22 Mei 2017
betapa rapuh diri. tatkala berhadapan dengan waktu
ternyata kita tidak pernah paham tentang esok
juga hari ini. dan hari-hari sesudahnya
tiba-tiba saja, tanpa ba bi bu. engkau berlalu
bersekutu dengan waktu. begitu saja
begitu indah dan sederhana. aku pun terperangah
di bibir hari. sketsa takdir di telapak tangan
aku baca kembali. ah, betapa rapuh diri
takkuasa lagi menautkan dua garis berbeda tepi
garismu dan garisku. jagatmu dan jagatku
napasmu dan napasku
tapi seulas senyum di beku bibirmu
menjelma semangat menggembalakan hari-hari
di padang waktu. menunggu jemputanmu
menunggu panggilan buat menyusulmu
Ninabobo Cinta
di redup matamu aku lihat surga
lalu sayup suara. gemericik air menuju hilir
menyela-nyela hamparan rumputan
padang luas terbuka di bawah langit
berwarna tosca
lalu aroma cempaka
meredakan gelisah mistar usia
sebuah ninabobo cinta berbalut kidung
yang takpernah rampung dalam senandung
di sungging senyummu aku hirup-hirup
saripati kenanga
senyum para nabi dan wali
lalu pendar-pendar cahaya
terpancar dari mahkota di atas kepala
serbuk-serbuk cinta. yang takpernah
selesai-selesai ketika di baca diberi makna
(mama, sungguh aku tidak sepenuhya
paham akan kehendak langit. ketika
diam-diam engkau bersijingkat pergi serupa
kabut yang menghilang di lereng bukit)
Guang Zhou
patung dewa kambing di lereng bukit
kabut melayap serupa hari hampir gelap
lalu bayangmu bangkit
muncul dari masa lalu
menyibak perdu-perdu rindu
bambangan-cakil di atas arena
di bawah benderang cahaya
raung tata warna. gamelan pun talu
di hati kita, ada gema dalam dada
walau jagat kita berbeda
Wanling Square, Guangzhou, Guangdong
di emperan toserba. hujan turun mengguyur kota
kubakar dingin dengan batang-batang sigaret putih
yin-yan berbungkus merah
orang-orang keluar masuk
membeli apa saja yang disuka
menghabiskan recehan yuan
dengan dalih teman dan handai tolan
“apa yang kaucari, kembara?
toserba swalayan takjuga menjual kenangan.”
ya. aku paham. mana ada kenangan
diperjualbelikan. kenangan cuma bisa diberi makna
apa pun peristiwanya
di bawah hujan, di kota seberang
kenangan bersamamu mengharu biru kalbu
memenuhi rongga. berdesakan
semuanya minta dituliskan. di bawah hujan
kenangan bersamamu menghangatkan
sisa-sisa ruang
Dirimulah Bumi Persemaian
gending hidupku kini ketawang
dua padhang dua ulihan
engkau pun mengetuk-ngetuk pintu kalbu
selalu. karena dalam ruang ada ruang
dalam jiwaku dirimu ada
bersama benih yang kini tumbuh kembang
tinggi menjulang. menggapai tawang
sebatang pohon kesabaran
berbuahkan cinta dan kasih sayang
dalam dirimu jiwaku ada
karena dirimulah bumi persemaian
tempat benih ditabur dan dirawat
disiram setiap saat
lalu tumbuh hingga tawang
sebatang pohon berbuah kesetiaan
gending hidupku kini ketawang
dua padhang dua ulihan dalam satu gongan
Kiblatnya Kiblat
mengayun langkah ke barat
engkau menjemput kiblatnya kiblat
penjuru bagi jiwa yang larat
engkau menjemput lembayung senja
cahaya bagi jiwa yang kehilangan cinta.
