Fatwa Aisyah Nur’aini
LANGKAHKU KEMBALI
huruf-huruf itu
pernah tinggal di dada
menyala
tanpa diminta
lalu suatu hari
ia menjadi asing
lidah kehilangan arah
pada cahaya
ketika dipanggil kembali
setiap huruf tersandung
seperti langkah
yang lupa pulang
di antara jeda
sebuah nyala kecil muncul
tidak seterang dulu
namun lebih jujur
dan dari patah itu
cahaya mulai belajar
menyebut namanya Kembali
Muhammad Aska Imanika
PENGAKUAN LILIN
Lilin itu menyala
Tenang,
Seperti menerima.
Cahayanya
Bukan untuk menerangi,
Melainkan tanda
Bahwa ia sedang habis.
Dan mungkin,
Itulah satu-satunya cara
Ia menjadi berarti.
Pramudya Ayu Wardhani
JAM RETAK DI SUDUT RUANG
Di dinding itu
Sebuah jam rentak tergantung
Jarumnya pincang sebelah
Detik-detik luruh
Tanpa bunyi
Seperti luka lama
Yang lupa cara sembuh
Seorang duduk diam
Menatap angka yang membeku
Sementara dadanya
Terus berdenyut
Ia tak lagi mengejar waktu
Hanya mendengar retak
Yang pelan-pelan merambat
Ke dalam dirinya
Hingga ia paham:
Yang rapuh bukan jam itu
Melainkan dirinya
Yang tergesa ingin usai
Ziyadah Amalia Farah
DI BALIK TIRAI SUNYI
Malam menurunkan tirai
Bukan untuk menutup
Melainkan memperlihatkan
Lihat yang selama ini tersembunyi
Di lantai dingin
Napas jatuh
Lalu hilang
Sebelum sempat kembali
Waktu berhenti di ambang
Mengendap
Seperti sesuatu
Yang tak lagi mengenal arah
Bayang bergetar
Di permukaan yang rapuh
Retak!
Tanpa suara
Di ambang jendela
Angin mengetuk pelan
Tirai berayun
Menyisakan celah
Tak ada yang ku panggil
Tak ada yang ku tahan
Hanya ruang yang perlahan terbuka
Fajar menyibak tipis
Jejak memudar di permukaan
Riak tinggal sejenak
Lenyap di balik hijab
Sebelum sempat ditangkap akal
Purwokerto, 20 Maret 2026
Ziyadah Amalia Farah
LURUH
Di bawah abu
Bara berdiam
Kecil
Namun enggan selesai
Dinding menyimpan bayang
Getarnya tipis
Seperti sisa yang belum lepas
Langkah berhenti
Sebelum sempat menjadi jejak
Waktu mengendap
Di sela napas yang berat
Bara itu
Tak padam
Tak pula menyala
Hanya tinggal
Di antara ada dan tiada
Nama tanggal perlahan
Seperti serpih
Yang jatuh tanpa suara
Tak ada yang digenggam
Tak ada yang ditahan
Hanya tarikan
Yang kian dalam
Dan di ujung itu
Luruh
Bukan jarak
Melainkan aku
Yang habis tanpa sisa
Purwokerto, 31 Maret 2026
Riwayat Penulis

Fatwa Aisyah Nur’aini adalah mahasiswa semester 4 Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi di Universitas Islam Negeri Prof. Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto. Ia memiliki ketertarikan pada dunia spiritual, refleksi diri, dan proses penyembuhan batin melalui pendekatan tasawuf.
Bagi saya, puisi bukan sekadar rangkaian kata yang indah, tetapi menjadi cara untuk mengekspresikan pengalaman hidup yang pernah ia rasakan. Setiap tulisan yang ia buat lahir dari proses perenungan, kegelisahan, dan perjalanan batin yang ia jalani. Melalui puisi, ia berusaha memahami dirinya sendiri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta menemukan makna di balik setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.

Muhammad Aska Imanika merupakan mahasiwa semester 4 yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Prof. K. H Saifuddin Zuhri Purwokerto, yang memiliki ketertarikan/hobi pada bidang pertanian dan industri perkopian. Dalam perjalanan akademiknya, ia mulai mencoba menekuni dunia kepenulisan sebagai wadah baru untuk mengekspresikan gagasan, emosi, dan refleksi diri maupun batin. Menulis bukan sekadar aktivitas, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenal diri lebih dalam, menguatkan nilai-nilai kehidupan, serta meningkatkan Muhasabah (kesadaran diri).

Pramudya Ayu Wardhani merupakan mahasiswa semester 4 Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi yang memiliki ketertarikan pada dunia musik sebagai ruang untuk menenangkan diri sekaligus memahami perasaan yang sering kali sulit diungkapkan. Bagi dia, musik bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi tempat untuk kembali pada dirinya sendiri. Ia juga merupakan penggemar Justin Bieber, yang karya-karyanya kerap menjadi teman dalam berbagai suasana. Secara kepribadian, ia cenderung pendiam dan lebih nyaman berada dalam suasana yang tenang, namun bersama orang-orang yang sudah dekat, ia dapat menjadi sosok yang hangat, suka bercanda, dan mudah tertawa. Dalam kesehariannya, ia terbiasa memahami perasaannya secara perlahan dan saat ini sedang belajar mengelola emosi dengan lebih baik, sehingga ia terus berproses untuk mengenali dirinya dan menjalani semuanya dengan lebih tenang.

Ziyadah Amalia Farah, dilahirkan di dusun Bojongsari, Purbalingga, Jawa Tengah 22 November 2006. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana, namun memiliki mimpi yang tinggi, sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini Ia adalah mahasiswa UIN Syaifuddin Zuhri Purwokerto pada program studi Tasawuf dan Psikoterapi. Di tengah perjalanannya sebagai mahasiswa, ia juga sedang menapaki langkah awal dalam dunia kepenulisan sebagai seorang penulis puisi pemula.
Ziyadah memandang dirinya sebagai individu yang sedang belajar mengekspresikan pemikiran melalui tulisan. Dalam setiap bait yang dituliskannya, terdapat refleksi atas pengalaman diri, baik yang dapat diungkapkan maupun yang sulit dijelaskan secara langsung. Bagi Ziyadah, puisi tidak sekadar rangkaian bahasa, melainkan sarana reflektif untuk memahami diri, menerima pengalaman batin, serta mendekat pada makna yang tidak selalu tampak, namun tetap dapat dirasakan kehadirannya