Oleh Endah Kusumaningrum
Ada perasaan yang menggelitik ketika diminta untuk membedah karya yang lahir dari ruang yang pernah membentuk saya, PBSI UMP. Melalui (Menjelang) Kulminasi Sastra, kita diajak melihat tradisi sastra dari jarak yang lebih dekat dan lebih personal. Tidak lagi semata-mata membicarakan nama besar dalam sejarah sastra Indonesia, tetapi menengok bagaimana sastra hidup di lingkungan kampus: ditulis, dibaca, diperdebatkan, lalu diwariskan dari satu generasi mahasiswa kepada generasi berikutnya.
Yang membuat buku ini menarik justru keberaniannya memilih ruang yang selama ini sering dianggap terlalu kecil untuk dibicarakan dalam konteks sejarah sastra. Alih-alih bergerak ke wilayah kanon sastra nasional yang besar dan mapan, buku ini menyoroti karya-karya dosen, mahasiswa, dan alumni Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto, yang kemudian dibaca kembali oleh mahasiswa lain dari lingkungan yang sama. Dari sini, sastra terasa lebih membumi. Ia tidak hadir sebagai sesuatu yang jauh dan agung, tetapi sebagai sesuatu yang tumbuh di sekitar kita.Barangkali di situlah letak penting buku ini. Ia mencoba merekam denyut sastra dari ruang yang sering luput dicatat. Kampus tidak hanya menjadi tempat belajar teori sastra, tetapi juga ruang tempat tradisi sastra dibangun secara perlahan melalui kebiasaan membaca, menulis, mengkritik, dan mendiskusikan karya. Dalam konteks ini, (Menjelang) Kulminasi Sastra bukan sekadar kumpulan pembacaan karya sastra, melainkan semacam penanda bahwa sebuah komunitas sastra sedang bertumbuh.
Menulis Sejarah dari Perspektif yang Lebih Dekat
Selama ini, sejarah sastra sering dipahami sebagai sesuatu yang besar dan formal. Kita mengenalnya melalui periodisasi sastra, nama-nama sastrawan penting, atau karya-karya yang sudah dianggap mapan dalam khazanah sastra Indonesia. Cara pandang semacam itu memang penting, tetapi kadang membuat kita lupa bahwa sejarah sastra juga dibentuk oleh ruang-ruang kecil yang terus hidup dan bergerak.
Melalui buku ini, mahasiswa tidak hanya diajak membaca karya sastra yang sudah dianggap “selesai”, tetapi juga melihat bagaimana sastra tumbuh di sekitar mereka sendiri. Ada upaya untuk mendekatkan sastra dengan pengalaman sehari-hari mahasiswa, dengan lingkungan akademik yang mereka tinggali, bahkan dengan relasi antargenerasi di kampus. Hal semacam ini terasa penting karena mahasiswa tidak lagi hanya menjadi penikmat atau penghafal sejarah sastra, tetapi ikut terlibat di dalam prosesnya.
Dalam beberapa bagian, terasa bahwa buku ini ingin menunjukkan bahwa sastra kampus bukan sekadar aktivitas akademik pelengkap perkuliahan. Ada usaha untuk membangun kesadaran bahwa karya-karya yang lahir di lingkungan kampus juga layak dibaca, dibicarakan, bahkan dikritisi secara serius. Kesadaran semacam ini menurut saya penting, terutama di tengah kecenderungan banyak komunitas akademik yang lebih sibuk mengagumi tradisi besar daripada merawat tradisinya sendiri.
Menariknya lagi, pembacaan yang dilakukan mahasiswa tidak berhenti pada aspek estetika karya semata. Beberapa tulisan mulai menyentuh isu sosial, relasi manusia dengan lingkungan, pengalaman personal, hingga dinamika kehidupan kampus itu sendiri. Di titik ini, sastra menjadi lebih hidup karena ia tidak hanya diposisikan sebagai teks, tetapi juga sebagai cara memahami realitas.
