Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Esai

Esai Rudiana Ade Ginanjar

Admin by Admin
29 Juni 2026
0
Esai Rudiana Ade Ginanjar

Screenshot

Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

RUMAH CHAIRIL

Di Dinding Sebuah rumah pemondokan itu terdapat selembar lukisan. Sebuah tradisi yang lazim di masyarakat Jawa tergambarkan dalam wujud ilustrasi. Sebuah laku gotong royong. Sambatan, demikian kami biasa menyebutnya. Namun, rumah yang mereka dirikan di sana, dalam ilustrasi itu, adalah sebuah rumah besar bernama Indonesia.

Perihal bangun-membangun tersebut pernah menjadi salah satu topik menarik Toni Morrison. Perempuan penulis kulit hitam Amerika tersebut dengan nelangsa menggambarkan babak menegangkan dari upaya besar-besaran mendirikan rumah oleh seorang perintis awal di benua yang masih perawan di kisaran abad ketujuh belas. Novel A Mercy (2008; Belas Kasih, 2018) itu sendiri berkisah sebagian besarnya tentang para penyintas. Sekelompok orang penyintas yang pada akhir dikumpulkan oleh satu perasaan senasib, dan juga takdir, di sebuah tempat yang jauh dari muasal mereka. Jika bukan sebagai tempat berlindung, adakah kegunaan utama lain yang mendesak kita untuk mendirikan rumah? Kelompok kosmopolit tentu tidak cukup setuju dengan alasan tersebut. Dan juga bagi orang-orang gipsi. Zaman dari orang-orang nomaden memang telah berlalu tapi ciri khas dari keberadaan manusia yang bergerak telah mengubah perilaku tersebut dalam cara-cara baru. Kegelisahan, ketidakpuasan, pencarian atau kebanggaan telah menunjang sekian alasan dari petualangan. Suku-suku di Mongol telah lama mewariskan jejak kebiasaan tersebut sebelum akhirnya mereka menjadi satu ras yang ditakuti bahkan melebihi dataran Asia.

Jika sebuah rumah menjadi semisal benteng, maka ketakutan apakah yang berdiam dalam diri kita hingga mendesak pendirian tembok dan atap dan pintu-pintu yang terkunci? Rumah-rumah kelompok makhluk hidup katai, hobbit, konon telah ditanam sejak dulu dalam sebuah liang. Menyatu bersama bukit alih-alih mengemuka ke permukaan tanah. Mereka, hobbit tersebut, berhadapan dengan suatu realitas akan keberadaan musuh-musuh bertubuh besar. Dalam perjalanannya, rumah-rumah kini berhadapan dengan kekuatan yang terus-menerus sulit ditebak: alam. Sebagaimana musim dingin tak terkira di masa lalu Amerika yang memaksa Jacob Vaark, tokoh utama novel Morrison itu, seorang pebisnis dan imigran Eropa, membuat benteng dari kayu-kayu berlimpah hutan benua Amerika. Terdapat sesuatu yang mesti dikorbankan, dirusak dari sifat alami mereka, yakni kuasa supranatural masa silam. Suku-suku di mana saja telah memiliki suatu tata nilai. Pelanggaran terhadap hukum tersebut berakibat langsung atau tidak langsung. Pada umumnya, sesepuh dari suatu kelompok adat selalu meyakini keselarasan. Hari ini, nilai-nilai tersebut masih dan akan terus menjadi warisan. Jika tidak mewujud dalam nuansa sedih bernama museum, sebuah jejak terakhir, kebudayaan leluhur berkembang menjadi tuturan visual dan teks. Pertinggal. Teralih wujud ke ruang-ruang kecanggihan abad kedua puluh satu ini, yang sebagian besarnya telah mendasari beragam jenis permainan elektronik anak-anak. Hari-hari kelompok penjaga tersebut bersisian dengan hari-hari keagamaan atau kepentingan nasional. Dalam keberhasilannya di bidang properti, laku kepercayaan fengsui dari Tiongkok kerap menjadi dasar kebijakan struktur bangunan. Sesuatu berbalik kini: apa yang dulu menerabas kini sangat bergantung pada keberadaan yang mereka rusak.

