Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Log In Hikmah

Esai Abdul Wachid B.S.

Admin by Admin
6 Agustus 2026
0
Esai Abdul Wachid B.S.
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

Pendidikan Sastra Kita Hari Ini

oleh Abdul Wachid B.S. [1]

Sastra yang Terpinggirkan

Dalam sistem pendidikan Indonesia hari ini, sastra sering kali dipinggirkan, hanya dianggap sebagai pelengkap dari pelajaran Bahasa Indonesia. Ia ditempatkan di bawah bayang-bayang kebahasaan yang teknis dan prosedural. Dalam banyak buku ajar, sastra dihadirkan sebagai “teks bacaan” untuk diidentifikasi unsur intrinsiknya, bukan untuk dirasakan sebagai pengalaman hidup yang reflektif dan menggerakkan.

Akibatnya, siswa terbiasa menghadapi sastra sebagai objek soal pilihan ganda: mana tokoh protagonis, apa konflik, apa pesan moral. Sastra menjadi hafalan, bukan pengalaman batin. Padahal, seperti dikatakan Sapardi Djoko Damono, “Sastra dikembalikan ke fungsi dan kedudukannya sebagai seni, yaitu permainan yang mengasyikkan, bukan sebagai ilmu.” (Kompas, 1 Juni 2009). Ini berarti, sastra seharusnya menjadi ruang estetis yang hidup, bukan daftar istilah beku yang dipelajari untuk ujian.

Estetika, Etika, dan Empati

Sastra memiliki kekuatan yang tak dimiliki oleh cabang ilmu lain: ia berbicara tidak hanya kepada akal, tapi juga kepada perasaan. Dalam cerita, kita menyelami dilema moral. Dalam puisi, kita ikut hanyut dalam perenungan yang sunyi. Dalam drama, kita menyaksikan konflik batin manusia secara utuh. Semua ini adalah ruang pendidikan karakter yang tak bisa digantikan oleh slogan-slogan motivasi.

Sastra membangun empati, sesuatu yang makin langka dalam dunia serba tergesa hari ini. Nussbaum (dalam Not For Profit: Why Democracy Needs the Humanities, 2010) menyatakan bahwa pendidikan yang mengabaikan seni dan humaniora, termasuk sastra, akan melahirkan generasi yang cerdas secara teknis, tetapi dangkal secara moral dan spiritual.

Sastra mengajarkan kita melihat dunia dari sudut pandang orang lain, yang tertindas, yang berbeda, yang bergumul. Ia melatih kepekaan, bukan hanya kemampuan analisis. Inilah fungsi etik sastra: membentuk manusia yang utuh.

Membaca dengan Jiwa

Pendidikan sastra bukan sekadar belajar tentang teks, tetapi juga belajar menjadi manusia. Inilah yang digarisbawahi Paulo Freire, “Reading is not walking on the words; it’s grasping the soul of them.” (The Paulo Freire Reader, Continuum, 1998). Membaca bukan mengeja kata, tetapi menyelami makna, menangkap ruh, dan memahami konteks kemanusiaannya.

Sayangnya, pendidikan kita lebih sering mengejar hasil kuantitatif: nilai, ranking, skor UN. Padahal sastra tidak bisa diukur dengan angka semata. Kita membutuhkan pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa mengalami, menafsirkan, berdiskusi, dan berefleksi.

Salah satu praktik baik adalah dengan menggunakan jurnal membaca: siswa diminta menuliskan perasaan dan refleksi mereka setelah membaca puisi atau cerpen, bukan hanya menjawab soal latihan. Ini memberi ruang kepada kejujuran batin yang kerap hilang dalam sistem pendidikan kita.

Sastra dan Tantangan Digital

Generasi hari ini tumbuh dalam dunia yang didominasi oleh layar, suara, dan kecepatan. Mereka lebih akrab dengan reels Instagram atau video TikTok daripada puisi Chairil Anwar. Namun bukan berarti sastra harus menyerah. Justru guru dan pendidik kreatif bisa memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan sastra secara segar.

