Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi-puisi H.M. Nasruddin Anshoriy Ch.

Admin by Admin
13 Mei 2022
0
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

 GALIH GAHARU

 

Menjadi santri di bukit kapur ini

Kakek tua itu sedang bercakap-cakap
dengan pohon gaharu

 

Di rerimbunan dzikir ini

Jalan setapak menuju puncak hanyalah
cinta

Kerikil dan batu tak lekang mengamini
doa

 

Menjadi bayi di hutan ini

Kakek tua itu sedang menyusu bulan
purnama

Malam dan kelam tak sanggup
menyelimuti jiwanya

Sebab cahaya memancar terang dari
butir-butir tasbihnya

 

Di tempat ini semua makhluk sedang
mengaji

Pada rimba yang renta

Pada petani yang tumpul cangkulnya

Ladang kesabaran yang merindukan
tegur-sapa

Agar tiba saatnya menjadi khalifah

 

Berguru pada kakek tua itu

Air mataku jatuh sepadat permata

Menghunjam ke bumi dalam kemilau surga

 

Gus Nas Jogja, 22 Agustus 2021





 

BACALAH

 

Bacalah suara hati yang tertulis tanpa
aksara

Butiran sunyi yang mengurung diri

Kata-kata di seberang kata-kata

Aksara di luar aksara

Doa di dalam doa

 

Mencari akar nalar di belukar mawar

Tanamlah satu suku kata pada senyap
kalbu

 

Belailah angin

Dan berjanjilah untuk selalu bertemu

Galilah mata air

Dan bersabarlah hingga menyatu

 

Setetes atau sesamudera

Simpanlah sebagai rahasia

 

Gus Nas Jogja, 22 Agustus 2021





 

YANG PALING SUNYI

 

Yang paling sunyi di negeri ini adalah
puisi

Di pasar loak kata-kata

Yang terbeli hanya janji

Langit batinku sunyi

Meneteskan air mata di dalam diri

 

Yang paling sunyi di kota ini adalah
puisi

Pohon-pohon aksara digergaji

Banjir lumpur tutur-kata membawa nyeri

 

Yang paling sunyi di dalam diri adalah
puisi

Cinta yang remuk diterkam mimpi

Mati sebelum mati

 

Gus Nas Jogja, 22 Agustus 2021



 



ASMAK PENJINAK COVID

 

Bismillah langit

Bismillah bumi

Bismillah hidup

Bismillah mati

 

Inna Anna Amanna

Asmak langit kusebut

Asmak bumi kusambut

La Tahzan

La Tahzan

La Tahzan

 

Tiada penyakit yang sanggup menggigit

Sebab Tuhan yang Maha Mengobati

Telah mengutus malaikat penyembuh

Innanā āmannā!

Inna Anna Amanna

 

Virus di langit

Virus di bumi

Semuanya sirna 

Atas Kuasa Allah Ta’ala

Semuanya mati 

Atas Kehendak Ilahy

Dengan ikhtiar Asmak Tolak-balak ini

 

Rabbana Asrif’ Anna ‘adhaba Jahannama

Inna Adhaba Kana Gharamaan 

Innaha Sa’at Mustaqaraan wa Mu’qama

Lindungi kami, Duh Gusti, dari bara
siksa api neraka!

 

Pandemi ini adalah panen raya kami

Karena dzalim pada diri sendiri

Wabah ini menggila karena kegilaan
kami

 

Duh Gusti

Sehatkanlah jiwa-raga kami

Cerahkan kemanusiaan kami

Waraskan akal sehat kami

Jauhkan kami dari tipudaya untuk
merusak bumi

Jauhkan kami dari matirasa jiwa dan
melalaikan langit

Jauhkan kami dari menodai kesucian
hati

 

Bismillah 

Niat ingsun tapa-brata

Nawaitu taubat nasuha

Kutulis mantra ini 

Asmak Penjinak Covid

Tabib Agung Langit dan Bumi

 

Innanā āmannā!

Innanā āmannā!

Inna Anna Amanna

La Takhof!  La Tahzan! 

 

Suwuk segala suwuk 

Asmak segala asmak

Rahasia ruh dan rasa

Darah-daging iman dan ilmu

Menyatu

Maujud

Menyembuhkan 

 

A’udzubillahi minasysyaithonirrojim

Hanya atas ijin dan kuasa Allah

Asmak ini pengusir kafir pageblug

Asmak ini pengobat tingkat makrifat

Asmak ini vaksin penyembuh iman 

Asmak ini vaksin pengobat rasa aman

 

Innanā āmannā!

