oleh Abdul Wachid B.S. [1]
Serat Centhini bukan sekadar karya sastra klasik Jawa, tetapi merupakan ensiklopedia kebudayaan yang memuat berbagai aspek kehidupan: spiritualitas, filsafat, kesenian, seksualitas, hingga ilmu pengobatan tradisional. Naskah yang digubah pada awal abad ke-19 ini lahir dari lingkungan Keraton Surakarta dan merekam dengan cermat nilai-nilai pendidikan dalam masyarakat Jawa. Salah satu tokoh sentralnya, Amongraga, menjadi gambaran ideal tentang bagaimana seseorang belajar sepanjang hayat melalui pengalaman hidup, bukan hanya dari lembaga formal. Dari tokoh inilah kita bisa menggali pelajaran penting bagi dunia pendidikan Indonesia hari ini yang tengah kehilangan arah makna.
Melalui disertasinya di UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto, K.R.H. Dimas Indianto S. mencoba membaca Serat Centhini dalam bingkai filsafat pendidikan Islam Nusantara. Ia tidak sekadar mengkaji teks klasik sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menelisik nilai-nilai pendidikan yang membumi: berakar pada pengalaman, budaya lokal, dan spiritualitas. Gagasan yang ditawarkan menjadi penting dalam konteks krisis pendidikan modern, di mana pembelajaran cenderung terjebak pada orientasi pasar, kompetisi akademik, dan pencapaian kognitif yang hampa makna.
Pendidikan sebagai Lelaku, Bukan Sekadar Sekolah
Dalam Serat Centhini, Amongraga memulai perjalanannya sebagai peziarah ilmu. Ia berguru kepada siapa saja: ulama, petapa, perempuan bijak, bahkan rakyat jelata. Ia tidak menimba ilmu di ruang kelas, melainkan di jalan-jalan kehidupan. Model belajar ini dikenal dalam tradisi Jawa sebagai “ngangsu kawruh”: menimba pengetahuan dari pengalaman dan siapa saja yang ditemui dalam perjalanan.
Kita dapat memandangnya sebagai bentuk pendidikan yang sangat eksistensial, di mana subjek didik belajar tidak hanya untuk tahu, tetapi untuk menjadi. Seperti dikatakan Clifford Geertz, kebudayaan adalah webs of significance: jaringan makna yang diciptakan manusia dan harus ditafsirkan dengan kedalaman (Geertz, The Interpretation of Cultures, 1973). Dalam konteks ini, proses belajar bukan hanya menghafal teori, tetapi menafsirkan kehidupan dan membentuk kepribadian.
Sayangnya, sistem pendidikan hari ini terjebak dalam birokrasi dan logika kompetisi. Pendidikan lebih sering dipahami sebagai jalan menuju status sosial dan ekonomi, bukan sebagai proses pengasahan diri. Amongraga mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati lahir dari perjalanan ruhani yang penuh makna, bukan dari pengumpulan sertifikat dan gelar.
Pendidikan yang Membumi dan Penuh Makna
Serat Centhini menyampaikan ajaran pendidikan dalam bentuk tembang dan kisah-kisah yang sarat simbol. Tidak ada istilah pedagogi atau kurikulum, namun makna-makna pendidikan spiritual dan moral terpatri dalam dialog, perumpamaan, dan narasi hidup para tokohnya. Misalnya, tentang pentingnya menghormati guru, menjaga adab, melatih keikhlasan, dan mencari ilmu dengan niat suci.
Semua itu disampaikan dalam bahasa rakyat, bukan bahasa elite istana. Ini menunjukkan bahwa pendidikan yang ideal menurut Centhini adalah yang bisa diakses dan dipahami semua kalangan. Menurut penafsiran K.R.H. Dimas Indianto, teks ini layak disebut sebagai “kitab pendidikan berbasis kearifan lokal”, karena tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai dan karakter lewat pengalaman keseharian.
