Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Esai Talitha Salsabila

Admin by Admin
31 Juli 2026
0
Esai Talitha Salsabila
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

Dari Pembaca Menjadi Penulis: Mimpi Yang Tumbuh Di Antara Halaman Dan Waktu

Oleh :Talitha Salsabila

Halaman-Halaman yang Menemani Masa Kecilku

Berkali-kali saya berkata pada diri sendiri bahwa ini akan menjadi novel terakhir yang saya baca malam itu. Namun beberapa jam kemudian, layar ponsel masih menyala di tangan saya dan halaman cerita terus bertambah. Sebelum saya mengenal dunia kuliah, sebelum saya tahu apa itu algoritma atau struktur data, ada satu dunia lain yang lebih dulu saya kenal dan saya cintai, yaitu dunia kata. Sejak kecil, saya adalah anak yang lebih senang menyendiri dengan sebuah buku daripada bermain ramai-ramai di luar rumah. Rak buku menjadi tempat saya menemukan teman, dan halaman-halaman novel menjadi jendela yang membawa saya ke tempat-tempat yang tidak pernah saya kunjungi secara fisik.

Seiring bertambahnya usia, kebiasaan membaca itu berpindah dari rak buku ke layar ponsel. Saya dapat menghabiskan berjam-jam membaca novel daring hingga larut malam. Terkadang saya lupa waktu, terkadang saya menutup aplikasi dengan perasaan haru karena sebuah cerita berakhir, lalu kembali mencari cerita baru untuk menemani hari-hari saya.

Kebiasaan membaca novel itu tumbuh perlahan, tanpa saya sadari menjadi sesuatu yang membentuk cara saya berpikir dan merasa. Setiap kisah yang saya baca meninggalkan jejak, entah itu cara seorang tokoh menghadapi kehilangan, atau cara penulis merangkai satu kalimat hingga terasa begitu hidup. Dari sanalah, tanpa saya rencanakan, kecintaan pada dunia kata mulai tumbuh. Saya tidak hanya ingin membaca kisah orang lain, tetapi mulai bertanya-tanya, bagaimana rasanya jika suatu hari nanti saya bisa menciptakan dunia dan tokoh-tokoh dari imajinasi saya sendiri. Pertanyaan sederhana itulah yang kemudian perlahan mengubah posisi saya, dari seseorang pembaca yang hanya menikmati tulisan menjadi seseorang yang mulai bermimpi menciptakan ceritanya sendiri.

Mimpi yang Kutulis Diam-Diam

Masa-masa ketika saya paling sering membaca novel adalah masa ketika dunia terasa paling luas sekaligus paling aman. Tidak jarang saya menghabiskan berjam-jam menatap layar ponsel untuk menamatkan satu novel. Kadang saya lupa waktu, kadang saya tertidur dengan cerita yang masih menggantung di kepala. Di balik kesendirian itu, saya menemukan kenyamanan, karena buku tidak pernah menuntut saya untuk menjadi seseorang selain diri saya sendiri.

Suatu malam, di sudut diary yang sudah lusuh, saya menuliskan sebuah kalimat sederhana namun terasa begitu berani bagi saya yang saat itu masih kecil, yaitu cita-cita untuk menjadi seorang penulis yang karyanya dibaca oleh banyak orang. Saya menuliskannya diam-diam, seolah mimpi itu terlalu rapuh untuk diucapkan keras-keras, takut nanti hilang jika terlalu cepat dibagikan kepada dunia. Setelah menuliskannya, saya sering membuka kembali halaman itu dan membacanya diam-diam. Tidak ada yang berubah secara ajaib setelahnya. Saya tetaplah anak yang sama, yang menghabiskan waktu membaca cerita orang lain. Namun, sejak malam itu, saya merasa memiliki sesuatu yang ingin saya perjuangkan, meskipun saat itu saya belum tahu bagaimana cara mewujudkannya.

Saat itu saya bahkan tidak berani menceritakan mimpi tersebut kepada banyak orang. Menjadi penulis terasa seperti cita-cita yang terlalu besar untuk seorang anak yang hanya gemar membaca diam-diam di kamarnya. Karena itu, saya memilih menyimpannya di antara halaman diary dan membiarkan waktu yang menjawab apakah mimpi itu mungkin diwujudkan.