Sluman slumun slamet

Asmak datang Covid hilang

Lailaha illa Allah

Muhammad Rasulullah

 

Gus Nas Jogja, 28 Agustus 2021

 

 

 



SUWUK PAGEBLUG

 

Di antara Kaf dan Nun

Kubiarkan nafasku mengaji hidup

Kuniatkan suwuk ini mengeja masa depan

 

Kusingkirkan ronta dzakarku

Kupanahkan dzikir ke palang pintu

 

Niat ingsun urip

Nawaitu udu klungsu

Wabah Pandemi segera berlalu

 

Dengan lidi kuusir Pandemi

Dalam lidi kuhembuskan vaksin Ilahi

 

Pageblug ini mewartakan maklumat bumi

Betapa pentingnya manusia bermawas
diri

Tersebab pestisida meracuni semesta

Tersebab polusi mengirim jelaga ke
dalam jiwa

 

Niat ingsun urip

Nawaitu udu klungsu

 

Dalam banjir bandang kegelisahan 

Dalam badai fitnah dan cerca antar
sesama

Dalam gempa korupsi dan kemunafikan
yang menghancurkan negara

Pagebluk adalah jawaban alam untuk
kita semua

 

Niat ingsun urip

Nawaitu udu klungsu

 

Dengan mengucap senyap 

Suwuk Pageblug kutembangkan di hening
kalbu

Beribu-ribu lidi

Berjuta-juta lidi

Bermilyar-milyar lidi

Kuikat dalam niat dan tekad 

Menjadi sapu jagat pembersih pandemi

Pengusir duka-lara

 

Kusebut kullu syai’

Kusebut kullu syai’

Kusebut kullu syai’

Kullu syaiin halikun illa Wajhah

 

Dengan meminjam nafas Nabi Khidzir

Dengan mengembalikan nafas hutan dan
nafas bermilyar pohonan

Dengan mengutuhkan kembali nafas
kemanusiaan 

Atas izin dan kuasa Sang Maha Segala

 

Dengan suwuh pagebluk ini kulangitkan
doaku:

Sembuhlah!

Sembuhlah! 

Sembuhlah! 

Wahai seluruh anak-cucu Adam!

 

Gus Nas Jogja, 26 Agustus 2021





 

AMANGKURAT I

 

Api siapa yang terus menyala di sini

Antara Plered dan Kerto

Membakar sejarah 

Mendidihkan darah

Kebencian dan fitnah terkubur di sini

 

Di tepi sungai Opak

Titik temu antara luka dan doa

Aku mendaki Bukit Permoni

Berdiri tegak di puncak 

Kuziarahi masa lalu

 

Jejak Raden Mas Rangsang membentang

Nafas Sultan Agung mengapung dalam
kidungku

Jalan berliku bertabur paku

 

Membaca sidik jari Raden Sayyidin

Mataku terkubur debu

Takdir yang getir

Prasasti memahatnya 

Dengan fakir dan pandir 

 

Bagaimana bisa

Sejarah dimutilasi

Kebenaran disuntik mati

Tanpa ada yang pernah peduli?

Di telapak kaki De Graaf

Raden Sayyidin dijadikan alas kaki

Ditulis dengan amis darah dan bau
bangkai

 

Enam ribu ulama dibantai

Di alun-alun Plered

Bangkai Ratu Malang dipeluk dan
ditiduri

Empat hari lamanya 

Semuanya dicatat menjadi sejarah

Dengan sumber fitnah 

Dan konon katanya

 

Dalam ketiak Ricklefs

Sejarah tak butuh bukti

Tak perlu data dengan teliti

Arkeologi dan literasi 

Tak penting jadi referensi 

 

Bagaimana bisa

Istana membisu

Kraton sepi tanpa suara 

Saat leluhurnya dihina

Direndahkan serendah-rendahnya?

Bagaimana bisa para sejarawan membisu

Atau mengamini kejahatan sejarah
ini? 

