Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi Ardy Priyantoko

Admin by Admin
21 November 2021
0
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

 


Jembatan Sayidan

: S

 

Sebelum matahari benar-benar terbenam

dan diganti lampu-lampu jalan perkotaan,

aku ingin mengingatmu untuk diriku sendiri

mengingat luka dan perasaan yang tidak biasa.

 

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu

sementara kau selalu datang dengan senyum purna,

sentuhan-sentuhan kecil,

dan menyandar bahu saat merasa kecewa.

 

Di jembatan Sayidan,

aku mencoba untuk mengingatmu kembali,

membaca percakapan lama kita

melalui pesan-pesan singkat.

 

Waktu itu, kau selalu saja mengelak

ketika berbicara mengenai kita,

sementara mata dan mimik muka

berkata sebaliknya.

 

Di jembatan Sayidan saat matahari terbenam

aku masih berteman embus angin

dan lalu-lalang orang-orang.

Bergerak dari sunyi ke sunyi,

dari satu sepi ke sepi lainnya.

 

Yogyakarta, 2020-2021



 

Memorabilia Jalan Kapas

 

Bukan sebab lapar

kau mengajakku ke angkringan,

aku paham betul

apa yang dikatakan matamu.

 

Setiap langkah adalah penawar

dari pertemuan-pertemuan yang tertunda,

dan obrolan-obrolan singkat

adalah kegugupan semata.

 

Sepanjang trotoar di bawah pohon kiara

kau tertunduk malu,

sementara aku terus mengamati langkahmu

yang semakin terburu.

 

Di angkringan jalan kapas,

kita duduk bersandingan,

memesan beberapa nasi kucing,

gorengan, dan sebungkus ketenangan.

 

Malam itu yang belum terlalu dingin,

degup jantung adalah satu-satunya

yang kita rasakan bersama,

setelah melewati hari-hari

dengan kemegahan suka cinta.

 

Yogyakarta, 2020-2021



 

Sepotong Pisang

 

Sore itu sebungkus pisang goreng

kau pesan lengkap dengan taburan cokelat.

Sewarna cokelat matamu yang jernih.

 

Rasanya-rasanya mungkin

semanis bibir ranummu yang merekah

dengan bercak merah menyala.

 

Aku bisa melihat jemarimu tergesa

mengiris-iris pisang yang masih panas.

Kemudian menyuapkannya sepotong kepadaku.

 

Di saat aku kesulitan mengunyah,

raut wajah yang kau perlihatkan saat itu

membuatku melupakan pekerjaan penting.

 

Membuatku memahami suatu hal,

bahwa mencintaimu adalah keputusanku.

Sementara untuk memilikimu adalah perkara lain.

 

Lantas, bagaimana mungkin

aku memalingkan diri darimu,

sementara kau selalu saja punya kejutan

-kejutan kecil yang tidak terduga.

 

Yogyakarta, 2020-2021



 

Apologi

 

Maaf jika aku telah mencintaimu,

sebab dadaku tak henti bergemuruh

sejak kedatanganmu.

 

Kau serupa angin

dan aku adalah api

yang terus membara karenamu.

 

Diam-diam aku terus memerhatikanmu,

sebab aroma tubuhmu

telah lekat dengan ingatanku.

 

Adalah aku yang lebih dulu tersesat

di belantara keasinganmu.

Sementara kau tetap angin,

tenang dan menyejukkan.

 

Sekali waktu menjelma badai,

meluluhlantakkan segala yang ada,

termasuk kangen yang selama ini

menjadi dasar kegelisahanku.

 

Maaf jika aku telah mencintaimu,

sebab cinta yang murni

lahir tanpa mengenal waktu.

Ia tumbuh begitu saja

tanpa mengharap apa-apa.

 

Yogyakarta, 2020-2021



 

Telaga Matamu

 

Aku mencintai bukan lantaran terbiasa

melainkan sebab telaga di matamu,

membuatku menyelam di kedalamannya.

 

Tenang gelombang

dan percik-percik air

menyimpan rahasiamu,

membuatku tenggelam

semakin dalam lagi.

 

Arus dalamnya kurasakan

seperti sentuhan tanganmu,

lembut dan mendebarkan.

 

Dasar telaga yang tak terhingga

memberi keleluasaan bagiku

untuk tetap menjelajah,

menandai tempat-tempat

yang belum ternamai.

 

Dalam telaga matamu

aku ingin terus hidup,

membersamai arus

dan tenang gelombang.

 

Kemudian mencipta pusaran baru

agar kau juga tahu

di mataku ada telaga

yang mesti kau selami,

dalam, lebih dalam lagi.

 

Yogyakarta, 2020-2021



 

Cara Mencintai dengan Jarak

 

Kamu
mesti akrab dengan jarak,

percayalah
kepadanya.

Sebab
karenanya pula

cinta
di dadamu tumbuh setiap hari

mengakar
dan semakin semi.

 

Jarak
tidak akan membuat senja

yang
kita lihat menjadi berbeda.

Begitu
pula ketika malam tiba,

samar
bisa kita lihat susunan bintang

yang
membentuk layang-layang

di
langit selatan.

 

Mencintai
aku yang jauh darimu

merupakan
cara terbaik untuk memahami

bahwa
jarak tidak memudarkan rasa,

bahwa
jarak membuatnya semakin dewasa.

 

Yogyakarta,
2020-2021



 

Tentang Penulis

 


Ardy Priyantoko
lahir di Wonosobo. Penyair ini bergiat di kelompok belajar sastra Jejak Imaji
dan komunitas sastra Bimalukar. Dia mengabdi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD)
Yogyakarta.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In