Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi-Puisi Farikhatul ‘Ubudiyah

Admin by Admin
26 Maret 2022
0
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

MENGISI TUMBU

 

Sawah ini
bentangan balong, Nusamangir

anak-anakmu
mencari pematang setelah seluruh

kakinya berlumur
lumpur dan keranjang ikan berisi

empat belas ekor
kating

 

Di jembatan
irigasi sungainya menghadap mata angin

air agak malas
mengalir tetapi memantulkan cahaya

musim kemarau

di mana petak-petak
padi dipaneni

di bentangan
petak lain ditanami

 

Berangkatlah ibu, simpanan padi kita hampir habis

hari-hari adalah
bingkisan yang tidak pernah terduga

untung ruginya

angin dingin
Nusamangir terasa limbung

di bulak yang
dibatasi jalan angkutan antar kota

dan laju kereta
yang hanya terdengar derit jeritnya

mana ada tempat
berteduh untuk nanti

ketika matahari
menghitung waktu Zuhur

mesin penggiling
dami riuh

panas dan debu
lekat di keringat

makin retak
tanah keringmu

makin dalam
lumpur lebakmu

 

Ibu yang berhari–hari mbawon dari desa ke desa

membawa delapan
kilogram gabah pada hampir senja

dari arah timur,
barisan bangau terbang pulang

anak-anakmu
berteriak seperti meneriaki diri

            ;

            kuntul… kuntul… omahmu wis
kobaran

terbakarlah
hasil buruhan dan buruan ikanmu

di malam
perapian tungku ibu




 

MAHKOTA BUNGA

            : Bidens pillosa

 

Bunga ajeran yang tumbuh di pematang, di manakah

ingatan anak-anak mesti diletakkan

seorang dewasa sedang cemas berjalan

mencari bunga-bunga liar yang tumbuh selepas

hujan semalam

 

Ia memandangi rumput yang lapang mendampingi

tangkai panjang ajeran dan bunga kecil menjalar

pada rasa takut tentang waktu mendatang

 

Bagaimana merangkai mahkota bunga seperti masa kanak

yang berlarian begitu cepat dan melompat-lompat
bahagia

sementara tangannya telah lupa mengikat satu tangkai
ke

lainnya, seperti menautkan tabah dan sedih hingga

lepas dan patah

 

Ia butuh tangkai bunga ajeran lebih banyak lagi

tetapi langkahnya melambat, sendiri




 

MENGAKHIRI PERJALANAN

            : Rubus strigosus

 

Seperti membuat goresan

dari ranting raspberry di jalan menikung

Aku menggenggam buah merah yang kau

petikkan untuk mengawali percakapan

warnanya serona cahaya pagi yang kita punggungi

dan kau berjalan lebih jauh tanpa mengatakan

apa-apa

 

Aku melintasi jalan ini berkali-kali lagi

memasuki semak penuh duri, memetik buah

beri, memotret jalan liku

juga umpatan yang aku tahan sendirian

hingga dua-tiga musim

 

Aku memilih doa baik meski melukakan diri

menahan dingin di bukit Limpakuwus

tanpa pembicaraan

apa-apa

 



 


KERANJANG BELANJA

            : Limnocharis
flava

 

Seusai pulang dari pasar kau berkisah

tentang seikat sayur dan luka

 

Kita pernah menanam dan memanen

di balongan, kadang aku memikirkan

keong sawah

bertelur di tepian

dan bernaung di rimbun daun-daun

Kau menangkap, mengetuk pintu rumahnya

sampai hancur, dilemparkan

ke mangkuk pakan hewan ternakmu

 

Pagi ini kau membeli sayuran

seperti yang pernah kita rawat belasan tahun silam

kau akrabi kenangan dan rasa pahit dari

olahan masakanku yang sering

kuaduk dan kunyalakan api paling biru, tetapi

 

esok pagi jangan lupa, uangmu harus baik-baik saja

mengisi penuh keranjang belanja

 

 

 

MINUMAN POHON

 

Pohon durian
samping rumahku

makin tinggi dan
sendiri

ibu meramu
minuman, disiramkan

sebagai
persembahan juga membuka perbincangan

pada tengah
siang tanpa bayangan

 

Lalu kemarau
menurunkan hujan kiriman

tumbuhlah daun
baru

dan bunga yang
pendek usianya

mengabarkan
dirinya ingin tetap hidup

meski belum dianggap
berguna

 

Ia mengingat
induknya yang tiada

telah
mengumpulkan anak-anak cucu dan saudara

menjadi bahagia,
tertawa, bertengkar

menangis satu
per satu

tapi lekas baik
biasa saja

 

Lelaki yang
menanamnya telah mati

padahal ia
berjanji

berbuah untuk
dibagi-bagi

tapi lupa
meminta agar manis, besar

dan segera





 

INGATAN SANGAN
KOPI

            :nini

 

Tidak ada lagi
asap dan jelaga di tiupanmu pada tungku

kayu di para menghabiskan
pembakaran demi pembakaran

waktu; tanahmu makin kering serupa
retakan sangan

hampir rapuh dan
tetap saja kau tabahkan perapian

gelombang
panasnya menguap ke wajahmu

 

Di dingklik
kau duduki ingatanku yang menjulur serupa api

dari bibir
tumang ditindih sangan sangkaan sepasang kekasih

biji-biji kopi
kau tuang dan merebaklah bau basah hujan

di mula musim

 

aku melihat lumpang sebelum kau
sentuhkan alu

debar tumbukanmu selalu seperti pelukan

mendetak lantai
rumah dan butiran kopi berlompatan

serangga diam di dindingmu yang getar

 

dug-dug nutu
anake lagi nangis

 

kau merapal
serupa mantra sementara binar mata

cucumu tempat
biji-biji kopi bercemin

sebelum kopi di
sanganmu menjadi pekat

liuk tanganmu tidak berhenti mengaduk

ada jelaga
singgah di sanggulmu

tubuhku tinggal dingin

usai usiamu kuantar ke arah uap

segelas kopi
diseduh

dengan sepenuh
kenangan

            dan
kenangan


Tentang Penulis

        Farikhatul ‘Ubudiyah, lahir pada 21 Oktober 1995 di Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Dia berkegiatan di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto. Dia meraih Juara 2 pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) penulisan puisi tahun 2016, dan Juara 1 lomba menulis tingkat mahasiswa se-Indonesia UKM KIAS tahun 2018. Beberapa puisinya dimuat di media massa. Tergabung dalam antologi bersama, Pesisiran (Negeri Poci, 2019), Khatulistiwa (Negeri Poci, 2021), Membaca Hujan di Musim Kemarau (Tembi Rumah Budaya, 2019), Arun (UKM Kias, 2018), dan lainnya. Berrumah di e-mail farikhah.ubudiyah@gmail.com.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In