Alasan saya ingin menjadi penulis sebenarnya sederhana. Saya ingin melakukan apa yang dilakukan oleh para penulis yang karyanya membuat saya menangis, tertawa, dan merenung, yaitu menyentuh hati orang lain melalui rangkaian kata. Saya ingin menjadi bagian dari rantai panjang itu, dari seorang pembaca yang pernah diselamatkan oleh cerita menjadi seseorang yang berharap dapat menghadirkan cerita bagi orang lain. Bagi saya, menulis bukan sekadar menyusun huruf menjadi kalimat, melainkan cara untuk menitipkan sebagian dari diri saya kepada siapa pun yang kelak membacanya.

Ketika Kata-Kata Bertemu Dunia Informatika

Namun, hidup ternyata membawa saya ke arah yang tidak pernah saya bayangkan ketika pertama kali menuliskan mimpi itu di sebuah diary kecil. Ketika tiba waktunya menentukan arah pendidikan tinggi, saya justru memilih program studi Informatika di Fakultas Sains dan Teknologi. Bagi sebagian orang, pilihan ini mungkin terasa jauh dari dunia kata yang selama ini saya cintai. Bagaimana mungkin seseorang yang tumbuh di antara halaman novel kemudian memilih dunia logika, kode, dan algoritma?

Tantangan kuliah di Informatika tidak ringan. Saya harus membiasakan diri dengan cara berpikir yang sangat berbeda dari ketika saya membaca atau menulis cerita. Logika pemrograman menuntut ketelitian dan struktur yang ketat, sementara dunia kata yang saya cintai justru memberi ruang bagi imajinasi yang bebas mengembara. Ada saat-saat saya merasa kedua dunia ini begitu bertolak belakang, hingga muncul keraguan apakah saya masih punya tempat untuk menulis di tengah padatnya tugas dan deadline perkuliahan. Ada masa ketika saya merasa harus memilih salah satunya. Di satu sisi, saya ingin menjadi mahasiswa Informatika yang mampu memahami dunia teknologi dengan baik. Di sisi lain, saya tidak ingin kehilangan bagian dari diri saya yang sejak kecil tumbuh bersama buku dan cerita. Keraguan itu sering muncul ketika tugas perkuliahan menumpuk, sementara keinginan untuk membaca atau menulis tetap ada di dalam kepala saya.

Namun, di tengah tantangan itu, saya memilih untuk tidak melepaskan minat menulis saya. Saya tetap menyisihkan waktu, meski hanya sedikit, untuk menulis apa pun yang terlintas di pikiran, entah itu puisi pendek, catatan harian, atau sekadar refleksi tentang hari yang saya lalui. Saya percaya bahwa dunia teknologi dan dunia kata sebenarnya tidak harus saling meniadakan. Keduanya bisa berjalan beriringan, bahkan saling melengkapi, karena pada akhirnya keduanya adalah cara manusia menyusun makna dari dunia di sekitarnya. Perlahan saya menyadari bahwa saya tidak harus memilih salah satunya. Saya dapat menjadi mahasiswa Informatika yang mencintai teknologi sekaligus seseorang yang tetap bertumbuh melalui kata-kata. Justru dari pertemuan dua dunia yang tampak berbeda itulah saya belajar bahwa logika dan imajinasi tidak selalu saling bertentangan. Keduanya dapat tumbuh bersama dan membentuk cara saya melihat dunia hingga hari ini.

Menulis Sambil Bertumbuh

Perlahan, mimpi yang dulu saya tuliskan diam-diam mulai menemukan jalannya sendiri untuk tumbuh, meski tidak selalu dalam bentuk yang saya bayangkan semula. Saya mulai menulis artikel-artikel, baik untuk keperluan akademik maupun untuk komunitas sastra yang saya ikuti. Saya juga aktif dalam komunitas Sabudaya, yaitu komunitas Sastra, Bahasa, dan Budaya Indonesia, yang menjadi rumah baru bagi minat menulis saya selama menjalani masa kuliah. Bagi saya, Sabudaya bukan hanya komunitas kepenulisan. Ia adalah ruang yang membuat saya percaya bahwa kecintaan terhadap kata-kata tetap dapat tumbuh, bahkan ketika saya menempuh jalan yang berbeda sebagai mahasiswa Informatika.

Saya masih ingat perasaan ketika menyelesaikan salah satu tulisan pertama saya. Tulisan itu mungkin belum sempurna, tetapi ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat gagasan yang sebelumnya hanya ada di kepala akhirnya hadir dalam bentuk tulisan yang dapat dibaca orang lain. Saat itulah saya mulai percaya bahwa mimpi menjadi penulis bukan lagi sekadar angan-angan. Sejak saat itu, saya tidak lagi memandang menulis sebagai mimpi yang jauh di masa depan, melainkan sebagai proses yang dapat saya jalani sedikit demi sedikit setiap hari.

