Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

Admin by Admin
2 Februari 2026
0
Puisi-puisi D. Zawawi Imron
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

TURUN KE DANAU

Perlu jalan berkelok-kelok

Kalau tak ada jalan berkelok

Tak kan aku bertemu Maninjau

Di belakangku berceceran jejak

Ternyata basi dan bisu

Karena itu cepat kubajak

Dasar kepundan dalam tubuhku

Dan sekarang aku mengerti

Yang selalu kubaca cahaya bintang

Bulan dan matahari

Yang tak pernah kuperhatikan

Paku yang karat dalam jantungku

Padahal tubuhku ini

Aku pinjam pada Ilahi

Kuperlukan jalan berkelok-kelok

Tanpa jalan yang berkelok

Aku tak kan kenal bahaya

DARI JANJIMU

dari janjimu, mengakar kata mengerkah cuaca

sampai lembah landai menolakku berandai-andai

“semua harus jelas”, katamu, “agar tak keliru telur menetas

tak keliru menetapkan karat pada emas”

ucapan itu membuat puisi jadi malas

menyalakan warna pada senyum, atau gatal pada talas

aku sudah capek mendaki dari bawah sampai atas

di kaki bangunan roboh hanya hening

yang menangis menggugat angin menggasing

“aku tak mau hukum jadi puisi,” katamu

sambil menunjuk kata-kata menjadi angka

sedang angka berkawan api

dan angka terbakar, sampai terkabar

lalu terkapar, dan bersarang pada

sejumlah perut orang lapar

“aku tak mau puisi jadi hukum” kataku

sambil mewakilkan senyum pada mega

meskipun aku sabar dan aku sadar

tapi berat untuk menemu keseimbangan

memang di satu sawah kita tersemai

tapi mengapa, perlu perjuangan untuk merasa bersaudara?

KAYU TANAM PADANG PANJANG

Di dalam hutan ini aku berkenalan dengan banyak

tumbuh-tumbuhan yang sedang sembahyang. Sebagian

menyembahyangkan dirinya yang belum mati, yang lain

menyembahyangkan sebuah balada tentang ikan-ikan kecil

yang berhasil memanjat ngarai. Sedangkan ngarai terus

mengalir mencari nurani laut tempat menginap matahari.

KETIKA SEBUAH TITIK MENJADI DULANG

Untik Wisran Hadi

Titik. Untuk mengenalnya aku hanya perlu beberapa detik. Titik, untuk mengertinya aku perlu berfikir, kapan saat yang tepat untuk berhenti, mengatur nafas dan menariknya lalu melanjutkan bacaan lagi. Tapi, apa aku mengerti yang aku baca? Apa kata-kata itu hanya jadi kerangka dan tak mengenal cakrawala saat awan menebal karena langit meninggalkannya? Sedang aku sering melangkahi titik tanpa berhenti, tanpa menyesal tanpa marah kalau dituduh orang bebal. Pesan pun  majal di dalam hatiku, hingga aku hanya menjadi sandal atau terompah bagi para penari gombal. Kembali pada titik. Aku tak berkata. Tidak berbisik. Karena banjir bisa gagal kalau aku bikin kanal bukan bikin sambal, padahal makanan harus segar dihidangkan. Titik, bukan sekedar halte. Tapi tempat menyelami hati, membongkar jantung yang beku dan mengukir sebuah nama pada empedu, atau pada setiap engsel tulang-tulangku. Satu saat titik itu menjadi sebuah dulang yang kutabuh sambil berdendang mengamati layang-layang yang melayang di langit biru. Satu saat titik itu mewakili hitam biji mata ibuku, yang memancarkan rindu di ngarai Anai yang sampai kiamat tak selesai-selesai. Mata itu tiba-tiba menjadi matahari, yang tak pernah bosan senyum dan hadir setiap hari.

LANGIT SETIA DENGAN BIRUNYA

Meluap di sini, berkobar di kejauhan

Menyalakan kekhawatiran

Tapi di sini daun lobak terus menghijau

Menenteramkan langit dan awan

Langit selalu setia dengan birunya

Menyimpan kerinduan pada surga

Padahal surga tak ada

Tanpa keringat yang kau eja

Bersama alam, bersama embun di sudut mata

Sedangkan awan yang terkesan tak setia

Selalu bergerak dari satu gulfa ke sabana

Harus dihargai sebagai arif bijaksana

Yang mempersilangkan ruang demi ruang untuk meraup cahaya

Dan neraka

Sebenarnya kita bawa dari dunia

Langkah-langkah di sini tak berdusta

Seperti panen orang-orang di sawah itu

Mereka tersenyum

Yang dilukisnya sejak semai benih pertama

D. Zawawi Imron, lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura, 1946. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di media lokal, nasional, dan internasional. Buku puisinya (1) Semerbak Mayang (1977), (2) Madura, Akulah Lautmu (1978), (3) Bulan Tertusuk Lalang (1982), (4) Nenekmoyangku Airmata (1985), (5) Celurit Emas (1986), (6) Derap-derap Tasbih (1993), (7) Berlayar di Pamor Badik (1994), (8) Laut-Mu Tak Habis Gelombang (1996), (9) Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), (10) Madura, Akulah Darahmu (1999), (11) Kujilat Manis Empedu (2003), (12) Cinta Ladang Sajadah (2003), (13) Refrein di Sudut Dam (2003), (14) Kelenjar Laut (2007), dan beberapa lainnya. Buku kumpulan esai sosial keagamaannya Unjuk Rasa kepada Allah (1999), Gumam-gumam dari Dusun (2000). D. Zawawi Imron pernah juara pertama menulis puisi di AN-teve (1995), dan menjadi pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunai Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunai Darussalam (Maret 2002). Sastrawan-budayawan ini memenangkan Hadiah Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The SEA Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Dari khalayak pembaca luas, Kiai Haji D. Zawawi Imron  mendapat gelar “Penyair Celurit Emas”, dan tetap tinggal di desa kelahirannya, di Batang-Batang, sebuah desa ujung timur pulau Madura. Pada Minggu, 9 Desember 2018, Presiden RI Joko Widodo memberikan penghargaan kepada dua budayawan dan dua sastrawan pada acara Kongres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, satu di antaranya ialah D. Zawawi Imron, atas kontribusinya sebagai penyair dan pendakwah yang terus menyiarkan kebajikan sastra dan religi ke seluuruh Indonesia.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In