MALAM YANG MENJAGA PAGI
Jakarta belum sepenuhnya malam
ia hanya merendahkan suara
tanpa memadamkan lapar
Di bawah lampu jalan
yang menggigilkan bayangan
secangkir kopi pahit
dan sebatang rokok kretek
menyala di antara jemari yang penat
Obrolan kami tipis
seperti asap yang tak tahu arah pulang
Bang ojol itu
menyalakan mesin
seolah menyalakan ulang harapan
demi satu rumah kecil
di ujung gang
yang lebih sempit dari pilihan hidupnya
Katanya pelan,
seperti takut membangunkan kenyataan
Dan ia berkata pelan,
“Malam memang panjang,
tapi anak-anak tetap butuh pagi.”
Ucapnya lirih,
matanya menatapku dalam
Kalimat itu tidak tinggi,
tidak pula lantang,
kata-katanya jatuh pelan,
namun terasa lebih berat
dari bisingnya Jakarta malam itu.
Asap rokok di jariku mendadak hambar,
kopi yang tadi menghangatkan
kini terasa seperti teguran.
Di kota yang tak pernah benar-benar tidur
aku akhirnya mengerti
cahaya tidak pernah gratis
Selalu ada yang membayar dengan kantuk
dengan umur yang pelan-pelan habis
di atas jok yang tak sempat bermimpi
Jakarta terang,
Karena ada yang rela menjadi malam
Jakarta, 7 Februari 2026
DUA LEMBAR ABU-ABU
Siang itu tak berbeda dari hari-hari lain
Gelap dan terang hanya bertukar nama
Seperti biasa, kutaruh air di atas api,
berharap ada yang ikut matang di dalam.
Uap naik tanpa tergesa.
Waktu menggantung di atas kepala.
Sepasang sepatu dan seragam kusut
membawa bau jalanan
perlahan menghampiri.
“Es Nutrisari jeruk,” katanya.
Kuseduh yang manis
dengan tangan yang belajar tenang.
Ia duduk bersama dua pekerja proyek.
Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan.
Telingaku hanya menangkap
kata-kata yang kehilangan isi.
Ponsel di saku seragamnya berdering.
“Mungkin dari rumah,”
ujarku dalam hati.
Ia bangkit tergesa.
Seragamnya ikut bergerak
seperti tak pernah lelah menyuruh.
Dua lembar abu-abu
jatuh tak tepat di atas meja.
“Saya buru-buru.”
Gelas masih mengepulkan manis.
Uapnya naik,
lalu hilang tanpa sempat menjadi awan.
Dua tangan berdebu tetap tinggal
sementara seragam yang bersih paling dulu pergi.
Yang hilang bukan uang.
Bukan kesopanan kecil.
Yang hilang
adalah rasa tanggung jawab
yang seharusnya melekat pada seragam
Dan sejak itu aku tahu harga dingin selalu lebih mahal dari rasa jeruk yang manis.
Siang tetap berjalan,
yang dingin tak pernah belajar hangat.
Jakarta, 4 Februari 2026
DI TEPI ALIRAN
Tok. Tok.Tok.
Suara itu pernah membuatku bergegas
Kini ia hanya gema
yang singgah sebentar di benak
Pintu tetap berdiri pada tempatnya
tanpa lagi menunggu siapa pun kembali
Hujan datang dan pergi,
membawa sisa-sisa hari
yang pernah kita lalui
tanpa tahu pintu itu mengarah ke ruang lain
Jam di dinding terus berdetak
Tak ada lagi waktu yang retak
hanya reka ulang yang mengetuk dari dalam
Hujan turun tanpa perlu ditahan
Dan aku berdiri di tepi aliran,
tak lagi hanyut.
Beberapa hal memang tak tinggal lama
Ia hanya mampir,
mengubah arah langkah
Kau adalah musim itu
yang pernah singgah
lalu pergi
tanpa benar-benar hilang
Purbalingga, 30 November 2025
NASKAH TANPA TINTA
Waktu menggiringku
melewati goa gelap
naskah kosong terbuka di tanganku,
dingin, menunggu.
Di setiap belokan
halaman tetap hitam;
tinta enggan menetes.
Hanya bayang kata
terselip di celah waktu,
berbisik tanpa suara,
mengintip, lalu lenyap.
Sang Dalang katanya menulis segalanya,
namun di tanganku
naskah itu berubah menjadi abu
sebelum sempat kubaca
Aku menulis sendiri,
dengan langkah diam,
jejak tak terlihat.
Tinta paling nyata yang kutulis
adalah aku.
Dan bila dunia lupa namaku,
naskah ini akan tetap bergetar
di antara kata yang tak tertulis
di antara waktu yang tak pernah berhenti
Purbalingga, 5 Maret 2026
POJOK GAOK
Sejauh apa pun langkah menafsirkan dunia,
selalu ada yang tertinggal
Pojok gaok
bangku kayu menyimpan lekuk
tubuh-tubuh yang pernah singgah;
sore turun
di antara sisa tawa
Garis pembatas
kapur di tanah;
hujan lewat
ia lupa pernah ada
Yang jauh
meredup di tikungan
menyisakan separuh bunyi
Waktu
menumpuk hari-hari;
kita melangkah
tanpa menoleh
seakan tak ada
yang berjalan lebih lambat
di belakang kita
Kita tak benar-benar pulang
hanya berputar
pada wajah-wajah
yang kini lebih banyak diam;
dan sesuatu
yang tak sempat kita bawa
tinggal
tanpa nama
Tahun depan:
bangku yang sama,
nama-nama
yang tak lagi dipanggil.
Pertemuan singkat
tak beranjak
tinggal
di sudut yang tak ikut berubah
Pojok Gaok, 18 Maret 2026
Riwayat Penulis
Kukuh Pribadi Aqil Hidayat adalah mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini ia Aktif Menulis dan berorganisasi di Komunitas Sabudaya.

