Tawasul Nuril Anwar
LURUH DALAM KENANGAN
Hujan Tak Pernah keliru memilih waktu
Justru kenanganlah yang menghadirkan basah dipipimu
ia datang tanpa Aba-aba
menyelip disela senyap senja
membuka Luka-luka lama
yang kukira telah lupa
rintiknya jatuh satu satu
membawa rindu yang tak pernah utuh
lalu malam memelukmu begitu jauh
dan kau tau?
bukan hujan yang membuatmu pilu
tapi rindu yang menghujam padamu setiap waktu
Purbalingga, 10 Maret 2026
Tawasul Nuril Anwar
CINTA
Cinta bukan variabel yang harus selalu diuji,
Atau rumus rumit yang dipaksa untuk presisi.
Ia hanyalah dua titik yang sepakat bertemu,
Membangun ruang di antara kau dan aku
Tak perlu ekspektasi setinggi langit biru,
Cukup saling menjaga agar tetap satu sumbu.
Sebab yang indah bukan sekadar kata “selamanya”,
Tapi bagaimana kita tetap searah dalam beda
Purbalingga, 10 Maret 2026
Ummu aeni Lutfiah
TANPA ALASAN
kita pernah dekat
sedekat doa yang tak terucap
tapi diam-diam diaminkan
kita pernah hangat
sehangat senja yang enggan gelap
meski akhirnya tetap tenggelam
lalu waktu datang
menghapus tanpa bertanya
memisahkan tanpa alasan
dan kini
kita hanya cerita
yang hampir jadi nyata
Purbalingga, 12 April 2026
Ainaya Kiromil Baroroh
ALAMAT YANG BARU
Kini kau telah berpindah
Ke alamat yang tak lagi mengenal hiruk manusia
Sepotong kain sunyi
Memeluk tubuhmu
Lebih rapat dari pelukan kami dulu
Di rumah barumu yang senyap
Barangkali tak ada lagi nyeri
Yang dulu diam-diam kau sembunyikan
Sementara di sini
Bangunan kehilangan suaranya
Senyum-senyum gugur perlahan
Seperti daun
Yang lepas dari ranting musimnya
Air mata jatuh tanpa aba-aba
Mengalir dari mata
Yang belum siap
Menerjemahkan kata kehilangan
Malam terasa lebih panjang
Tawa yang dulu berlari di lorong-lorong
telah pergi bersamamu
Yang tersisa hanya suara jangkrik
Menjahit sunyi
Hingga pagi tiba
Purwokerto 7 Maret 2026
Akbar Fadillah
RIWAYAT RINDU DI HALAMAN YANG TAK USAI
Aku pernah menulis rindu
pada sebuah halaman yang sederhana.
Kupikir ia akan selesai
seperti cerita yang lain:
ditutup, dilipat, lalu disimpan.
Namun setiap kali kubaca kembali
tinta itu seakan bertambah.
Ada langkah yang belum kembali,
ada suara yang masih berjalan di ingatan.
Rindu ternyata tidak mengenal titik.
Ia hanya berpindah baris,
menjadi riwayat panjang
yang terus ditulis oleh waktu.
Purwokerto, 11 Maret 2026
Akhmad Faiz Al Qorni
TUNAS DI PINGGIR TROTOAR
Di pinggir jalan yang berdebu dan resah
anak kecil itu berdiri bagai tunas rapuh
tumbuh di celah trotoar retak aspal panas
mencari nafkah untuk dua adik di bangku sekolah
Keranjangnya perahu kecil di lautan hiruk
mengayuh antara roda mobil dan klakson menggelegar
matahari membakar kulit bagai bara neraka
hujan deras mengguyur bagai air mata langit
Tantangan datang bagai angin ribut malam
pedagang liar mengusir polisi lambaikan tangan
perut keroncongan menyanyi lagu kelaparan
tapi senyumnya tetap bunga mekar di badai
Setiap koin tetes embun pagi yang langka
dikumpul jadi sungai harapan untuk buku tulis
adik adiknya bintang kecil di ufuk sekolah
tak patah semangat akarnya menembus batu keras
Di bawah lampu jalan yang kuning pudar
ia berbisik pada bintang “Kita lanjut berenang”
tunas itu tak layu meski dunia menginjak
hidup bagai api kecil yang tak pernah redup
Purwokerto 16 April 2026
Akhmad Faiz Al Qorni
RUNTUHNYA BUMI CINTA
Kau turun bagai petir membelah padang gersang hatiku
merobek tanah retak jadi sungai darah yang mengamuk
aku jatuh ke pelukanmu yang menganga ganas
sejatuh ke inti bumi mendidih membara tak terkira
Napasmu racun manis melepuh kulit hingga tulang
bulan retak di sorot matamu liar penuh badai
setiap helaan gempa kecil yang mengguncang relung
tergelincir ke kawah hasrat menggelegar tak bertepi
Tak ada akar menahan hanya longsormu yang maha dahsyat
tubuhku hancur bagai batu di sungai deras neraka
pecah jadi lumpur di danau cintamu yang mendidih
air mata kita bercampur lava abadi membara
Dari puing itu barangkali mekar bunga neraka hitam
atau sekadar asap lenyap ke angkasa kelam
kini kehampaanmu menyelimuti jiwa yang remuk
cinta kubur terbuka yang tak pernah tertutup
Purwokerto, 13 Maret 2026
Riwayat Penulis
Tawasul Nuril Anwar adalah mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Ummu Aeni Lutfiah, ia mahasiswa Aktif di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Ainaya Kiromil Baroroh, merupakan mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Akbar Fadillah, ia saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Akhmad Faiz Al Qorni, saat ini Akhmad tengah menempuh Program Studi Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

