Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Log In Hikmah

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

Admin by Admin
25 Juni 2026
0
Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

BALADA ULANG TAHUN LALA

Di halaman angin

kakekku menghitung bintang.

Malam masih muda.

Asap kopi naik perlahan

ke dahan-dahan langit.

Lalu seekor burung malam

hinggap di jendela.

Di paruhnya

tergantung nama seorang perempuan.

Lala.

Nama itu berayun

di atas meja kayu.

Kakekku tersenyum.

“Bersiaplah berjalan jauh.”

Burung malam itu

mengepakkan sayapnya.

Bintang-bintang bergeser.

Dan aku menyimpan nama itu

di dalam dadaku.

Tahun-tahun berlalu.

Burung malam itu

terbang di atas musim.

Ia menyaksikan sebuah akad

yang sederhana.

Ia berteduh di atas tikar

yang digelar untuk dua orang.

Ia menjaga lampu kecil

sampai subuh.

Ia menghitung hari-hari

yang dijalani dengan hemat.

Ia menemukan seorang perempuan

menyimpan letihnya

di balik senyum.

Burung malam itu

terbang semakin jauh.

Ia menyaksikan anak-anak tumbuh.

Ia mengikuti doa-doa

yang naik dari rumah kecil kami

seperti asap yang tak putus-putus.

Lalu pada suatu hari

aku kehilangan jalan

di dalam bayanganku sendiri.

Malam menjadi panjang.

Dan burung malam itu

berputar-putar

di atas atap rumah.

Ketika fajar tiba

aku mendapati perempuan itu

masih berdiri

di ambang pintu.

Tahun-tahun kembali berlalu.

Burung malam itu datang lagi.

Hinggap di jendela yang sama.

Jendelanya telah menua.

Rambut kami telah memutih.

Namun paruhnya masih membawa

nama yang sama.

Lala.

Aku membuka jendela.

Burung itu terbang.

Ke arah langit

yang dahulu dibaca kakekku.

Tinggal sehelai bulu

jatuh di meja.

Aku memandangnya lama.

Di luar,

angin bergerak perlahan.

Di dalam rumah,

seorang perempuan

sedang menyiapkan pagi.

