, buku kumpulan cerpen tiga paragraf “Secangkir Kopi di Pagi Hari” yang berjudul “Pangeran Impian” dan dimuat di Buku Antologi Lomba cerpen “Sahabat Bersama Sampai Syurga”.

