WAKTU MENUA DI PERGELANGAN HARI
Waktu menua di pergelangan hari.
Daun gugur menulis alamat yang tak lagi kucari
Namun warna matamu—seperti senja di dalam cermin
Masih menyalakan sumbu di antara rinduku yang dingin.
Setiap mimpi adalah peron yang tak bersuara.
Kutemui kelingkingmu di ujung doa yang terjaga.
Janji kita menggantung di langit, rapuh namun bercahaya.
Mungkin belum saatku pulang—biarlah semesta menundanya.
Aku cemburu pada sunyi di sela halaman
Yang kau baca lebih lama dari tatapanku semalam.
Padahal di sana, puisiku adalah rahasia yang bersembunyi.
Berbaring diantara kata-kata yang tak sempat kembali
Di bawah cahaya rembulan seperempat.
Aku melipat malam dalam amplop coklat.
Di dalamnya; sehelai napasmu, sebutir waktu, dan debu rindu.
Andai aku bisa jadi jeda di antara terbit dan tenggelam harimu
KEPADA NANTI
Kepada nanti,
Yang tak sempat diucap—
Kuharap sepasang tatap itu cukup
Untuk setiap esok yang dituntut sepi.
Yang terhormat,
Nadimu yang serupa laut,
Tempat ombakku berpulang—
Walau redup, kutahu kau terang.
Membawakan kabar
Yang kadang terkubur, kadang kabur,
Seperti bintang-bintang yang gugur,
Mencari tempat ternyaman untuk tertidur.
Bayangku yang berserah
Meluruh, pada teduhmu—
Yang tabah merawat resahku,
Tempat tumbuh tanpa rasa bersalah.
2025, 2026
MELEKAT ERAT
sepasang mataku menyimpan tanya
bagaimana cara Tuhan menata parasmu?
tentang mentari dan bulan yang berpadu di pipimu—
serta senyumanmu, yang berhasil mencuri warna senja
di antara belahan nadi dan jiwa
yang satu mahir merindu dalam diam—
yang lain pandai merawat harap yang bersemayam
semoga detaknya tetap melagukan tentang kita
sebab praduga tak selalu nyata
kadang semu menjelma doa-doa
maka, izinkan aku mengabadikan pesonamu di atas kertas—
merayu waktu, agar pertemuan tak lagi menunda lekas.
PENCABUTAN LEGITIMASI & LABELISASI MORAL
Mata uang serupa dengan rindu hari ini
Pemilik menuntut segera di setorkan
Aku menjelma pegawai yang kelabakan
Sebab setumpuk puisi nilainya tak diakui
Aku tahu sang pemilik mewarisi tangisan pilu
Tapi aku pegawai, sumpah serapahku tak bernilai
Para menteri hanya sibuk mengaudit dosa pada cacat catatan pajakmu
Sedang hatimu kehilangan vokalnya bagai nyanyian tanpa bunyi
Apa hakku mencela hukum yang lahir dari cacat negara
Bahkan bantahan yang melonjak tak cukup penting untuk masuk arsipnya
Sebab sembab tak cukup untuk meluluhlantakkan pemerintahan
Nahas, birokrasi itu tak mengizinkan secarik kertas kritikan
PULANG KE MATAMU
Dalam secarik kertas utuh
Berisikan seratus harapan penuh
Tentang angan dan ingin yang begitu murni
Dari seluruh keluguannya merangkai sekian diksi
Telah kucicipi segala rasa dunia
Pahitnya luka dan asamnya rindu
Namun tak ada yang lebih manis
Dari jatuh dalam senyumanmu
Kuhabiskan hari tanpa rehat
Membasuh muka yang penat
Sebab kau adalah jeda yang singkat
Dari hiruk-pikuk kehidupan yang memadat
Penulis
Abdurrahman Adham A, lahir 11 November 2007 di Banjar Seminai, Siak, Riau. Beberapa puisinya telah dimuat di buku kumpulan antologi puisi “Ungkapan Rasa, Memeluk Mimpi, Derap Langkah Waktu”. Sekarang duduk di bangku SMA di Abu Bakar Yogyakarta. Akun Instagram yang dapat di Sapa dengan penuh hangat: @almubarokfury.._