2026

MEMBACA USIA

usia bukanlah hanya

angka yang bertambah

ia adalah kitab

yang dibuka halaman demi halaman

aku membacamu

sejak rambutmu masih sepanjang senja

dan matamu menyimpan

cahaya bulan yang membuatku

kehilangan arah pulang

tahun-tahun membuka

halaman demi halaman

terbalik oleh angin kehidupan

aku membaca sabarmu

ketika rumah kita kekurangan

aku membaca setiamu

ketika langkahku tersandung

aku membaca maafmu

ketika aku gagal menjadi

seorang yang seharusnya

dan pada lembar yang semakin akhir

aku menemukan tulisan kecil

yang sejak lama tersembunyi

di sela-sela hidup kita

rahmat Tuhan

sering datang tanpa suara

kadang berupa seorang perempuan

yang tetap tinggal

2026

NAMA YANG TAK PERNAH PERGI

aku tidak pernah mengira

sebuah nama

lebih lama tinggal daripada tubuh yang mengucapkannya

namamu

masuk ke rumahku seperti hujan pertama

tanpa izin

tanpa suara

sejak itu

sepi tak pernah selesai di rumah ini

di gelas air di meja

ada getar halus

seperti ingatan yang dipanggil pulang

di kursi seberang

udara menyimpan lekuk tubuh

yang baru saja berdiri tanpa pamit

aku tidak memanggilmu

rumah ini mengucap namamu

seperti doa tanpa guru

jodoh

aku tak pernah mengenalnya dari siapa pun

ia cara dua jarak

yang saling mengenal dalam diam

kadang aku duduk tanpa sebab

ruang mengaku pelan

tak diciptakan untuk satu tubuh saja

bukan karena selalu bersama

tetapi dalam sunyi

ada sesuatu yang terus pulang

menuju yang sama

aku ke dapur

air di gelas terasa pernah disentuh berdua

aku kembali

cahaya dinding berubah pelan

seolah melewati nama kita

aku tak perlu memahami dunia

cukup ini

nama yang tak lahir untuk sekali panggil

tinggal seperti napas

yang tak selesai mencari tubuh

jodoh

tak pernah hadir sebagai pertemuan

tetapi rumah

yang diam-diam menolak sepi

2026

DI ANTARA TANGAN YANG

MENYIAPKAN PAGI

di dapur yang sempit

air menyanyi lebih dulu

daripada matahari

panci hitam seperti drum kecil

dipukul api yang sabar

beras jatuh ke air

seperti hujan yang lupa

dari langit mana ia turun

aku dan kamu berdiri

di panggung pagi yang sama

tanpa tirai

tanpa penonton

tanganmu menyalakan hari

tanganku memindahkan benda-benda kecil

yang diam-diam belajar menjadi rumah

radio berbisik jauh

seperti kabar dari desa yang

tertinggal di ujung nama

di meja kayu

gelas bergetar pelan

seolah menyimpan rahasia

yang enggan menjadi kata

kamu melipat kain

dan kain itu seperti menahan tangisnya

sendiri

aku menyapu lantai

debu naik sebentar

seperti kenangan yang batal pergi

di jendela

angin berhenti

lalu berubah pikiran

lalu lewat lagi

air mendidih

uap naik perlahan

seperti doa yang kehilangan langitnya

bau kopi memenuhi ruang

dan waktu berjalan lebih lambat

dari biasanya

kita tidak banyak bicara

karena benda-benda lebih dulu

mengerti bahasa kita

pintu terbuka

pintu tertutup

dan di antara bunyinya

ada nama kita yang

tak terucapkan siapa pun

di wastafel

air jatuh

seperti tangisan kecil

yang memilih diam

tanganmu basah

tanganku basah

dan sesaat

kita tidak tahu mana milik siapa

pagi tidak selesai

ia hanya berganti bentuk

di antara kita berdua

rumah ini bukan tempat tinggal

ia panggung kecil

tempat pagi berulang kali dilahirkan

oleh dua tangan

yang tak pernah meminta

namanya disebut

2026

SETELAH OPERASI MATA

setelah perban itu dibuka

aku mengira yang berubah hanyalah

cahaya

ternyata dunia

jendela lebih bening

langit lebih luas

daun-daun mangga di halaman kembali

memiliki urat dan namanya

bahkan debu di ambang pintu

tampak seperti sesuatu yang lama luput

kusalami

aku tersenyum

lalu kau lewat

membawa segelas teh

sesederhana pagi yang telah berulang

ribuan kali

namun aku terdiam

siapakah perempuan ini

yang berjalan perlahan 

di antara meja dan cahaya?

siapakah yang menyimpan ketenangan

sepanjang itu di wajahnya?

aku hafal suaramu

seperti seseorang mengenali

mata airnya sendiri

di tengah keramaian

aku mengenali langkahmu

bahkan sebelum

sampai di depan pintu

aku tahu

dari bunyi air pertama

dan nyala api yang kecil

bahwa pagi sedang dibangunkan

oleh tanganmu

aku tahu

ke mana anak-anak mencari arah

ketika namamu

melintas dari ruang ke ruang

aku tahu

bagaimana namaku

menjadi lebih teduh

ketika keluar dari bibirmu

tetapi pagi itu

aku merasa sedang berjumpa denganmu

untuk pertama kali

seakan selama ini aku tinggal di dekatmu

dengan mata yang belum sepenuhnya

terbuka

aku melihat rambutmu

dan waktu menulis peraknya sendiri 

di sana

aku melihat tanganmu

dan mengerti mengapa rumah ini

selalu menemukan jalan pulang

aku melihat senyummu

dan tahun-tahun mendadak berdiri 

di hadapanku

betapa banyak musim telah lewat

betapa banyak pagi telah kausiapkan

tanpa sempat kuucapkan kekagumanku

kau meletakkan teh di meja

lalu bertanya pelan

“apakah matamu sudah lebih baik?”

aku ingin menjawab “ya”

tetapi kata itu terlalu kecil

sebab yang sebenarnya terjadi

bukan mataku yang kembali melihat

dunia

tetapi dunia yang mengembalikanmu

kepadaku

sebagai perempuan yang 

setiap hari kucintai

dan setiap hari pula

masih datang kepadaku

dengan wajah yang belum habis kubaca

2026

Riwayat Penulis

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur.  Wachid lulus Sarjana Sastra dan Magister Humaniora di UGM, lalu menjadi dosen di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Abdul Wachid B.S. lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Sejak tahun 2023 AWBS menjadi Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Saizu Purwokerto.

Buku terbarunya : Kumpulan Sajak  Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan Sajak Penyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022).

Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

12 Juni 2022
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In