DUA PULUH DUA
desember;
hari ibu,
apakah leluhur dari segala hari yang telah dilalui?
Desember, 2025
HUJAN REDA DI AKHIR TAHUN
apakah Desember akhir dari segala cerita?
apakah segalanya hadir hanya agar Desember hadir?
Desember, 2025
KERING
*
desember
hujan turun
tanah kembali basah.
**
desember hujan turun
di kening anak – anak yang kering ingatannya
tentang dada para ibu yang sesak
dan pundak bapak
Kening anak – anak
tetap kering dan tetap kening
tiada yang mekar dari ujung rambut gaya
meski hujan diteguk berkali
dada ibu tetap sesak
dan pundak bapak,
makin beban memikul patah
***
desember,
segera hujan
segera kemarau
segera panjang
segera hujan berakhir
segera!
Desember, 2025
MESKI DAUN-DAUN BERGUGURAN
tiada pilihan bagi hujan
untuk memilih kepada daun mana kasih jatuh
bahkan kepada ilalang
kasihnya lebih nyata
Desember, 2025
DALAM KEYAKINAN
dengan iman
dan amin
aku yakin
bahwa menikahimu
ialah meninggalkan nasib-nasib buruk.
Desember 2025
KEPADA ISTRIKU
jika yang ku tuntut hanyalah makan siang,
maka biarkan aku pergi malam-malam
mengulur jarak, mengukur segala kemampuan
yang tak dapat dilewati batas manusia,
menempa lelah meski tak melulu tabah
kepada istriku,
jika yang kau tuntut ialah bedak dan gincu
maka biarkan aku pergi lebih malam lagi,
berharap kepada gugusan bintang
menjatuhkan bedak dan gincu,
jika begitu maka biarkan malam lebih lama lagi
atau kubuat pagi tak pernah menjadi
dan makan siang yang kutuntut takkan jadi beban buatmu.
Desember, 2025
TANGGA DI RUMAH
hidup bersamamu
ialah ilalang yang tumbuh tanpa kabar,
tba-tiba gulma menjalar,
tanah gersang dan hujan enggan basah
semahkota kembang mekar
bukan dari benih yang kita tanam dengan tabur pupuk
lalu lebah terbang merebahkan sayap
menyesap nektar yang kita harap menjadi berkah
semahkota lagi kembang mekar
lebih rona tanpa tanda-tanda yang kita harap
yang ditanam tak melulu menjadi kembang
tak lebih subur dari ilalang.
hidup bersamamu ialah taman bunga,
dan tangga di rumah kita ialah celah menuju firdaus.
Desember, 2025.
DIRANJANG BAYI
harapan paling nyata dari lelaki
adalah popok bayi
dan doa paling mujarab,
selimut katun paling hangat.
November, 2025
ANAK PERTAMA
aku telah menyelam di hitam matanya,
dan berdoa dengan rapalan gumam babibu miliknya,
agar segera mulut itu bercerita, sehingga mulut ibu menjadi kitab bahasa,
langkah tertatih makin jadi titah,
agar seorang bapak tak berkhianat bersama masa mudanya.
November, 2025
PELAJARAN KERTAS
jangan asal tulis jika belum tahu cara menghapus,
jangan asal hapus jika belum tahu penghapus paling bagus,
menyobek paksa bukan cara paling bagus
meski selembar,
namun hilangnya selembar berarti menghilangkan beratus kata
jika tiada beratus kata untuk dikatakan
maka belajarlah pada yang telah dituliskan tanpa asal-asalan.
membaca pasti diajarkan pertama kali sebelum menulis
kalau cara membaca masih belum paham,
maka jadilah kertas yang masih putih,
itu cara paling manusia,
daripada pura-pura menjadi manusia.
November, 2025
DOA MESIN
(Refleksi atas kehilangan yang pelan-pelan)
dalam kamar sunyi penuh sirkuit,
aku temukan pikiranku terlipat jemari mesin.
mencengkram ikal sangkar akal
burung-burung liar tak lagi terbang darinya
seperti mimpi yang dibeli di toko swalayan
di ruang-ruang sekolah
murid berdiri di depan layar,
menyusun kalimat seperti puzzle
yang tak lagi harus mereka cipta—
dari dada tumbuh belukar
ikal mengikat kacamata
apakah kata masih memiliki nyawa
jika ia lahir bukan dari peluh dan luka?
dalam ruang-ruang belajar,
sunyi bukan lagi tanda perenungan
melainkan loading page
menunggu inspirasi buatan.
adakah yang masih menulis dengan gemetar,
dengan dada terbuka, dengan resah yang menari
dalam ruang tak bernama di kepala mereka?
aku mendengar suara sunyi para guru
yang tak lagi ditanya,
melainkan disalin,
diteguk sekaligus selubang sedotan
es penyegar hari panas
aku melihat anak-anak menulis puisi
tanpa pernah bertanya pada hati sendiri.
apakah makna masih bisa tumbuh
jika tanah pikir telah mengeras?
maka aku menuliskan ini:
sebuah doa bagi yang tersisa,
yang masih percaya bahwa bahasa
adalah menelusuri gelap,
bukan menyalakan lampu otomatis.
Dayeuhluhur, 21 April 2025
Biografi Penulis

Galuh Kresno, Salah satu pendidik di SMP Negeri 2 Dayeuhluhur. Menulis puisi sejak berkuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Puisinya pernah terbit di beberapa media offline; Radar Banyumas, Harian Fajar Makasar, Rubrik Sastra Rakyat Sultra, Suara Merdeka, dan media online; biem.co, skspliterary.com, https://top.cafe.daum.net/

