Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Puisi

Puisi-puisi Galuh Kresno

Admin by Admin
30 Januari 2026
0
Puisi-puisi Galuh Kresno
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

YANG DITINGGAL DI BAWAH TANGGA RUMAH PANGGUNG

[1]

di bawah tangga rumah panggung tua,

terdapat batu pipih yang dulu dipakai memanggil hujan.

sekarang, batu itu dijadikan tatakan pot plastik.

hujan tetap datang—

tapi tak lagi diminta dengan hati.

[2]

seseorang menggali tanah di belakang dapur

dan menemukan tulang yang tak disebut dalam kitab mana pun.

tetangga berkata: “itu hanya anjing.”

tapi malam itu, suara nyanyian lama

terdengar dari tungku yang tak lagi menyala.

[3]

kain tua dengan benang emas

dijadikan lap meja saat pertemuan penting.

mereka tak tahu, benang itu

adalah tulisan rahasia dari seorang perempuan

yang dulu bisa bicara pada laut.

kini lautnya sudah jadi pelabuhan ekspor.

[4]

seorang anak menggambar matahari dengan lima wajah.

gurunya menghapus empat.

“Matahari hanya satu,” katanya.

tapi anak itu melihat

ada lebih dari satu pagi

di dalam tubuhnya.

[5]

di lemari yang dikunci tiga kali,

ada buku tua berisi mantra dalam bahasa yang tak lagi punya lidah.

tiap malam, halaman-halamannya terbuka sendiri

meski tak ada angin.

mungkin karena rindu dibaca.

atau karena ia tahu,

pemilik lidah itu masih bernafas

di balik kulit yang sudah disesuaikan.

[6]

tembikar pecah ditemukan di pinggir ladang.

di dalamnya: abu, rambut, dan setangkai bunga palem.

petani yang menemukannya menyebutnya “sampah”.

padahal tembikar itu dulu

dipakai untuk menyimpan ingatan

tentang pohon pertama yang tumbuh

sebelum bahasa ditemukan.

[7]

seseorang mendengar suara tangisan di bawah batu nisan.

tapi tak ada mayat.

hanya rambut neneknya

yang dulu dipotong karena dianggap tak pantas.

kini rambut itu tumbuh jadi semak

yang membuat pejalan kaki tersesat

menuju halaman belakang dirinya sendiri.

[8]

fragmen terakhir ditemukan dalam mimpi—

seorang lelaki dengan bayangan yang lebih panjang dari tubuhnya

berdiri di tengah hutan sunyi

dan berkata,

“Kami tidak ingin disembah. Kami hanya ingin diingat tanpa dibersihkan.”

Dayeuhluhur, 3 Februari 2025

MUSEUM KECIL YANG DISEMBUNYIKAN DI DALAM DADA

[1]

di balik tulang rusuk kanan seseorang,

tersimpan cermin retak

yang dulunya tergantung di rumah kepala desa lama.

cermin itu menyimpan wajah

yang tak lagi diizinkan muncul di keluarga manapun.

wajah itu masih tertawa—meski dipalingkan.

dan dari retaknya, tumbuh rumput halus

yang hanya bisa dilihat saat kau bernapas terlalu dalam.

[2]

lemari kayu tua disimpan di ruang sempit

antara kamar tidur dan ruang tamu.

di dalamnya:

potongan-potongan doa

yang tak selesai ditulis

karena terlalu panjang untuk dihafalkan,

terlalu berisik untuk dibacakan keras-keras.

Kadang terdengar suara kuku mengetuk dari dalam.

[3]

seorang ibu menggambar garis di tanah

setiap kali ada anak menangis tanpa sebab.

garis itu tak pernah dihapus.

hingga suatu malam,

semua garis menyatu dan membentuk peta.

peta itu menunjuk tempat

di mana tawa dan tangis punya akar yang sama.

[4]

di loteng sekolah dasar,

sebuah boneka tanpa mata disimpan dalam kotak sepatu.

boneka itu dulu dikeramatkan oleh sekelompok anak

yang percaya ia bisa menjawab soal ujian.

sekarang, ia hanya benda.

tapi setiap kali guru lupa kata-kata,

ada bayangan kecil yang menari di papan tulis.

