Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Esai

Puisi dari Tengah Negeri: Menjaga Akar, Menyapa Dunia

Admin by Admin
2 April 2026
0
Puisi dari Tengah Negeri: Menjaga Akar, Menyapa Dunia
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

oleh Abdul Wachid B.S. [1]

Di tengah arus zaman yang serbacepat dan dangkal, puisi hadir seperti sumur tua: tenang, dalam, dan menyimpan daya hidup. Bagi sebagian orang, puisi tampak sebagai barang mewah, bukan kebutuhan sehari-hari. Namun bagi bangsa yang ingin tetap berjiwa, puisi justru adalah akar. Di tanah Sulawesi Tengah yang kaya warisan lisan dan mitos, puisi tidak pernah benar-benar pergi. Ia menjelma dalam doa, kidung, hingga syair perjuangan. Yang diperlukan kini adalah cara baru untuk merawat dan merayakan puisi sebagai bagian dari peradaban.

Akar Tradisi dan Nyawa Komunitas

Kebudayaan di Sulawesi Tengah menyimpan banyak bentuk ekspresi puisi lokal, baik yang berbentuk lisan maupun tertulis. Tradisi seperti molulo, mombowa, atau motambu-tambu mengandung pantun, kidung, hingga mantra-mantra adat yang menandakan puisi bukan sekadar seni kata, tetapi bagian dari tata hidup dan spiritualitas masyarakat.

Dalam konteks ini, puisi bukan hanya milik penyair, tetapi milik bersama. Ia hadir dalam ritus-ritus kematian, perayaan panen, bahkan dalam petuah-petuah orang tua. Namun, di banyak tempat, puisi lokal seperti ini mulai meredup. Anak-anak muda lebih mengenal bait lagu viral atau caption media sosial ketimbang pantun leluhur. Padahal, seperti dikatakan Goenawan Mohamad, “Puisi itu bukan barang asing. Ia muncul dari kehidupan yang sangat dekat, dari luka dan cinta sehari-hari” (Catatan Pinggir, 2001). Ketika puisi tercerabut dari hidup sehari-hari, maka yang hilang bukan sekadar bentuk, tetapi juga roh kebudayaan itu sendiri.

Literasi Puisi sebagai Daya Hidup Sekolah

Sekolah memiliki peran sentral dalam menanamkan kepekaan bahasa dan batin melalui puisi. Namun, dalam praktiknya, pelajaran puisi kerap terjebak pada analisis struktur dan gaya bahasa semata, tanpa menyentuh inti rasa dan spiritualitas batin puisi. Banyak guru terjebak dalam pendekatan tekstual yang kaku, sehingga siswa tidak mengalami puisi sebagai sesuatu yang hidup dan menggugah.

Perubahan paradigma pembelajaran sangat diperlukan. Alih-alih hanya menafsirkan teks, siswa perlu diajak membaca, menulis, dan membawakan puisi sebagai ekspresi diri dan empati sosial. Komunitas sastra sekolah bisa menjadi ruang kreatif untuk hal ini. Misalnya, kegiatan “baca puisi kolaboratif”, pelatihan menulis puisi berbasis pengalaman personal, atau pengenalan puisi daerah sebagai bagian dari kurikulum merdeka.

Sebuah laporan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam Peta Literasi Sastra di Indonesia (2022) menunjukkan bahwa sekolah-sekolah yang aktif bekerja sama dengan komunitas atau balai bahasa memiliki tingkat apresiasi puisi yang lebih tinggi. Ini berarti bahwa ekosistem sosial dan budaya sangat menentukan daya hidup literasi puisi.

Penyair Daerah sebagai Duta Nurani

Di Sulawesi Tengah sendiri, banyak penyair tumbuh bukan dari institusi sastra formal, melainkan dari komunitas, pesantren, atau media lokal. Mereka menulis puisi sebagai ziarah batin maupun sebagai respons sosial. Dalam konteks ini, mereka bukan sekadar seniman, tetapi duta nurani masyarakatnya.