 

De Graaf dan Ricklefs

Adalah daftar hitam dalam tajam penaku

Sejarawan gadungan yang bukan
siapa-siapa

Tapi seringkali dianggap dewa

 

Amangkurat I sudah berkalang rindu

Ia hijrah dari Plered

Agar darah tak tumpah 

Dalam suluk dan khalwat

Ia mangkat seharum bunga

Lalu terbaring Sidoarum

Berserah pada Sang Pencipta 

 

Gus Nas Jogja, 12 September 2021






DI BAWAH SUMPAH

 

Di bawah sumpah

Kusiangi sejarah masa lalu 

Para pemuda yang tak hanya
bertutur-kata

Tapi menyalakan api di puncak puisi

 

Ketika penjajah hanya bisa menista

Kaum pribumi dianggap debu dan diinjak
di alas kaki

Para pemuda tak perlu saling
bertanya 

Agamamu apa

Sukumu apa dan darimana

Kulit manggis atau gula Jawa

 

Di bawah sumpah

Para pemuda mendidihkan jati
diri 

“Torang bisa!” teriak mereka yang dari Papua

“Kitorang samua basudara!” pekik pemuda Manado

Sedangkan pemuda Aceh memekikkan
takbir

Penuda Bugis dan Batak mengepalkan
tinjunya ke cakrawala 

 

Jong Jawa

Jong Borneo 

Jong Sunda

Jong Celebes

Semua berbaris rapi

 

Sebelum Sumpah Pemuda ditulis

Sebelum Sumpah Pemuda diucapkan

Mereka telah berbaris menjadi pagar
betis

Bagi Nusa dan Bangsa

Bagi Bahasa Pemersatu

Indonesia 

 

Di bawah sumpah

Kini aku hanya bisa tengadah

Menatap marwah yang gundah

Indonesia yang mencari makna

 

Gus Nas Jogja, 28 Oktober 2021

 

 



HUTAN TUBAN

 

Ziarah ke makam Sunan Bonang pagi
ini 

Kutembus rimba dzikir dalam duka
mengalir 

Hening dan bisu membiru pada lingkar
bibirku 

 

Rindu masa lalu mengerati degub
jantungku

Kudengar suara gamelan sayup-sayup

Ditimpa adzan subuh yang kian menjauh

Meraut ratap senyapku

 

Mataku berkaca-kaca mengiringi terbit
matahari 

Menyaksikan rimba yang porak-poranda

Tanah tandus dan kemarau jiwa

Pagi buta ini seakan jumawa

 

Kusebut nama Tuhan di hutan Tuban

Gemuruh tasbih tunas-tunas pohon Jati

Mendesis dan mendesah di antara
gemalau doa

 

Kucari bening embun di hutan ini 

Kuntum kemuning dan kelopak bunga
randu menyapaku

Menyuapkan sepincuk sepi dalam jihad
dan munajatku

 

Gus Nas Jogja, 22 Oktober 2021





 

JUM’ATKU

 

Jum’atku adalah rindu

Kujulurkan jejaring jala sutera

Menjadi tenun shalawat 

Ikatan tali kelembutan

Mengikat rindu pada Muhammadku

 

Jum’atku adalah cahaya 

Plasenta tali pusar cinta dan rindu

Pengikat lahir dan batin

Senarai seloka dan gurindamku

 

Telah kusyairkan cakrawala 

Dengan syiar kesiur doa

Tadarusku berlinang air mata

Mata puisi tujuh samudera 

 

Jum’atku adalah gapura 

Gemetar istighfarku

Tempatku membuka gerbang takdir

Gerimis tangis dan hujan lebat
makrifatku

 

Jum’atku adalah telaga

Kau dan aku berendam dalam doa

Bertukar takbir dalam sulaman salam
selama-lamanya

 

Jum’atku adalah jimatku!

 

Gus Nas Jogja, 29 Oktober 2021





Tentang Penulis


H.M. NASRUDDIN ANSHORIY CH. atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi
sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru
sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, H.B. Jassin,
Mochtar Lubis, W.S. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di
berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan
Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya
berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah
nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar
Harapan
 dan lainnya.

 

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di
TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian
Writers Conference
 di National University of
Singapore
. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik
dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih
penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun
Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

 

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor
Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw
Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah
menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI;
menjadi konsultan manajemen; menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy
Mizwar. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di
kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi
Pembicara Kunci pada World Culture Forum
yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.



Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In