[5]

seutas rambut ditemukan di sela-sela halaman buku tata negara.

tak ada yang tahu siapa pemiliknya.

tapi rambut itu melengkung seperti aksara tua

yang dulu dipakai untuk menamai angin.

kini angin tak lagi punya nama.

ia hanya disebut “cuaca.”

[6]

di rumah makan padang yang sudah tutup,

seorang mantan pelayan menyimpan sepiring rendang

yang tak pernah basi.

ia percaya, itu sisa persembahan

untuk sosok yang tidak boleh disebut namanya.

yang datang setiap malam jumat

dan duduk di meja pojok

tanpa pernah memesan apa-apa.

[7]

seekor tikus melahirkan anak-anaknya

di dalam gong tua yang sudah tak dipukul.

anak-anak itu tumbuh dengan pendengaran

yang mampu menangkap suara

yang tidak bisa direkam mikrofon.

[8]

dan di akhir fragmen,

ada seseorang duduk di bawah tangga,

mencatat nama-nama yang sudah tak disebut di acara keluarga.

ia tidak bicara.

tapi tiap kali namanya ditulis,

ada bunga kering yang tiba-tiba mekar

di halaman depan rumah yang sudah dijual.

 “Di Hari Ketika Meja Persembahan Dibuang ke Sungai”

di sebuah desa yang tak lagi disebut dalam peta,

meja persembahan dibuang ke sungai

karena dianggap menyimpan sesuatu

yang tak bisa dijelaskan dengan hukum.

Ibu tua pemilik meja itu hanya duduk,

menyisir rambutnya yang sudah tak bisa disisir

karena lebih sering menjadi sarang kenangan

daripada helai-helai biasa.

anak-anak menonton dari balik jendela sekolah,

mereka tertawa pelan

karena tidak tahu arti kata “persembahan”

selain “barang lama yang mengganggu estetika rumah modern.”

Sungai menerima meja itu

seperti menerima kata-kata yang tak pernah sempat diucapkan.

Ia membawanya perlahan,

melewati akar pohon yang juga sudah kehilangan bahasa

untuk berdoa.

malam itu, suara-suara datang.

bukan untuk menghukum,

tapi menanyakan:

“Apa yang kalian ganti untuk rasa syukur?”

tak ada yang menjawab.

orang-orang lebih sibuk membenarkan cara mereka menangkap cahaya

dengan jendela kaca berlapis film.

sementara cahaya sendiri

sudah bosan dijadikan simbol.

keesokan paginya, meja itu kembali.

terdampar di pinggir sungai,

diapit oleh plastik dan sisa sabun cuci.

di atasnya, sehelai daun lontar yang tidak ditulis,

hanya ditaruh begitu saja,

seperti rahasia yang sudah lelah disembunyikan.

seorang anak kecil menemuinya

dan bertanya:

“Apakah ini mainan?”

ibu tua itu tak menjawab.

ia hanya berjalan mendekat,

menaruh setangkai bunga kamboja

yang sudah hampir layu

ke atas meja itu.

dan di saat itu,

matahari berhenti sebentar

seperti ingin mengingat.

Dayeuhluhur, Januari 2025

MANTRA LUMPUR DAN KEPALA TERBALIK

malam dibungkus kawung bolong,

seorang bayi merangkak ke dalam cermin,

memantulkan rawa-rawa 

yang mengigaukan peradaban.

ia menyusu pada lumpur yang berkata:

“henteu sadaya nu bodas teh suci,

teu sakabeh nu hideung teh najis.”

lalu hujan turun dari bawah tanah,

membasahi langit yang tergantung di lehernya.

Ia membalik tubuhnya,

berjalan dengan kepala menyentuh bumi—

sebab katanya, 

“pikiran harus mencium tanah

sebelum ia menyapa langit.”

dari ubun-ubunnya tumbuh pohon taraje,

daunnya adalah kata-kata yang belum dimengerti,

akar menjulur ke dadanya

menumbuhkan hati kedua—

yang bisa berpikir lebih jernih dari otak.

