Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Log In Hikmah

Esai Abdul Wachid B.S.

Admin by Admin
12 Agustus 2026
0
Esai Abdul Wachid B.S.
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

Sastra dalam Bayang Disrupsi Digital

Oleh Abdul Wachid B.S.

Pada Sabtu, 25 Mei 2025, Harian Kompas menurunkan laporan utama yang menggugah nurani: “Sastrawan Tak Bisa Menggantungkan Hidup pada Sastra.” Judul itu bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan pancaran dari realitas pahit yang lama dibiarkan diam: bahwa sastra, yang seharusnya menjadi medan pengucapan nurani dan pencatat spiritualitas zaman, telah kehilangan tempatnya di pusat kesadaran bangsa. Ia terdorong ke tepi, ditinggalkan oleh kebijakan kebudayaan yang lebih memihak industri, bukan perenungan.

Krisis Penghargaan bagi Sastrawan

Laporan itu memuat kesaksian getir tentang kehidupan sejumlah sastrawan. Ada yang mengalami kelumpuhan akibat stroke, kehilangan anggota tubuh karena komplikasi penyakit, dan menghadapi kesulitan ekonomi, namun mereka tetap menulis. Mereka tidak menulis karena mendapat imbalan layak, tetapi karena menulis adalah cara untuk tetap hidup secara batin.

Kita mengutip puisi Chairil Anwar dalam pidato, memajang bait-bait Sapardi Djoko Damono di buku pelajaran, menjadikan karya W.S. Rendra sebagai bahan status media sosial. Namun, saat para penyair itu sakit, tua, dan sepi, nyaris tak ada yang mengulurkan tangan. Hal ini bukan semata perkara honorarium, tetapi soal penghargaan budaya. Bangsa yang tak menghormati para penyair dan budayawannya, akan kehilangan ruh kemanusiaannya.

Disrupsi Digital dan Ruang Sastra

Di tengah krisis penghargaan itu, kita mengalami disrupsi digital: pergeseran besar dalam cara manusia hidup, berkomunikasi, dan membentuk makna. Dunia bergerak dalam kecepatan yang melampaui permenungan. Informasi menyergap setiap detik, tanpa ruang tafsir. Sastra yang lahir dari keheningan dan permenungan batin, seolah menjadi terlalu lambat bagi generasi yang dibesarkan oleh algoritma.

Media cetak yang dulu menyediakan ruang bagi cerpen dan puisi kini makin jarang. Sebagian gulung tikar, sebagian berubah menjadi portal berita kilat. Konten sastra disingkirkan demi artikel viral dan infotainment. Bahkan, redaksi yang dulu memelihara mutu kini lebih peduli pada “klik” daripada makna. Hal ini mengingatkan pada kritik Guy Debord (1967) dalam La société du spectacle:

“Le spectacle est le moment où la marchandise est parvenue à l’occupation totale de la vie sociale.” (Spektakel adalah saat ketika komoditas telah berhasil menguasai seluruh kehidupan sosial.)

Sastra tidak bisa bersaing dalam pasar yang menuntut kecepatan konsumsi dan profit. Ia kehilangan rumahnya, menjadi eksil dalam lanskap kebudayaan yang dibentuk oleh algoritma.

Dalam penerbitan pun, sastra terpinggirkan. Oplah buku-buku puisi dan cerpen kian kecil. Banyak karya hanya dibaca oleh sesama penulis atau komunitas akademik. Maka, terbentuklah sirkuit kecil: penulis menulis untuk penulis, bukan untuk masyarakat. Hal ini gejala laten dari kebudayaan yang terputus dari akar sosialnya.

Tantangan dan Peluang di Era Digital

Namun dalam sejarah peradaban, krisis selalu membawa peluang. Dunia digital, yang mula-mula dianggap ancaman, kini menjadi ruang baru bagi kreasi dan ekspresi sastra. Generasi baru menemukan kanalnya di media sosial, podcast, kanal YouTube, blog, hingga Wattpad.

Karya-karya sastra mulai tampil dalam bentuk spoken poetry, video puitik, atau fiksi interaktif. Tentu tidak semua karya menyentuh kedalaman estetik sastra klasik, tetapi inisiatif itu menandai kebangkitan bentuk-bentuk baru kesusastraan yang menyesuaikan zaman. Tantangannya ialah menjaga mutu dan kedalaman makna dalam medium yang serba cepat.