Nama-nama seperti Zulfikar Wawo, penyair asal Palu yang puisinya kerap mengangkat identitas lokal dan trauma pasca-bencana; Sinta Octarina, yang dikenal lewat puisi-puisi tentang perempuan dan ekologi; dan R. A. Munandar, penulis yang konsisten membangun komunitas literasi di Parigi Moutong dan aktif menulis di Koran Mercusuar, menunjukkan bahwa semangat perpuisian daerah tidak padam. Mereka menulis dari tanah yang mereka pijak, dalam bahasa yang tidak dibuat-buat, dan dengan nurani yang tetap menyala.

Peran mereka sejatinya tidak kalah penting dari penyair nasional. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, membangun literasi puisi tidak bisa hanya terpusat di Jakarta atau kota besar. Sebagaimana dikatakan penyair Irlandia, Seamus Heaney, “Poetry has the power to persuade that vulnerable part of our consciousness of its rightness in spite of the evidence of wrongness all around it” (Nobel Lecture: Crediting Poetry, 1995). Maka penyair-penyair daerah adalah penjaga sisi rapuh yang menyimpan harapan itu.

Puisi Digital: Menyapa Dunia dari Lorong-lorong

Zaman digital tidak harus mematikan puisi. Justru sebaliknya, ia bisa memperluas jangkauan puisi hingga ke lorong-lorong kampung. Banyak siswa yang mungkin malu membaca puisi di depan kelas, tetapi berani merekam dan mengunggah videonya di TikTok. Banyak ibu rumah tangga yang menulis puisi diam-diam di Facebook atau grup WhatsApp keluarga. Ini potensi besar.

Dengan pengelolaan yang baik, komunitas sastra lokal bisa membangun kanal YouTube, podcast, atau blog puisi dalam bahasa daerah maupun Indonesia. Di sinilah peran Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah menjadi strategis: sebagai jembatan antara warisan lisan dan dunia digital. Tidak perlu menunggu gerakan dari pusat. Inisiatif dari daerah akan menunjukkan bahwa puisi adalah energi yang bisa menyala dari mana saja—bahkan dari desa terpencil di pegunungan Lore Lindu.

Komunitas seperti Komunitas Salihara Palu, Kelas Puisi Poso, atau Rumah Literasi Tolitoli (yang beberapa di antaranya aktif dalam program Gerakan Literasi Nasional) adalah contoh bahwa kreativitas daerah dapat menjadi lokomotif literasi jika diberi ruang dan dukungan yang cukup.

Membaca Ulang Peradaban dari Tengah

Bangsa yang besar tidak hanya dibangun dari jalan tol dan gedung tinggi, tetapi dari bahasa, rasa, dan imajinasi. Dalam puisinya, T.S. Eliot mengatakan bahwa puisi adalah “turning blood into ink”, artinya, puisi adalah peristiwa batin yang menjelma kata (The Use of Poetry and the Use of Criticism, 1933). Ketika masyarakat tidak lagi akrab dengan puisi, maka yang hilang bukan sekadar bentuk seni, tetapi kemampuan untuk memaknai hidup secara mendalam.

Dari tengah negeri seperti Sulawesi Tengah, kita bisa membangun ulang kepercayaan bahwa puisi bukan urusan elite. Ia adalah bahasa rakyat, nurani lokal, dan jembatan antarbudaya. Menjadikan puisi sebagai bagian dari pembangunan budaya berarti mengakui bahwa yang membuat bangsa tetap hidup bukan hanya logika dan kekuasaan, tetapi juga rasa dan suara hati.

Penutup: Menjaga Akar, Menyapa Dunia

Kini saatnya memikirkan strategi konkret. Setiap sekolah bisa memiliki “hari puisi” bulanan. Setiap kabupaten bisa menyelenggarakan festival puisi berbasis budaya lokal. Komunitas-komunitas bisa difasilitasi oleh pemerintah daerah dan balai bahasa untuk membangun kanal digital puisi. Bukan semata agar puisi eksis, tetapi agar nurani bangsa tetap menyala.

Puisi dari Sulawesi Tengah, dari kampung-kampung di Poso, dari jalanan di Palu, dari desa-desa pegunungan, adalah bagian dari percakapan besar kebudayaan Indonesia. Menjaga puisi berarti menjaga keberagaman cara merasa dan berpikir. Dari tengah negeri, puisi bisa menyapa dunia.***


[1] Penulis adalah penyair, Gubes Pendidikan  Bahasa & Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Purwokerto.

Tags: #esai
Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In