Melalui Sabudaya, saya berkesempatan mengikuti berbagai kegiatan kepenulisan, salah satunya adalah Workshop Simfoni Sastra. Di sana saya belajar bahwa menulis bukan hanya soal menuangkan perasaan, tetapi juga soal mengasah kepekaan, memperluas wawasan, dan berani menerima masukan dari orang lain. Saya juga dipertemukan dengan seorang mentor yang kemudian banyak membimbing perjalanan akademik dan kepenulisan saya. Sosok yang saya panggil dengan sebutan Ayah itu adalah seorang Guru Besar yang karya puisi sufistiknya kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan riset saya sendiri.

Di tengah kesibukan kuliah Informatika, saya juga mulai merintis sebuah proyek besar yang menggabungkan kedua dunia yang saya cintai, yaitu sebuah arsip pribadi yang menjadi museum digital, ruang akademik, dan ruang menulis pribadi bagi diri saya sendiri. Proyek itu menjadi semacam bukti nyata bahwa mimpi menjadi penulis tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menemukan wujud yang baru, yang lebih utuh, karena lahir dari perpaduan antara kata dan teknologi.

Tidak berhenti di artikel dan esai, saya pun mulai memberanikan diri menulis novel, sebuah karya yang mencoba merekam perjalanan hidup saya sendiri, dari seorang anak yang gemar membaca menjadi seseorang yang perlahan menemukan suaranya sebagai penulis.

Novel itu belum selesai. Bukan karena saya kehabisan ide, tetapi karena cerita yang saya tulis adalah hidup saya sendiri. Selama saya masih bertumbuh, selama itu pula halaman-halaman baru akan terus lahir.

Cerita yang Belum Sampai Pada Halaman Terakhir

Jika saya menengok kembali ke belakang, ke sosok kecil yang dulu menuliskan cita-citanya diam-diam di sudut buku catatan, saya ingin mengatakan bahwa mimpi itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tumbuh dengan caranya sendiri, melalui jalan yang berbeda dari yang saya bayangkan semula, melewati ruang-ruang kuliah Informatika yang penuh logika, melewati komunitas sastra yang penuh kehangatan, dan melewati waktu yang perlahan mengajarkan saya bahwa menjadi penulis bukan soal seberapa cepat sampai, melainkan seberapa setia saya merawat mimpi itu di sepanjang perjalanan.

Saya percaya bahwa setiap halaman yang saya tulis hari ini adalah satu langkah lagi menuju mimpi yang dulu saya bisikkan dengan ragu kepada diri saya sendiri. Mungkin tanpa saya sadari, langkah-langkah kecil itulah yang selama ini perlahan membawa saya semakin dekat dengan mimpi tersebut. Artikel-artikel ilmiah yang saya tulis, esai-esai yang saya rangkai, dan novel yang masih terus saya kerjakan hanyalah bentuk-bentuk berbeda dari perjuangan yang sama, yaitu perjuangan seorang pembaca yang ingin menjadi penulis seutuhnya.

Saya tidak tahu sejauh apa tulisan-tulisan saya akan melangkah di masa depan. Namun saya berharap suatu hari nanti ada seseorang yang menemukan semangat, harapan, atau keberanian dari tulisan saya, sebagaimana saya dahulu menemukannya melalui tulisan para penulis yang saya kagumi.

Pada akhirnya, perjalanan dari pembaca menjadi penulis ini adalah kisah yang belum sampai pada halaman terakhirnya. Ia masih terus ditulis, hari demi hari, di antara waktu yang berjalan dan halaman-halaman yang terus bertambah. Mungkin karena itulah novel yang sedang saya tulis belum selesai. Sebab selama saya masih bertumbuh, selama itu pula cerita ini akan terus berlanjut.

Penulis

Talitha Salsabila merupakan mahasiswa Program Studi Informatika yang memiliki ketertarikan dalam dunia tulis-menulis, khususnya puisi. Karya yang ditulisnya merupakan bagian dari proses belajar dalam memahami serta mengungkapkan gagasan melalui bahasa. Saat ini, ia terus berupaya mengembangkan kemampuan menulisnya agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan bermakna.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

12 Juni 2022
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In