angin harapan mengiring langkah demi langkah
jejak pun menjelma kata-kata. meredakan gelisah
meratakan jalan menuju malam
tikungan demi tikungan, mengayam peristiwa
sebelum engkau menjemputku di ujung jalan
di beranda rumah yang dijanjikan
Sisa Hari-hari
akan diisi apa sisa ruang ini. sisa hari-hari
segalanya akan menjadi pasti
tapi masih adakah remah cintamu
seperti 700 hari lalu atau sebelum itu
14.000 hari yang membentuk jaring waktu
karena ikhwal akhir sebuah peristiwa
adalah awal peristiwa baru
begitulah. kita rambah pematang demi
pematang usia. setapak demi setapak.
dan gelisah pun selalu reda. dalam impian
kembara berbatas cakrawala. begitulah
kita susuri lorong demi lorong harapan
selangkah demi selangkah
gelisah pun semakin reda
dalam doa yang melintas benua
begitulah. anak cucu adalah bukti cinta kita
satu demi satu lahir dan tumbuh
kita lampaui musim demi musim labuh
begitulah. akhir peristiwa menjadi
awal peristiwa baru
dan kaupaham akan hal itu. juga aku
Merenda Kembali Hari-hari Lalu
sepotong cahaya menyela tirai jendela
kamar tempat dirimu membaringkan diri
ketika capai menutup hari
sepotong cahaya hinggap di kelambu ranjang
isyarat pun tersingkap bagi harap
sebelum tumbang di ujung rembang
sepotong wajah dan sepasang mata di wajahmu
aku pun menghirup aroma surga
dan kita berdua saja
merenda kembali hari-hari lalu
Palagan Penghabisan
segitiga cahaya. empat dinding kiblat
engkau di tengahnya. ketika iqamah kumandang
engkau pun pemenang kehidupan
berhasil membaca isyarat. memahkotai hidup
dengan ikat selendang kematian
lalu mengawal sisa-sisa langkahku
menuju wilayah perbatasan
senandung anak cucu. adalah syair
menuju palagan penghabisan
tanpa undur-undur kajongan
dan pada kulminasi peristiwa,
kunta druwasa musti menemu warangkanya
karena kepastian telah dituliskan
aku pun paham
ketika senyum surgamu mengingatkan
lewat fajar pagi selepas
ceruk malam
bersama kicau burung yang menyanyikan mazmur firdausi
bersama kokok ayam yang melihat kepak malaikat
juga telapak sulaiman
kenangan. ya, kenangan
alangkah menyakitkan ketika
tersentuh tangan
juga membahagiakan
Suminto A. Sayuti lahir di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, 26 Oktober 1956. Pada dekade 1970-an saat tergabung dengan komunitas Persada Studi Klub Yogyakarta, namanya tidak pernah absen dalam forum-forum diskusi sastra maupun pementasan-pementasan puisi dan teater. Di kalangan seniman Yogyakarta, Suminto dikenal sebagai pemuda “bengal” yang tidak pernah puas dengan ilmu yang didapat. Proses kreatifnya dimulai dari kegemarannya membaca dan menulis sejak kecil. Semakin tersihir oleh dunia sastra sejak masuk Yogyakarta sekitar 1974. Sejak bergabung dengan komunitas Malioboro, mulailah ia menancapkan kukunya di dunia sastra. Suminto yang juga Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini, juga menggeluti seni karawitan dan menggagas serta pengurus Masyarakat Karawitan Jawa. Ratusan karya lahir darinya, baik berupa makalah, diktat, buku, kumpulan puisi, cerpen, esai sastra, dan sebagainya.
Di antara karya Suminto A. Sayuti :
- Kumpulan Sajak Malam Tamansari
- Resepsi Sastra
- Intertekstualitas: Pemandu Pengkajian Sastra
- Ensiklopedia Sastra Indonesia
- Evaluasi Teks Sastra (2000, terjemahan The Evaluation of Literary Texts karya Rien T. Segers)
- Semerbak Sajak (2000)
- Berkenalan dengan Prosa Fiksi (2000)
- Berkenalan dengan Puisi (Gama Media, 2002)
Penghargaan :
- Kedaulatan Rakyat Award, Bidang Kebudayaan (2005)
- Anugerah Sastra Yayasan Sastra Yogyakarta (2014)