Membaca Karya, Membaca Cara BerpikirHal lain yang terasa menarik dari (Menjelang) Kulminasi Sastra adalah bagaimana buku ini memperlihatkan proses mahasiswa dalam membaca karya sastra. Di beberapa bagian, pembacaan mereka masih terasa sangat akademik dan berhati-hati. Namun justru di situlah kita bisa melihat proses tumbuhnya tradisi kritik sastra di lingkungan kampus.
Saya kira, buku ini tidak perlu dibaca sebagai kumpulan kritik sastra yang sudah sepenuhnya matang. Yang lebih penting justru bagaimana ia merekam keberanian mahasiswa untuk mulai membaca karya secara kritis dan mencoba menyusun argumentasi mereka sendiri. Ada usaha untuk tidak sekadar memuji karya, tetapi juga menafsirkan dan mempertanyakan berbagai hal di dalamnya.
Meski demikian, ada satu hal yang menurut saya masih bisa dikembangkan lebih jauh, yakni ruang dialog antara pembaca dan pencipta karya. Dalam beberapa tulisan, pembacaan terhadap karya terasa masih berdiri dari satu arah. Padahal, menarik juga jika pembacaan sastra dibuka lebih jauh melalui percakapan dengan penulis mengenai proses kreatif, latar pengalaman, atau konteks yang melahirkan karya tersebut. Dengan begitu, kritik sastra tidak hanya berhenti pada tafsir pembaca, tetapi juga membuka kemungkinan pemahaman yang lebih utuh dan lebih manusiawi.
Selain itu, sebagai buku yang lahir dari lingkungan akademik bahasa dan sastra, ketelitian kebahasaan juga menjadi hal penting. Masih ada beberapa penggunaan istilah, kekeliruan penulisan, maupun informasi yang tampaknya perlu diperiksa kembali. Barangkali hal ini terlihat teknis, tetapi tetap penting karena buku semacam ini berpotensi menjadi dokumentasi sejarah sastra kampus di masa depan. Akan sangat disayangkan jika ada detail yang justru mengaburkan dokumentasi tersebut.
Sastra yang Tidak Berhenti di Ruang KelasYang saya sukai dari buku ini adalah kesadarannya bahwa sastra tidak berhenti di ruang kelas. Sastra hidup melalui percakapan, pembacaan ulang, kritik, bahkan melalui kegelisahan mahasiswa terhadap dunia di sekitarnya. Karena itu, beberapa tulisan dalam buku ini terasa mencoba menghubungkan karya sastra dengan persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sendiri.
Hal ini penting karena sastra kampus sering kali terjebak hanya menjadi tugas akademik yang selesai setelah dinilai dosen. Padahal, ketika sastra mulai dipakai untuk membaca persoalan sosial, pengalaman personal, atau perubahan budaya di sekitar mahasiswa, ia mulai memiliki daya hidup yang lebih panjang.
Di titik inilah saya merasa (Menjelang) Kulminasi Sastra memiliki posisi yang menarik. Ia tidak sedang mencoba menjadi buku teori sastra yang rumit, tetapi berusaha merekam bagaimana sastra hidup di lingkungan kampus: dibaca oleh mahasiswa, diperdebatkan oleh mahasiswa, lalu ditulis kembali oleh mahasiswa. Ada semacam upaya untuk menjaga kesinambungan tradisi, meskipun dalam bentuk yang sederhana.
Dan mungkin memang begitulah sejarah sastra bekerja. Ia tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Kadang ia tumbuh perlahan dari ruang-ruang kecil, dari komunitas yang saling membaca, dari mahasiswa yang mulai berani menulis, atau dari kampus yang mencoba mengingat kembali tradisi sastranya sendiri.
Karena itu, membaca (Menjelang) Kulminasi Sastra bagi saya bukan hanya membaca kumpulan tulisan tentang sastra. Ia juga seperti membaca sebuah komunitas yang sedang berusaha mengenali dirinya sendiri melalui sastra.
