Muhammad Fathan Al Kubro
Mabel Tanaka, mahasiswi berusia 19 tahun, adalah aktivis lingkungan yang vokal menentang rencana pembangunan jalan tol oleh Walikota Jerry Generazzo. Proyek ini mengancam hutan dan telaga yang menjadi habitat berang-berang serta hewan lain, mencerminkan konflik nyata antara pembangunan ekonomi dan pelestarian alam. Ia menggunakan teknologi “hopping” untuk memindahkan kesadarannya ke robot berang-berang, memungkinkannya menyusup ke dunia hewan dan memimpin perlawanan dari dalam. Pendekatan ini menjadikan aktivismenya unik, bukan sekadar protes di dunia manusia, tapi aksi langsung yang membangun solidaritas lintas spesies.
Tema ini terinspirasi dari aktivis seperti Greta Thunberg, di mana semangat muda Mabel menantang otoritas yang acuh. Film menyoroti bagaimana aktivis sering dianggap “berlebihan” oleh masyarakat, tapi justru mereka yang melihat ancaman jangka panjang terhadap ekosistem. Melalui Mabel, Hoppers mengajak penonton merefleksikan peran individu dalam melawan deforestasi dan urbanisasi yang merusak keseimbangan alam.

Gambar dari potongan Film Hoppers
Bentuk Aktivisme dalam Narasi
Aktivisme di Hoppers digambarkan multilayer, mulai dari kampanye publik Mabel, kolaborasi dengan hewan seperti King George si berang-berang, hingga konfrontasi politik melawan walikota korup. Ia membangun aliansi antarhewan (berang-berang pembangun bendungan, burung penggosip, dan spesies lain) yang menunjukkan pentingnya kerjasama komunitas dalam aktivisme. Ini bukan aktivisme soliter, tapi gerakan kolektif yang menekankan empati sebagai senjata utama.
Film juga menyisipkan kritik sosial, politisi seperti Jerry mewakili kepentingan korporat yang mengorbankan lingkungan demi pemilu, sementara akademisi digambarkan egois dan terpisah dari realitas ekologi. Mabel’s journey mengubah idealisme menjadi obsesi produktif, di mana ia belajar bahwa aktivisme efektif memerlukan pemahaman mendalam tentang “suara” yang terdiam, yaitu hewan-hewan tersebut. Pesan ini disampaikan tanpa menggurui, melalui humor visual seperti berang-berang yang “berang” (marah) saat habitatnya diganggu.
Relevansi dengan Isu Global
Di era perubahan iklim 2026, Hoppers relevan dengan isu seperti COP31 dan target net-zero Indonesia. Aktivisme Mabel mencerminkan gerakan lokal seperti penolakan tambang di Kalimantan atau protes bendungan di Jawa Tengah, di mana komunitas adat dan aktivis lingkungan bersatu melawan pembangunan destruktif. Film ini menjadikan aktivisme “cool” bagi Gen Z, dengan elemen teknologi yang menjembatani generasi muda dengan sains ekologi.
Pixar berhasil membungkus pesan berat ini dalam 105 menit hiburan keluarga, di mana aktivisme bukan akhir cerita, tapi katalisator perubahan sistemik. Penonton diajak bertanya, apakah kita siap “hop” ke perspektif lain untuk menyelamatkan bumi? Ini membuat Hoppers lebih dari animasi.
Dampak Budaya dan Pendidikan
Secara budaya, film ini memicu diskusi di media sosial tentang aktivisme lingkungan, dengan hashtag #HoppersUntukAlam trending pasca-rilis Maret 2026. Bagi pendidik, Hoppers ideal untuk kelas IPA/Sosial, mengintegrasikan analisis literatur (simbolisme berang-berang sebagai pekerja keras alam) dengan isu kontemporer. Anak-anak belajar nilai empati, sementara dewasa direfleksikan atas komplisitas dalam konsumsi berlebih.
RIWAYAT PENULIS
Muhammad Fathan Al Kubro lahir pada tanggal 7 Mei 2002, Fathan lahir di Purworejo, tumbuh besar di jakarta. Dia mulai menguasai kedalaman ilmunya saat di bangku sekolah menengah pertama sampai akhirnya bisa lulus dan tamat dari sekolah menengah atas yaitu di Boarding School Daaruttaqwa, Cibinong, Bogor pada tahun 2020. Ia melanjutkan jenjang sekolahnya ke perguruan tinggi negri di daerah Purwokerto, salah satu yang terbaik di karesidenan Banyumas Raya yaitu UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

