Aimmatul Hidayah Assyifa
KEMBALI KEPADAMU (ILAHI)
aku berdiri di depan pintu-Mu
pelan
yang kubawa
hanya sisa-sisa
yang belum sempat pulang
yang dulu kugenggam
satu per satu
jatuh dari tangan
tinggal ruang
yang mulai tenang
dan di dalamnya
ada sesuatu yang
diam menungguku
pulang
Aimmatul Hidayah Assyifa
SISA RUANG
ada yang tinggal
di sudut yang tak kututup
ia datang
tanpa banyak tanda
lalu terdiam
di antara pikiranku
aku tak mengusir
tak juga menahannya
hanya membiarkan
ruang itu tetap ada
meski nanti kosong
sudut itu
pernah ada
Aulil Syakila
LANGKAH DI BAWAH GERIMIS
pagi tidak lagi sekadar datang
ia menjelma sesuatu
yang harus dipikul pelan-pelan
angka-angka berderet
seperti jalan panjang
yang tak selesai dalam satu tarikan napas
di sela itu
suara-suara kecil
jatuh seperti teduh
yang tak pernah diminta
kami berjalan di bawah gerimis
bukan sekadar basah
tetapi seperti sedang dilunakkan
langkah-langkah menuju sesuatu
yang tak selalu tampak bentuknya
malam mengembalikan tubuh
pada sunyi yang lebih jujur
dan di antara rintik yang jatuh
ada yang tak terlihat
namun menjaga
tanpa pernah disebut
Dini Zulva Ikhtiari
KETIKA HATI MENJADI CERMIN
pernah hati ini penuh debu
menangkap segala bayang
segala yang lewat
meninggalkan bekas
perlahan ia diam
tak lagi menahan apa pun
dan dalam bening yang tersisa
sesuatu tampak
bukan dari luar
melainkan dari kedalaman
yang tak pernah pergi
Dini Zulva Ikhtiari
RAHASIA YANG BERBISIK
tak ada suara
namun sesuatu bergerak
di antara jeda napas
ia datang
bukan sebagai kata
melainkan getar
yang tak bisa ditahan
aku berhenti
dan sesuatu itu tinggal
tanpa nama
tanpa penjelasan
Erlin Nur Latifah
AMBANG AMIN
Yang tak selesai menjadi suara
Di sela dua napas
Sebuah amin tertahan
Ia tak jatuh
Hanya menggantung
Di ujung yang nyaris hilang
Jari-jari mengatup
Kata-kata luruh
Sebelum sempat menjadi doa
Langit tetap terbuka
Tanpa meminta penjelasan
Di jeda itu
Aku mengerti,
Yang tak terucap
Tak pernah luput
Erlin Nur Latifah
DI SELA NAFAS
Napas berjalan pelan
Seperti menahan runtuh
Di dada
Sesuatu berulang
Tanpa bunyi
Tanpa nama
Hanya getar kecil
Yang menjaga tubuh
Tetap tinggal
Tak ada yang dikejar
Tak ada yang dibuktikan
Hanya bertahan
Di antara detak
Yang nyaris padam
Dari sana
Aku mengerti,
Hidup kadang
Sekadar
Tidak berhenti bernapas
Riwayat Penulis

Aimmatul Hidayah Assyifa, lahir di Cilacap, 18 Agustus 2006, beralamart Rt 02 Rw 12 Karangjati Sampang Cilacap. Saat ini ia sedang menempuh Pendidikan Di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto pada jurusan Tasawuf dan Psikoterapi Islam. Ia memiliki sedikit ketertarikan dalam menulis sebagai cara sederhana untuk mengekspresikan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Melalui tulisan, ia mencoba menuangkan pengalaman, perasaan, serta hal-hal kecil yang ia temui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kesehariannya saya menjalani aktivitas seperti pada umumnya, sambil perlahan belajar dari setiap pengalaman yang datang, baik itu hal yang menyenangkan maupun yang menantang. Bagi ia setiap proses yang dijalani memiliki arti tersendiri dalam membentuk pola pikir dan sikap. Ia berharap, seiring berjalannya waktu saya dapat terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih memahami diri sendiri serta lingkungan di sekitarnya.

Nama saya Aulil Syakila dengan NIM 244110504004, mahasiswa kelas 4 Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi. Saya lahir pada tanggal 18 September 2006. Sejak kecil, saya memiliki ketertarikan dalam bidang membaca, terutama novel, karena bagi saya membaca dapat menambah wawasan sekaligus menjadi sarana hiburan.
Selain itu, saya juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Melalui organisasi, saya belajar banyak hal seperti bekerja sama dalam tim, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta melatih tanggung jawab. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan diri saya, baik secara akademik maupun sosial.

Dini Zulva Ikhtiari merupakan mahasiswa semester 4 Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi yang memiliki ketertarikan pada pengembangan diri serta pendalaman dimensi spiritual dan psikologis. Dalam perjalanan akademiknya, ia mulai menekuni dunia kepenulisan sebagai wadah untuk mengekspresikan gagasan, emosi, dan refleksi batin. Menulis bukan sekadar aktivitas, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenal diri lebih dalam, menguatkan nilai-nilai kehidupan, serta meningkatkan kesadaran diri. Melalui proses tersebut, ia berharap dapat terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, tenang, dan penuh makna.

Erlin Nur Latifah merupakan mahasiswa Semester 4 Program Studi Tasawuf Psikoterapi yang mulai menulis puisi dari sebuah tugas perkuliahan, dengan inspirasi dari lagu-lagu yang sering ia dengarkan. Melalui lirik yang sederhana namun bermakna, ia menemukan cara untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan secara langsung.
Dalam proses tersebut, puisi menjadi ruang refleksi yang mempertemukannya dengan pengalaman batin seperti rasa ragu, lelah, hingga keinginan untuk kembali kepada Tuhan. Ia menulis bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk memahami dirinya secara perlahan.
