Purbalingga, 13 Mei 2026
PURBALINGGA — Komunitas Sastra, Bahasa, dan Budaya Indonesia (SABUDAYA) resmi dilantik pada Rabu, 13 Mei 2026, di Aula Gedung Dakwah lantai 2 Kampus 2 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto (UIN Saizu) Purbalingga. Pelantikan yang bersamaan dengan Workshop bertajuk “Simfoni Sastra” ini dihadiri sekitar 100 peserta dari kalangan mahasiswa lintas jurusan, pegiat literasi, komunitas sastra, dan masyarakat umum. Kehadiran komunitas ini menandai lahirnya gerakan baru literasi dan kebudayaan mahasiswa di lingkungan UIN Saizu. Komunitas SABUDAYA digagas oleh Abdul Wachid B.S. bersama mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan literasi kampus, dan resmi didirikan pada Rabu 25 Februari 2026. Nama “SABUDAYA” secara sederhana dimaknai sebagai “satu budaya”, selaras dengan semangat komunitas untuk menyatukan berbagai kreativitas mahasiswa melalui sastra, bahasa, dan budaya Indonesia
Logo SABUDAYA memiliki makna filosofis yang merepresentasikan semangat komunitas. Bentuk lingkaran melambangkan keterbukaan dan keberlanjutan nilai budaya yang terus diwariskan tanpa batas. Pena bulu menjadi symbol sastra, Sejarah, dan komunikasi melalui tulisan, sedangkan motif batik pada pena menunjukan akar budaya Indonesia dalam setiap karya. Siluet lima orang mencerminkan nilai Pancasila, rukun Islam, serta semangat kebersamaan dan kesetaraan dalam komunitas. Gestur tangan yang menjalur melambangkan komitmen Bersama untuk bergeak melestarikan budaya dengan niat baik dan penuh kesopanan.
Komunitas SABUDAYA menjadi wadah pembelajaran kepenulisan yang berjalan secara gratis dan istiqamah dengan pendampingan dari Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Lembaga Kajian Nusantara Raya UIN Saizu. Melalui pola pembelajaran “asah, asih, asuh”, Mahasiswa diajak tidak sekadar belajar menulis, melainkan bertumbuh sebagai pemikir, pembaca, dan penulis yang memiliki kepekaan sosial dan budaya.
Prosesi Pelantikan
Pelantikan pengurus SABUDAYA dilakukan oleh Muhammad Fathan Al-Kubro setelah sebelumnya ia dilantik sebagai Kepala Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) oleh Abdul Wachid B.S. selaku Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura). Prosesi berlangsung khidmat, ditandai dengan pembacaan komitmen bersama pengurus SABUDAYA untuk menjadikan komunitas sebagai ruang kreatif yang bergerak di bidang sastra, bahasa, dan budaya.
etua SABUDAYA Muhammad Sahal Anifan menegaskan bahwa komunitas tersebut dibangun sebagai rumah kreatif mahasiswa lintas disiplin.
“Kami ingin SABUDAYA menjadi ruang belajar bersama, tempat mahasiswa bertumbuh melalui diskusi, kepenulisan, dan gerakan literasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Seruan Menghidupkan Kembali Tradisi Kepenulisan Kampus
Dalam sambutannya, Abdul Wachid B.S. menegaskan pentingnya menghidupkan kembali gerakan literasi mahasiswa agar tradisi kepenulisan yang telah tumbuh di UIN Saizu sejak awal tahun 2000-an tidak terputus. Menurutnya, banyak penulis dan pegiat sastra Banyumas lahir dari gerakan komunitas mahasiswa yang berkembang secara bottom up, bukan semata dari ruang kelas formal.
“Mahasiswa jangan hanya menjadi konsumen budaya dan media sosial. Kampus harus melahirkan penulis, penyair, dan pemikir yang mampu merawat kebudayaannya melalui karya,” tegasnya
Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya sibuk mengejar sertifikat dan kelulusan akademik tanpa meninggalkan karya yang hidup di tengah masyarakat.
Selain itu Muhammad Fathan Al-Kubro kepala (SKSP) juga menyampaikan bahwa Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban akan diarahkan menjadi ruang pembinaan kreatif bagi mahasiswa.
“Sastra tidak lahir dari teori semata, tetapi dari Latihan, pembacaan, pengalaman hidup, dan keberanian menyampaikan gagasan. Karena itu, komunitas dan ruang belajar harus dihidupkan,” katanya.
Workshop Simfoni Sastra: Belajar dari Para Pegiat Sastra
Workshop Simfoni Sastra menghadirkan sejumlah pemateri dari latar sastra dan akademik yang beragam. Bayu Suta Wardianto menyampaikan materi penulisan cerpen dengan menekankan pentingnya pengalaman hidup dan kedekatan dengan realitas sosial sebagai sumber penciptaan cerita. Tania Rahayu mengajak peserta memahami puisi sebagai ruang pengolahan kepekaan batin dan sublimasi pengalaman estetik. Sementara itu, Ilham Rabbani menyoroti pentingnya penulisan esai sebagai latihan berpikir kritis mahasiswa dalam membaca persoalan sosial dan budaya. Selain itu kegiatan Workshop Simfoni Sastra dan pelantikan SABUDAYA turut mendapat dukungan sponsorship dari Mutiara Rezeki Internasional dan Skintific Repair Your Skin Barrier yang mendukung terselenggaranya kegiatan literasi dan kreativitas mahasiswa.
Sejak siang hari, aula kegiatan dipenuhi peserta dari berbagai program studi Fakultas Dakwah, Fakultas Sains dan Teknologi Kampus 2 UIN Saizu, serta mahasiswa dari Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi tanya jawab dan diskusi yang berlangsung hingga menjelang sore hari.
Workshop dan pelantikan pengurus SABUDAYA ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para pemateri dan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta dan panitia.
Struktur Komunitas dan Program Kerja
SABUDAYA saat ini memiliki 20 anggota aktif yang terdiri dari pengurus inti dan beberapa divisi, yaitu Divisi Kepenulisan, Publishing, dan Dokumentasi. Komunitas ini merupakan inisiasi mahasiswa semester dua Fakultas Dakwah meliputi program studi KPI, BKI, PMI, dan MD serta mahasiswa Program Studi Informatika Fakultas Sains dan Teknologi Kampus 2 UIN Saizu Purbalingga.
SABUDAYA memfokuskan pembelajaran pada berbagai bidang kepenulisan, mulai dari resensi buku, puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah populer, hingga artikel jurnal dan proses penerbitannya. Komunitas ini berupaya menghubungkan dunia sastra kreatif dengan dunia akademik melalui ruang belajar yang hangat dan terbuka.
Program kerjanya meliputi Literasi Mingguan, One Week One Work, pelatihan jurnalistik dasar, kelas menulis puisi dan cerpen, reading club, bedah gaya selingkung media, serta penerbitan karya anggota. Ke depan, SABUDAYA bercita-cita menjadi UKM resmi dan memiliki sekretariat tetap di Kampus 2 Purbalingga sebagai pusat literasi mahasiswa UIN Saizu.
Di tengah budaya digital yang serba cepat, lahirnya SABUDAYA menjadi penanda bahwa sastra dan kebudayaan masih menemukan rumahnya di kampus dan dari ruang kecil itulah, generasi baru penulis Banyumas diharapkan kembali tumbuh dan menjaga denyut kebudayaan Indonesia
