Fitriyani
Jalan Menuju Pulang
aku berjalan di lorong waktu
membawa debu di telapak kaki
malam datang
dan suara-suara mereda
di antara gelap itu
ada sesuatu
yang memanggil tanpa kata
aku berhenti
mendengar sunyi
dan perlahan
langkahku menemukan arah
yang tak terlihat
namun terasa dekat
Fitriyani
Di antara do’a
di antara doa-doa yang naik
ada satu yang tertinggal
diam…
di dalam dada
tak bersuara
namun terus hidup
waktu berjalan
tanpa menjawab
dan aku tetap duduk
menjaga sesuatu
yang tak pernah hilang
Jeelyati Homsiatul Barkah
Di Antara Zikir dan Hening
hening jatuh
di sela napas yang belum selesai
malam merapat
ke dinding-dinding tubuh
sebutan nama itu
berulang
namun kehilangan bentuk
di dada
sesuatu bergetar pelan
seperti tasbih
yang terlepas dari hitungan
tak ada suara
hanya ruang yang terbuka
tanpa pintu
dan aku berdiri di dalamnya
tanpa arah
tanpa nama
perlahan
sesuatu menarikku pulang
Jeelyati Homsiatul Barkah
Malam di Kamar Kos
kamar itu menyempit
tanpa bergerak
dinding-dinding mendekat
membawa sunyi
buku terbuka
huruf-huruf luruh
ke lantai
angin mengetuk jendela
sekali
lalu hilang
di atas sajadah
kening menyentuh dingin
dan sesuatu runtuh
perlahan
air jatuh
tanpa suara
setelah itu
hening menjadi luas

Fitriyani merupakan mahasiswa Semester 4 Program Studi Tasawuf Psikoterapi yang tengah menapaki langkah awal dalam dunia kepenulisan. Sebagai penulis pemula, ia mulai belajar menulis puisi sebagai medium untuk mengekspresikan perasaan, merefleksikan diri, serta memperdalam kedekatan spiritual. Baginya, aktivitas menulis bukan sekadar proses kreatif, melainkan juga perjalanan batin untuk memahami diri secara lebih utuh. Ia berharap, melalui setiap bait yang dituliskan, proses ini dapat menjadi awal dari perjalanan panjang dalam pengembangan diri, sekaligus membentuk pribadi yang lebih bijak dan bermakna.

Jeelyati Homsiatul Barkah adalah mahasiswa Program Studi Tasawuf Psikoterapi semester 4 yang menjadikan puisi sebagai salah satu cara untuk merefleksikan perasaan dan perjalanan batinnya. Ketertarikannya pada sastra muncul dari keinginan untuk memahami makna hidup, yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika, tetapi lebih bisa dirasakan lewat hati. Bagi dirinya, puisi bukan sekadar rangkaian kata yang indah, tetapi juga menjadi tempat untuk merenung, mengenali diri sendiri, dan mengolah perasaan. Melalui puisi, ia mencoba