Seperti yang disampaikan Milan Kundera (1986) dalam The Art of the Novel:

“The novel’s spirit is the spirit of complexity. Every novel says to the reader: ‘Things are not as simple as you think.’”

(Semangat novel adalah semangat kompleksitas. Setiap novel berkata kepada pembacanya: ‘Segalanya tidak sesederhana yang kau kira.’)

Begitulah, sastra mengajarkan kita untuk berpikir mendalam, menyelami nuansa. Jika karya sastra kehilangan kedalaman, ia hanya menjadi tempelan estetis belaka.

Peran Negara dan Masyarakat Sipil

Dalam negara yang menghargai kebudayaan, negara hadir menjaga dan merawat hidup para budayawan. Ia tidak hanya hadir dalam seremoni sastra, tetapi juga memberi jaminan hidup bagi para sastrawan yang telah mengabdikan hidupnya untuk nurani bangsa.

Skema insentif, beasiswa berkarya, jaminan hari tua dan kesehatan bagi sastrawan senior bukanlah belas kasih, melainkan bentuk tanggung jawab negara kepada para penjaga jiwa bangsanya.

Di sisi lain, komunitas sastra dan masyarakat sipil tak bisa berpangku tangan. Kita mesti merawat ekosistem kesusastraan: dari komunitas kampus, pesantren, rumah baca, sanggar kreatif hingga kanal-kanal digital. Sastra harus kembali ke sekolah, ke ruang kelas, ke masjid, ke ruang keluarga. Sastra harus menjadi napas hidup bersama.

Solidaritas Sastrawan dan Etika Kultural

Sastrawan tidak bisa berjalan sendiri. Di tengah sistem yang belum adil, solidaritas antarpenulis menjadi keharusan. Kita bisa saling membantu: membuat resensi karya teman, menulis pengantar buku kawan, menghadiri peluncuran buku penulis muda, atau menyebarkan informasi sayembara.

Dalam budaya kapitalistik, segala sesuatu dihitung berdasarkan klik, rating, dan uang. Tapi seperti dikatakan Paulo Freire (1970) dalam Pedagogy of the Oppressed: “Reading is not walking on the words; it’s grasping the soul of them.” (Membaca bukanlah berjalan di atas kata-kata, tetapi menangkap ruh dari kata-kata itu.)

Itulah tugas sastra: menghubungkan manusia dengan ruh zaman. Bukan sekadar menyusun kata-kata, tetapi menyelamatkan makna yang tersembunyi di baliknya.

Sastra sebagai Kendaraan Nilai

Ngũgĩ wa Thiong’o (1986) dalam Decolonising the Mind menulis: “Language carries culture, and culture carries, particularly through orature and literature, the entire body of values by which we come to perceive ourselves and our place in the world.” (Bahasa membawa budaya, dan budaya melalui lisan dan sastra membawa seluruh nilai yang membentuk persepsi kita tentang diri dan tempat kita di dunia.)

Sastra bukan sekadar produk estetika, tetapi kendaraan nilai. Melalui sastra, bangsa belajar mencintai, memahami, dan merenungkan diri. Jika sastra mati, maka mati pula ingatan kolektif bangsa.

Bangsa yang tak mendengar para penyairnya akan kehilangan arah. Karena puisi, esai, dan cerita bukan hanya hiburan, tetapi napas spiritualitas kolektif. Di zaman yang serba bising, sastra mungkin sunyi, tetapi justru dalam kesunyian itulah, nurani bisa mendengar kembali suaranya. ***

Daftar Pustaka

Debord, G. (1967). La société du spectacle. Paris: Buchet-Chastel.

Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed (M. Bergman Ramos, Trans.). New York: Herder and Herder.

Kundera, M. (1986). The Art of the Novel (L. Asher, Trans.). New York: Harper & Row.

Ngũgĩ wa Thiong’o. (1986). Decolonising the Mind: The Politics of Language in African Literature. Nairobi: East African Educational Publishers.

Harian Kompas. (2025, 25 Mei). “Sastrawan Tak Bisa Menggantungkan Hidup pada Sastra”. Jakarta: Kompas Media.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

12 Juni 2022
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In