BALADA ULANG TAHUN LALA
Di halaman angin
kakekku menghitung bintang.
Malam masih muda.
Asap kopi naik perlahan
ke dahan-dahan langit.
Lalu seekor burung malam
hinggap di jendela.
Di paruhnya
tergantung nama seorang perempuan.
Lala.
Nama itu berayun
di atas meja kayu.
Kakekku tersenyum.
“Bersiaplah berjalan jauh.”
Burung malam itu
mengepakkan sayapnya.
Bintang-bintang bergeser.
Dan aku menyimpan nama itu
di dalam dadaku.
Tahun-tahun berlalu.
Burung malam itu
terbang di atas musim.
Ia menyaksikan sebuah akad
yang sederhana.
Ia berteduh di atas tikar
yang digelar untuk dua orang.
Ia menjaga lampu kecil
sampai subuh.
Ia menghitung hari-hari
yang dijalani dengan hemat.
Ia menemukan seorang perempuan
menyimpan letihnya
di balik senyum.
Burung malam itu
terbang semakin jauh.
Ia menyaksikan anak-anak tumbuh.
Ia mengikuti doa-doa
yang naik dari rumah kecil kami
seperti asap yang tak putus-putus.
Lalu pada suatu hari
aku kehilangan jalan
di dalam bayanganku sendiri.
Malam menjadi panjang.
Dan burung malam itu
berputar-putar
di atas atap rumah.
Ketika fajar tiba
aku mendapati perempuan itu
masih berdiri
di ambang pintu.
Tahun-tahun kembali berlalu.
Burung malam itu datang lagi.
Hinggap di jendela yang sama.
Jendelanya telah menua.
Rambut kami telah memutih.
Namun paruhnya masih membawa
nama yang sama.
Lala.
Aku membuka jendela.
Burung itu terbang.
Ke arah langit
yang dahulu dibaca kakekku.
Tinggal sehelai bulu
jatuh di meja.
Aku memandangnya lama.
Di luar,
angin bergerak perlahan.
Di dalam rumah,
seorang perempuan
sedang menyiapkan pagi.
2026
MEMBACA USIA
usia bukanlah hanya
angka yang bertambah
ia adalah kitab
yang dibuka halaman demi halaman
aku membacamu
sejak rambutmu masih sepanjang senja
dan matamu menyimpan
cahaya bulan yang membuatku
kehilangan arah pulang
tahun-tahun membuka
halaman demi halaman
terbalik oleh angin kehidupan
aku membaca sabarmu
ketika rumah kita kekurangan
aku membaca setiamu
ketika langkahku tersandung
aku membaca maafmu
ketika aku gagal menjadi
seorang yang seharusnya
dan pada lembar yang semakin akhir
aku menemukan tulisan kecil
yang sejak lama tersembunyi
di sela-sela hidup kita
rahmat Tuhan
sering datang tanpa suara
kadang berupa seorang perempuan
yang tetap tinggal
2026
NAMA YANG TAK PERNAH PERGI
aku tidak pernah mengira
sebuah nama
lebih lama tinggal daripada tubuh yang mengucapkannya
namamu
masuk ke rumahku seperti hujan pertama
tanpa izin
tanpa suara
sejak itu
sepi tak pernah selesai di rumah ini
di gelas air di meja
ada getar halus
seperti ingatan yang dipanggil pulang
di kursi seberang
udara menyimpan lekuk tubuh
yang baru saja berdiri tanpa pamit
aku tidak memanggilmu
rumah ini mengucap namamu
seperti doa tanpa guru
jodoh
aku tak pernah mengenalnya dari siapa pun
ia cara dua jarak
yang saling mengenal dalam diam
kadang aku duduk tanpa sebab
ruang mengaku pelan
tak diciptakan untuk satu tubuh saja
bukan karena selalu bersama
tetapi dalam sunyi
ada sesuatu yang terus pulang
menuju yang sama
aku ke dapur
air di gelas terasa pernah disentuh berdua
aku kembali
cahaya dinding berubah pelan
seolah melewati nama kita
aku tak perlu memahami dunia
cukup ini
nama yang tak lahir untuk sekali panggil
tinggal seperti napas
yang tak selesai mencari tubuh
jodoh
tak pernah hadir sebagai pertemuan
tetapi rumah
yang diam-diam menolak sepi
2026
DI ANTARA TANGAN YANG
MENYIAPKAN PAGI
di dapur yang sempit
air menyanyi lebih dulu
daripada matahari
panci hitam seperti drum kecil
dipukul api yang sabar