Ia menyimpan karuhun di jari-jarinya,

dan setiap gerak adalah amanat gaib

dari gunung-gunung yang tak pernah meletus

karena tahu kapan harus diam.

Manusia lain memandangnya sambil tertawa:

“Bayi itu gila”

tapi siapa yang lebih waras?

yang berlari-lari membawa kebenaran

seperti koper kosong,

atau bayi yang mendengarkan lumpur

dan menangis dalam irama semesta?

bayi itu tahu:

kebenaran bukan cahaya,

bukan gelap,

tapi lembab—

seperti rahasia yang disimpan daun talas

yang tak pernah basah walau hujan turun berabad-abad.

Ia bukan ingin suci.

Ia ingin utuh.

Ia ingin jadi perahu dari tanah

mengapung di lautan dada dan kepala,

menyebrangi rasi bintang

yang ia lukis 

dengan air liur 

dan debu kabuyutan.

Dayeuhluhur, Januari 2025

IKAN-IKAN YANG MELAYANG DI LANGIT DALAM

sirip-siripnya membelah awan 

seperti sunyi

yang ingin menjelaskan arti kata “cukup”.

Ikan itu tak tersesat.

Ia tahu ia air,

tapi ia juga tahu,

laut terlalu penuh suara yang tak didengar.

ia memilih langit

karena di sanalah pikiran dan batin tak saling memburu,

melainkan berdamai.

di perut ikan itu—

ada kota,

dan seorang ibu yang menumbuk padi

dengan irama detak nadi semesta.

Ada bapak yang menggambar langit

dengan arang dari tungku yang belum padam.

Ikan itu,

tak memilih jadi burung,

karena tahu sayap tak selalu berarti tinggi.

tak kembali ke laut,

karena paham:

hanya mengintip di permukaan 

takkan menjelaskan bab tentang arah.

Ia menggantung di antara petir dan pelangi,

menjadi jembatan yang tak disebut,

tapi dilalui setiap jiwa

yang berdamai dengan gelap dan terang.

Orang-orang menunjuk dan bertanya,

“Kenapa tidak jatuh?”

dan langit menjawab:

“Sebab ia berenang bukan dengan insang,

tapi dengan keutuhan.”

gadis dengan kepala di dadanya

ia menggantungkan kepala di dada,

tempat pelipis tumbuh akar,

dan tawa memecah jendela

yang tak pernah dibuat untuk dibuka.

Ia menyisir rambut dengan waktu,

menanam helai-helai yang jatuh

menjadi tangga

namun tak menuju ke mana pun.

Air matanya mengalir ke atas,

membasahi langit 

awan muncul dari bawah kakinya.

Ia tidak berjalan—

ia melipat jarak

hingga bumi terasa seperti bisikan

yang tak memilih suara.

Dayeuhluhur, 2 Desember 2024

TUBUH YANG TAK SALING MENYEBUT

pohon menjulur dari perut dinding

daunnya berbisik di langit-langit

lantai retak oleh akar

yang tak ingin sampai

atap merunduk

dipeluk cabang yang dingin

getah menetes ke kusen

seperti suara yang lupa pulang

di dalam batang,

ruang tamu menggema

oleh langkah yang belum dilahirkan

bangunan tumbuh ke arah hening

pohon tumbuh ke arah hilang

tak saling rebut,

tak saling beri nama

hanya tumbuh

di tubuh yang tak pernah utuh.

Dayeuhluhur, 12 November 2024

Galuh Kresno, Salah satu pendidik di SMP Negeri 2 Dayeuhluhur. Menulis puisi sejak berkuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Puisinya pernah terbit di beberapa media offline; Radar Banyumas, Harian Fajar Makasar, Rubrik Sastra Rakyat Sultra, Suara Merdeka, dan media online; biem.co, skspliterary.com, https://top.cafe.daum.net/.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In