Sangat relevan jika kita kaitkan dengan tantangan sistem pendidikan nasional yang masih cenderung menyeragamkan dan mengabaikan konteks sosial-budaya. Pendekatan lokalistik dalam pendidikan bukan berarti anti-modern, tetapi justru memperkuat akar identitas dan kearifan yang telah tumbuh dalam masyarakat. Serat Centhini, dalam hal ini, menjadi inspirasi untuk membangun pendidikan yang kontekstual dan bermakna.
Keseimbangan antara Spiritual dan Intelektual
Salah satu pelajaran utama dari lelaku Amongraga adalah pentingnya keseimbangan antara ilmu dan spiritualitas. Pendidikan bukan semata proses menambah pengetahuan, tetapi juga memperdalam kesadaran diri dan mengenal Tuhan. Dalam perjalanannya, Amongraga tidak hanya belajar teori agama atau filsafat, tetapi juga mencari jawab atas pertanyaan esensial: siapa aku? apa tujuan hidupku? dan di mana aku berdiri dalam semesta ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh sistem pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif. Pendidikan spiritual menjadi penting untuk membentuk manusia yang utuh: yang cerdas, beretika, dan memiliki kedalaman rasa. Seperti ditegaskan Fazlur Rahman, tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia yang bertanggung jawab secara moral dan spiritual dalam kehidupan sosial (Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, University of Chicago Press, 1982).
Di tengah krisis nilai dan degradasi moral, pendekatan pendidikan holistik seperti ini menjadi sangat relevan. Kita tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara teknis, tetapi juga arif dalam memaknai hidup, berempati, dan bijak dalam bertindak.
Guru sebagai Pembimbing Ruhani
Dalam kisah Serat Centhini, guru bukan sekadar penyampai pengetahuan. Ia adalah pembimbing ruhani, penuntun dalam kegelapan, sekaligus sahabat dalam perjalanan jiwa. Ada keintiman batin antara murid dan guru, yang dibangun atas dasar kepercayaan, penghormatan, dan cinta. Konsep ini selaras dengan pandangan tradisional Jawa tentang guru sebagai digugu lan ditiru (diikuti kata-katanya dan diteladani sikap hidupnya).
Hal ini sangat berbeda dengan model pendidikan modern yang menempatkan guru sebatas fasilitator atau pelaksana kurikulum. Padahal dalam pendidikan karakter dan spiritual, figur guru sangat menentukan. Teladan hidup guru lebih kuat daripada sekadar materi ajar. Di sinilah pendidikan Amongraga memberi inspirasi: pendidikan tidak bisa dilepaskan dari sosok manusia yang mampu membimbing, mengayomi, dan menginspirasi.
Kembali ke Akar: Pendidikan sebagai Jalan Hidup
Esai ini tidak bermaksud mengidealisasi masa lalu atau menganggap semua yang tradisional pasti baik. Namun, dari Serat Centhini dan tokoh Amongraga, kita mendapat pelajaran penting: pendidikan harus kembali ke akarnya, menjadi jalan pembentukan manusia, bukan sekadar pabrik nilai ujian. Pendidikan adalah proses spiritual dan kultural, bukan semata ekonomi dan teknis.
Disertasi K.R.H. Dimas Indianto S. bukan hanya membuka lembaran baru dalam studi Centhini, tetapi juga menyuarakan pentingnya membangun filsafat pendidikan Islam yang berbasis kearifan lokal. Sebuah filsafat yang menjadikan pengalaman hidup sebagai ruang belajar, menjadikan kebudayaan sebagai jembatan makna, dan menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhir.
Di tengah krisis global yang menggerus nilai-nilai kemanusiaan dan membanjiri manusia dengan informasi tanpa makna, kita butuh pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan. Dalam konteks ini, lelaku Amongraga bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk direnungkan ulang.
Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang masa depan. Ia juga tentang bagaimana kita menanam kembali akar, agar tidak tumbang dalam badai zaman. Dan Serat Centhini adalah salah satu akar itu: akar yang masih hidup, berdenyut, dan memberi arah bagi masa depan yang lebih manusiawi. ***
[1] Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.