beras jatuh ke air
seperti hujan yang lupa
dari langit mana ia turun
aku dan kamu berdiri
di panggung pagi yang sama
tanpa tirai
tanpa penonton
tanganmu menyalakan hari
tanganku memindahkan benda-benda kecil
yang diam-diam belajar menjadi rumah
radio berbisik jauh
seperti kabar dari desa yang
tertinggal di ujung nama
di meja kayu
gelas bergetar pelan
seolah menyimpan rahasia
yang enggan menjadi kata
kamu melipat kain
dan kain itu seperti menahan tangisnya
sendiri
aku menyapu lantai
debu naik sebentar
seperti kenangan yang batal pergi
di jendela
angin berhenti
lalu berubah pikiran
lalu lewat lagi
air mendidih
uap naik perlahan
seperti doa yang kehilangan langitnya
bau kopi memenuhi ruang
dan waktu berjalan lebih lambat
dari biasanya
kita tidak banyak bicara
karena benda-benda lebih dulu
mengerti bahasa kita
pintu terbuka
pintu tertutup
dan di antara bunyinya
ada nama kita yang
tak terucapkan siapa pun
di wastafel
air jatuh
seperti tangisan kecil
yang memilih diam
tanganmu basah
tanganku basah
dan sesaat
kita tidak tahu mana milik siapa
pagi tidak selesai
ia hanya berganti bentuk
di antara kita berdua
rumah ini bukan tempat tinggal
ia panggung kecil
tempat pagi berulang kali dilahirkan
oleh dua tangan
yang tak pernah meminta
namanya disebut
2026
SETELAH OPERASI MATA
setelah perban itu dibuka
aku mengira yang berubah hanyalah
cahaya
ternyata dunia
jendela lebih bening
langit lebih luas
daun-daun mangga di halaman kembali
memiliki urat dan namanya
bahkan debu di ambang pintu
tampak seperti sesuatu yang lama luput
kusalami
aku tersenyum
lalu kau lewat
membawa segelas teh
sesederhana pagi yang telah berulang
ribuan kali
namun aku terdiam
siapakah perempuan ini
yang berjalan perlahan
di antara meja dan cahaya?
siapakah yang menyimpan ketenangan
sepanjang itu di wajahnya?
aku hafal suaramu
seperti seseorang mengenali
mata airnya sendiri
di tengah keramaian
aku mengenali langkahmu
bahkan sebelum
sampai di depan pintu
aku tahu
dari bunyi air pertama
dan nyala api yang kecil
bahwa pagi sedang dibangunkan
oleh tanganmu
aku tahu
ke mana anak-anak mencari arah
ketika namamu
melintas dari ruang ke ruang
aku tahu
bagaimana namaku
menjadi lebih teduh
ketika keluar dari bibirmu
tetapi pagi itu
aku merasa sedang berjumpa denganmu
untuk pertama kali
seakan selama ini aku tinggal di dekatmu
dengan mata yang belum sepenuhnya
terbuka
aku melihat rambutmu
dan waktu menulis peraknya sendiri
di sana
aku melihat tanganmu
dan mengerti mengapa rumah ini
selalu menemukan jalan pulang
aku melihat senyummu
dan tahun-tahun mendadak berdiri
di hadapanku
betapa banyak musim telah lewat
betapa banyak pagi telah kausiapkan
tanpa sempat kuucapkan kekagumanku
kau meletakkan teh di meja
lalu bertanya pelan
“apakah matamu sudah lebih baik?”
aku ingin menjawab “ya”
tetapi kata itu terlalu kecil
sebab yang sebenarnya terjadi
bukan mataku yang kembali melihat
dunia
tetapi dunia yang mengembalikanmu
kepadaku
sebagai perempuan yang
setiap hari kucintai
dan setiap hari pula
masih datang kepadaku
dengan wajah yang belum habis kubaca
2026
Riwayat Penulis
Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Sarjana Sastra dan Magister Humaniora di UGM, lalu menjadi dosen di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Abdul Wachid B.S. lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Sejak tahun 2023 AWBS menjadi Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Saizu Purwokerto.
Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).