Dalam narasi multiperspektif itu, Toni Morrison menjelaskan nasib sang ekspatriat dengan kekalahan. Dan budak-budak yang ia terima dan hidup dengan baik bersama istrinya, menjadi orang-orang yang mewarisi bangunan besar menyeramkan tanpa mereka tahu cara menggunakannya. Orang-orang telah berubah, pada proses pembauran tersebut, oleh pergulatan mereka dengan alam. Sebagaimana iman mengubah seseorang, sebuah rumah menegaskan dengan lebih kuat keberadaan seorang. Hukum tertentu mungkin belum tercapai, tapi secara de facto manusia lebih nyata dan bertuju. Sesuatu yang terjadi dengan rumah megah tengah hutannya Toni Morrison telah diwanti-wanti dalam salah satu tulisan Raudal Tanjung Banua mengenai topik serupa, “Pohon Hayat IKN dan Hayat Pohon Kalimantan”. Rumah besar yang kita tengah bangun bersama ini adalah rumah masa depan ketenteraman bangsa Indonesia. Dalam artikel tersebut, Raudal memilih berpihak, sebagaimana Morrison, terhadap kekuatan silam yang mengakar kuat dalam kebudayaan orang-orang primitif. Dan menuju ke sana, dengan hati-hati rumah besar baru Indonesia mencari keselarasan melalui penerapan struktur wilayah yang menggambarkan kebudayaan dan filosofi nusantara. Manusia tidak selalu lupa dengan sangkan paraning dumadi.  

Di sisi lain, hal yang mungkin lebih sadar adalah pendirian tegas dan emosional Chairil Anwar akan rumah. Bukan lagi ciri ragawi yang diperhitungkan melainkan kemampuan yang mendasarinya. Bukan lagi seberapa besar, melainkan dari mana bangunan itu mewujud. Watak romantik menyiratkan kemandirian pribadi dan itulah jawaban atas kritik Chairil Anwar. Seorang penyair, ia berkata: “Rumahku dari unggun-timbun sajak/Di sini aku berbini dan beranak” (Anwar, 2012:27). Perseteruan masa lalu dan masa kini tidak ada. Yang sakral dan modern hilang. Bagaimana menemukan bentuk rumah seperti yang dikehendaki sang penyair tersebut? Apakah ia adalah sebuah pengejawantahan baru kita akan nilai? Mengapa bukan “gedong lebar halaman” ataupun “kemah” yang ingin penyair itu tempati? Pasti terdapat simbol atau metafora di sana. Sebuah filosofi yang dikenal lama dan terus bergaung: home sweet home, baiti jannati dan sebagainya. Namun, saya lebih suka menyebut rumah yang ia maksud sebagai rumah kesadaran diri. Sikap rendah hati yang secara lugas dikatakannya, yang menyiratkan bukan perihal kesederhanaan atau keberlimpahan melainkan kemampuan. Dan dalam banyak kejadian, orang-orang membutuhkan yang lain bagi rumah mereka masing-masing. Kita butuh gotong royong. Sambatan, demikian kami menyebutnya. (*)  

Riwayat Penulis

Rudiana Ade Ginanjar, lahir di Cilacap, 1985. Menulis puisi, esai, dan menerjemahkan. Karya-karyanya diterbitkan dalam media massa cetak atau daring serta sejumlah buku. Buku puisi terbarunya berujudul Menetap (2026).

Mengelola media sosial Fb. “Rudiana Ade Ginanjar” dan blog “Ginanjar Pustaka”. Tinggal di desa perbatasan Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Pos-el: ginanjarpustaka@gmail.com. Telp./WA: 081327581231.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

12 Juni 2022
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In