Puisi bisa dihidupkan melalui video kreatif yang disuarakan penuh ekspresi. Cerpen bisa dibacakan lewat podcast naratif. Bahkan, drama bisa dipentaskan dalam format short movie sederhana. Yang penting, esensi teks tetap dipahami dan tidak direduksi menjadi tontonan semata.

Di sinilah pentingnya literasi sastra digital: siswa tidak hanya menjadi penikmat pasif, tetapi juga kreator aktif. Mereka bisa membuat video interpretasi puisi, menulis ulasan sastra di blog, atau membuat poster digital yang menyarikan pesan dari novel yang dibaca. Ini adalah bentuk pembelajaran abad ke-21 yang tak mengorbankan kedalaman.

Membumikan Sastra di Sekolah

Sastra tidak akan bermakna jika hanya hidup di ruang kelas dan soal ujian. Ia harus dibumikan dalam kehidupan sekolah. Dibutuhkan ekosistem literasi yang hidup: klub menulis, lomba cipta puisi, diskusi karya sastra, bahkan pementasan drama rutin.

Pendidikan yang menghidupkan sastra adalah pendidikan yang memberi ruang kreasi. Misalnya, siswa diberi waktu untuk menulis puisi secara bebas, kemudian membacanya di depan kelas. Atau membuat zine sastra sekolah yang memuat karya-karya mereka. Ini tidak hanya membangun kepercayaan diri, tetapi juga memberi makna nyata dari belajar sastra.

Perlu dicatat, pengajaran sastra yang baik tidak harus selalu bergantung pada guru yang “ahli sastra”. Yang utama adalah guru yang punya cinta kepada teks, dan bersedia menyelami bersama siswa dalam ruang dialog yang jujur. Dengan begitu, sastra bukan menjadi hafalan, tetapi pengalaman bersama.

Sastra sebagai Ruang Spiritualitas

Dalam sejarahnya, sastra adalah wahana transendensi: jendela untuk merenungi kehidupan, kematian, cinta, dan kehilangan. Dalam puisi Rendra, Emha Ainun Nadjib, atau Gus Mus, kita menemukan suara-suara yang menyentuh langit tapi berpijak di bumi. Ini membuktikan bahwa sastra tak hanya berurusan dengan estetika, tapi juga spiritualitas.

Di tengah kehidupan modern yang makin mekanistik, sastra menjadi ruang kontemplasi. Ia mengajak kita berhenti sejenak, merenung, dan bertanya: untuk apa hidup ini dijalani? Sastra memberi ruang untuk suara hati, untuk suara yang sering tertinggal oleh kebisingan dunia.

Inilah yang diharapkan dari pendidikan sastra: tidak hanya mencetak siswa yang paham istilah sastra, tetapi yang juga memahami hidup dengan lebih dalam.

Kembali ke Hakikat

Tujuan pendidikan sastra bukan menghasilkan kritikus, bukan pula melatih jawaban ujian. Tujuannya adalah membentuk manusia yang peka, empatik, dan mampu melihat kehidupan secara utuh. Di tengah zaman yang semakin menegangkan ini, dengan polarisasi sosial, kemiskinan makna, dan kerapuhan batin; sastra justru semakin dibutuhkan.

Sebagaimana dikatakan Kahlil Gibran, “Poetry is a deal of joy and pain and wonder, with a dash of the dictionary.” (The Collected Works, Alfred A. Knopf, 1934). Sastra bukan sekadar bacaan, tapi juga wahyu kehidupan.

Sudah saatnya kita mengembalikan pendidikan sastra pada esensinya: sebagai ruang pembentukan jiwa dan peradaban. Karena bangsa yang kehilangan sastra adalah bangsa yang kehilangan nurani. ***


[1] Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

12 Juni 2022
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In