SAJAK II
berlapis, berlapis-lapis gemunung
di balik kabut yang amat tipis
konon ini negeri para petarung
yang pedangnya tak boleh amis
dan memang
di puncak bukit yang selalu tafakkur
yang bersubuh sajadah sepi
ada sesuatu yang tak terukur
sejenis kelembutan tapi bergigi
pada telinga yang dibersihkan dengan bulu belibis
telinga yang kalis,
dan dipasang sinyal peduli, wahai munsyi!
kata amis bisa terdengar menjadi najis
atau tangis
DARI BATU BATIKAM
Itulah, kenapa batu itu disebut
Batu Batikam, bukan agar kau dan aku mengasah kesaktian
Sehingga jejak tikaman menjadi kekal
Ada yang lebih berharga pada “tambo”
Tentang pentingnya membongkar
Lapis-lapis jantungku yang bagai buku
Kemudian pada halaman yang tertulis firman
Kau bersujud di situ
Sehingga kubangun malu
Dan hakikat malu
Beduk masjidku bertalu-talu
Dan keris itu sudah lama tersimpan
Dan disimpan untuk menulis tanda tangan
Untuk derap dan kebersamaan
Kita tak cukup membangun harapan
Yang kita bangun adalah keringat dan kenyataan
PEMANDANGAN DI PANTAI PADANG
dengan Ahmad Tohari
lautan terkembang pagi hari,
langkah-langkah hangat pada dua orang nelayan
menyatu pada sebuah pencalang
sehingga pencalang itu terbang
di atas gunung-gunung ombak
gelombang terus berkembang
ke luas jauh samudra
pencalang itu tetap berenang
mengusung jiwa yang tenang
nelayan yang tahu nikmatnya zikir
tahu bahwa suara ombak zikirnya air
nelayan dan ombak berzikir bersama-sama
menuju kekekalan yang tak berakhir
melampaui batas dunia
AIE ANGEK, BERSAMA TAUFIK ABDULLAH
Suara azan merayapi Merapi, menyiapkan sawah sebagai sajadah. Engkau berlagu saat belatuk memainkan lagu batuknya. Aku berlari dalam angin yang tahu bahasa ingin, bahasa seribu mungkin. Seperti rumpun-rumpun bambu yang setia menyimpan sedihmu, sedih batu semesta. Gunung-gunung dibakar di kejauhan mengirim sesak ke dada orang-orang jiran. Dan kita seperti tak malu, dan aku tak malu, karena malu telah digadaikan bersama milik, laut dan hutan. Buat apa malu, malu itu tak ada gunanya, malu mencegahku menjadi orang besar, dan teramat tua untuk dipakai. Kemudian kudayung sampan, Singkarak, Toba, laut Cina Selatan, semua menyanyikan harapan. Jangankan engkau jangankan aku, cucumu mungkin telah lama mengenalmu, karena wayang-wayang telah menjadi orang. Petruk dan Gareng telah menjadi gelandangan dan orang-orang telah memulai haus harimau. Bintang, bulan, gunung dan tambang telah bergumul membangun masa depan. Padahal yang dibangun bukan bangunan, tapi janji yang melahirkan seribu sesal. Satu, dua, dan semua hitungan silakan menghitung diri, tapi kita harus berlari dan terus berlari untuk mengejar suara azan yang lenyap. Kita kalahkan gelombang, kita hancurkan sejarah dan kepalsuan untuk sebuah sejarah yang lain. Sejarah paduan keringat dan Amin..
LAGU
Tak ada suara bulan
Tak ada suara tambur
Alam hanya angin
Dan daun-daun yang berlepasan
Langit yang hanya ruang
Sesekali mempertanyakan kepada bumi
Perihal keseimbangan musim
Kenapa panen mengingkari janji
Memang tak mudah menjadi bumi
Menjadi daging yang menyiapkan ruang
Yang disuburi ganggang dan ilalang
Ada orang memilih telanjang diri
Dari pada telanjang hati
Ketika ada bertanya mengapa onak dan bagaimana duri
Lengking seruling melengkungkan langit
Dalam riuh yang gasing
Pertanyaan menjadi layang-layang yang compang-camping
Yang tak mungkin dilenggangkan angin
Barangkali ada saat kita kasihan kepada bumi
Yang tak marah kita kencingi kita beraki
Ada saat kita merasa letih kerkelahi
Karena bumi merasa malu
Kepada bulan dan matahari
Yang sorot matanya selalu sampai ke bumi
Bionarasi Penulis

D. Zawawi Imron, lahir diBatang-Batang, Sumenep, Madura, 1946. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di media lokal, nasional, dan internasional. Buku puisinya (1) Semerbak Mayang (1977), (2) Madura, Akulah Lautmu (1978), (3) Bulan Tertusuk Lalang (1982), (4) Nenekmoyangku Airmata (1985), (5) Celurit Emas (1986), (6) Derap-derap Tasbih (1993), (7) Berlayar di Pamor Badik (1994), (8) Laut-Mu Tak Habis Gelombang (1996), (9) Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), (10) Madura, Akulah Darahmu (1999), (11) Kujilat Manis Empedu (2003), (12) Cinta Ladang Sajadah (2003), (13) Refrein di Sudut Dam (2003), (14) Kelenjar Laut (2007), dan beberapa lainnya. Buku kumpulan esai sosial keagamaannya Unjuk Rasa kepada Allah (1999), Gumam-gumam dari Dusun (2000). D. Zawawi Imron pernah juara pertama menulis puisi di AN-teve (1995), dan menjadi pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunai Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunai Darussalam (Maret 2002). Sastrawan-budayawan ini memenangkan Hadiah Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The SEA Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Dari khalayak pembaca luas, Kiai Haji D. Zawawi Imron mendapat gelar “Penyair Celurit Emas”, dan tetap tinggal di desa kelahirannya, di Batang-Batang, sebuah desa ujung timur pulau Madura. Pada Minggu, 9 Desember 2018, Presiden RI Joko Widodo memberikan penghargaan kepada dua budayawan dan dua sastrawan pada acara Kongres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, satu di antaranya ialah D. Zawawi Imron, atas kontribusinya sebagai penyair dan pendakwah yang terus menyiarkan kebajikan sastra dan religi ke seluuruh Indonesia.

