TURUN KE DANAU
Perlu jalan berkelok-kelok
Kalau tak ada jalan berkelok
Tak kan aku bertemu Maninjau
Di belakangku berceceran jejak
Ternyata basi dan bisu
Karena itu cepat kubajak
Dasar kepundan dalam tubuhku
Dan sekarang aku mengerti
Yang selalu kubaca cahaya bintang
Bulan dan matahari
Yang tak pernah kuperhatikan
Paku yang karat dalam jantungku
Padahal tubuhku ini
Aku pinjam pada Ilahi
Kuperlukan jalan berkelok-kelok
Tanpa jalan yang berkelok
Aku tak kan kenal bahaya
DARI JANJIMU
dari janjimu, mengakar kata mengerkah cuaca
sampai lembah landai menolakku berandai-andai
“semua harus jelas”, katamu, “agar tak keliru telur menetas
tak keliru menetapkan karat pada emas”
ucapan itu membuat puisi jadi malas
menyalakan warna pada senyum, atau gatal pada talas
aku sudah capek mendaki dari bawah sampai atas
di kaki bangunan roboh hanya hening
yang menangis menggugat angin menggasing
“aku tak mau hukum jadi puisi,” katamu
sambil menunjuk kata-kata menjadi angka
sedang angka berkawan api
dan angka terbakar, sampai terkabar
lalu terkapar, dan bersarang pada
sejumlah perut orang lapar
“aku tak mau puisi jadi hukum” kataku
sambil mewakilkan senyum pada mega
meskipun aku sabar dan aku sadar
tapi berat untuk menemu keseimbangan
memang di satu sawah kita tersemai
tapi mengapa, perlu perjuangan untuk merasa bersaudara?
KAYU TANAM PADANG PANJANG
Di dalam hutan ini aku berkenalan dengan banyak
tumbuh-tumbuhan yang sedang sembahyang. Sebagian
menyembahyangkan dirinya yang belum mati, yang lain
menyembahyangkan sebuah balada tentang ikan-ikan kecil
yang berhasil memanjat ngarai. Sedangkan ngarai terus
mengalir mencari nurani laut tempat menginap matahari.
KETIKA SEBUAH TITIK MENJADI DULANG
Untik Wisran Hadi
Titik. Untuk mengenalnya aku hanya perlu beberapa detik. Titik, untuk mengertinya aku perlu berfikir, kapan saat yang tepat untuk berhenti, mengatur nafas dan menariknya lalu melanjutkan bacaan lagi. Tapi, apa aku mengerti yang aku baca? Apa kata-kata itu hanya jadi kerangka dan tak mengenal cakrawala saat awan menebal karena langit meninggalkannya? Sedang aku sering melangkahi titik tanpa berhenti, tanpa menyesal tanpa marah kalau dituduh orang bebal. Pesan pun majal di dalam hatiku, hingga aku hanya menjadi sandal atau terompah bagi para penari gombal. Kembali pada titik. Aku tak berkata. Tidak berbisik. Karena banjir bisa gagal kalau aku bikin kanal bukan bikin sambal, padahal makanan harus segar dihidangkan. Titik, bukan sekedar halte. Tapi tempat menyelami hati, membongkar jantung yang beku dan mengukir sebuah nama pada empedu, atau pada setiap engsel tulang-tulangku. Satu saat titik itu menjadi sebuah dulang yang kutabuh sambil berdendang mengamati layang-layang yang melayang di langit biru. Satu saat titik itu mewakili hitam biji mata ibuku, yang memancarkan rindu di ngarai Anai yang sampai kiamat tak selesai-selesai. Mata itu tiba-tiba menjadi matahari, yang tak pernah bosan senyum dan hadir setiap hari.
LANGIT SETIA DENGAN BIRUNYA
Meluap di sini, berkobar di kejauhan
Menyalakan kekhawatiran
Tapi di sini daun lobak terus menghijau
Menenteramkan langit dan awan
Langit selalu setia dengan birunya
Menyimpan kerinduan pada surga
Padahal surga tak ada
Tanpa keringat yang kau eja
Bersama alam, bersama embun di sudut mata
Sedangkan awan yang terkesan tak setia
Selalu bergerak dari satu gulfa ke sabana
Harus dihargai sebagai arif bijaksana
Yang mempersilangkan ruang demi ruang untuk meraup cahaya
Dan neraka
Sebenarnya kita bawa dari dunia
Langkah-langkah di sini tak berdusta
Seperti panen orang-orang di sawah itu
Mereka tersenyum
Yang dilukisnya sejak semai benih pertama
D. Zawawi Imron, lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura, 1946. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di media lokal, nasional, dan internasional. Buku puisinya (1) Semerbak Mayang (1977), (2) Madura, Akulah Lautmu (1978), (3) Bulan Tertusuk Lalang (1982), (4) Nenekmoyangku Airmata (1985), (5) Celurit Emas (1986), (6) Derap-derap Tasbih (1993), (7) Berlayar di Pamor Badik (1994), (8) Laut-Mu Tak Habis Gelombang (1996), (9) Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), (10) Madura, Akulah Darahmu (1999), (11) Kujilat Manis Empedu (2003), (12) Cinta Ladang Sajadah (2003), (13) Refrein di Sudut Dam (2003), (14) Kelenjar Laut (2007), dan beberapa lainnya. Buku kumpulan esai sosial keagamaannya Unjuk Rasa kepada Allah (1999), Gumam-gumam dari Dusun (2000). D. Zawawi Imron pernah juara pertama menulis puisi di AN-teve (1995), dan menjadi pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunai Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunai Darussalam (Maret 2002). Sastrawan-budayawan ini memenangkan Hadiah Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The SEA Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Dari khalayak pembaca luas, Kiai Haji D. Zawawi Imron mendapat gelar “Penyair Celurit Emas”, dan tetap tinggal di desa kelahirannya, di Batang-Batang, sebuah desa ujung timur pulau Madura. Pada Minggu, 9 Desember 2018, Presiden RI Joko Widodo memberikan penghargaan kepada dua budayawan dan dua sastrawan pada acara Kongres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, satu di antaranya ialah D. Zawawi Imron, atas kontribusinya sebagai penyair dan pendakwah yang terus menyiarkan kebajikan sastra dan religi ke seluuruh Indonesia.

