Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Esai

Dilema Moral Di Balik Karakter Severus Snape

Admin by Admin
23 Juli 2026
0
Dilema Moral Di Balik Karakter Severus Snape
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

        Film Harry Potter yang baru saya tonton akhir-akhir ini membawa saya pada kedalaman pikiran terkait tokoh-tokoh dalam kisah Harry Potter. Dalam dunia sihir Harry potter ada tokoh yang hadir dengan istilah He Who Must Not Be Named, “Dia yang tak boleh disebut namanya” ia Adalah Voldemort. Tokoh yang lahir karena adanya manifulasi cinta di antara kedua orang tuanya. Alhasil Voldemort atau Tom Marvolo Riddle tumbuh sebagai anak yang tidak bisa merasakan kasih sayang, empati, dan hingga yang terisi dalam jiwanya adalah kebencian.

     Tentu semua pembaca novel Harry Potter atau filmnya akan langsung mengklaim Voldemort adalah sisi gelap batin, meskipun saya sebagai penonton filmnya Voldemort itu hadir sebagai simbol kegelapan dari setiap insan, yang mengasut, memberikan rasa khawatir, hingga  rasa benci terhadap diri sendiri.

     Ada salah satu tokoh yang hadir bukan sekedar lawan dari Voldemort yaitu Serevus Snape. Orang yang pertama kali menonton atau membaca buku Harry Potter dalam potongan-potongan adegan dalam filmnya. Snape terlihat sebagai Professor yang ahli dibidang ramuan sekaligus wali kelas Slytherin yang hadir dengan tatapan tidak ramah, beberapa adegan di film, Snape dihadirkan seolah membenci apapun yang dilakukan oleh Harry. Karakter itu akhirnya terbantah saat saya menonton film terakhir Harry Potter.

Ada beberapa karakter yang menurut saya jadi point mengapa Snape adalah salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam kisah Harry potter.

Konsep Topeng Vs Diri sejati

     Serevus Snape hadir di sekolah Hogwart sebagai master yang terlihat kejam, dingin, dan tidak adil. Seperti yang ada pada film ” Harry Potter and the Sorcerer’s Stone”.

Ketika Snape hadir ke kelas. Ia masuk ke kelas dengan jubah hitam yang berkibar dan langsung memberikan pidato yang meremehkan murid-muridnya (“I can teach you how to bottle fame, brew glory, even stopper death…”)

     Ia Sengaja mempermalukan Harry di dalam kelas tersebut dengan cara melemparkan pertanyaan-pertnyaan yang sulit karena Harry tumbuh di dunia Muggle atau hidup lingkungan manusia yang tidak bisa sihir). Dan Harry tidak bisa menjawabnya. Lalu memotong poin Gryffindor hanya karena Harry mencatat omongannya.  

Namun, Serevus Snape jika berada di depan Pelahap Maut, ia terlihat setia pada kegelapan, rela melakukan apapun yang diperintahkan. Namun kejahatan yang ia tampakkan merupakan topeng perlindungan yang sengaja dia bangun.

     Dalam dunia nyata banyak manusia menciptakan topeng jahat, dingin dan wajah ketus bukan karena benar-benar jahat, melainkan hal itu diciptakan sebagai mekanisme pertahanan diri agar luka atau kerapuhan yang hadir dalam diri mereka tidak terlihat orang lain. Snape adalah seseorang yang cukup ekstrem, ia rela dibenci demi menajalankan misi yang lebih besar.

Cinta Menjelma menjadi Patronus (Kekuatan Pendorong)

     Ada satu kata yang sangat mendefinisikan seorang Snape yaitu Always. Mantra Patranus Snape yang membentuk rusa betina, rusa yang persis dengan yang dimiliki oleh Lily Potter. Hal itu merupakan bukti bahwa seluruh hidupnya setelah kematian Lily digerakkan oleh satu energi, yaitu rasa bersalah dan cinta yang mendalam.

 Doumbledore: “After all this time, Severus?”

     Snape tidak menjawab dengan kalimat yang Panjang. Ia hanya mengeluarkan tongkat sihirnya dan merapalkan mantra Expecto Patronum. Dari ujung tongkatnya keluar Patronus berbentuk rusa betina yang bersinar terang dan terbang mengitari ruangan sebelum akhirnya melesat keluar jendela.

     Dumbledore yang melihat itu langsung berkaca-kaca karena ia menyadari dedikasi Snape dalam menjaga Harry bukan karena harry itu sendiri, melainkan murni karena cintanya kepada Lily.

     Dumledore pun bertnya dengan takjub “Lily? Setelah sekian lama ini?” dan Snape menjawab dengan satu kata yang sangat tenang

Snape : “Always”

     Snape menunjukkan bahwa cinta tidak selalu membuat seseorang menjadi lembut dan penuh kasih sayang.  Cinta Snape menciptakan bentuk lain dari perlindungan yang keras, dingin, dan diam dibalik bayangan. Dia berusaha melindungi Harry Demi menghormati mata Lily yang ada pada diri Harry. Meskipun Snape tahu Harry adalah seorang anak dari pria yang paling dia benci yaitu James Potter. Hal ini merupakan konflik batin yang luar biasa berat.

Penebusan Dosa yang Sunyi

     Dalam filmnya Harry Potter yang terakhir yaitu Harry Potter and the Hallows-Part 2 ada satu adegan yang jadi kunci dari adegan-adegan yang disajikan.

Sesaat setelah Voldemort pergi, Harry, Ron, dan Hermione menghampiri Snape yang sekarat. Pada detik-detik terakhir hidupnya. Snape meneteskan air matanya yang berisi memori penting miliknya dan meminta harry untuk menampungnya. Momen penutup hidupnya menjadi sangat emosional ketika kalimat kalimat terakhir yang diucapkan Snape kepada Harry,

“Look at me… You have your mother’s eyes”

Banyak pahlawan yang ingin diakui, tapi Snape memilih jalan pahlawan yang tragis. Ia mati dalam keadaan dianggap sebagai pengkhianat oleh hampir seluruh dunia sihir. Dia tak butuh tepuk tangan, dia hanya butuh janjinya kepada Dumbledore dan Lily terpenuhi.

Penulis

Umi Kulsum, anggota aktif SKSP.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

12 Juni 2022
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In