Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Esai

Esai Hoppers: Aktivisme Ekosistem ala Pixar yang Menggugah Nurani

Admin by Admin
13 Mei 2026
0
Esai Hoppers: Aktivisme Ekosistem ala Pixar yang Menggugah Nurani
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

Muhammad Fathan Al Kubro

Mabel Tanaka, mahasiswi berusia 19 tahun, adalah aktivis lingkungan yang vokal menentang rencana pembangunan jalan tol oleh Walikota Jerry Generazzo. Proyek ini mengancam hutan dan telaga yang menjadi habitat berang-berang serta hewan lain, mencerminkan konflik nyata antara pembangunan ekonomi dan pelestarian alam. Ia menggunakan teknologi “hopping” untuk memindahkan kesadarannya ke robot berang-berang, memungkinkannya menyusup ke dunia hewan dan memimpin perlawanan dari dalam. Pendekatan ini menjadikan aktivismenya unik, bukan sekadar protes di dunia manusia, tapi aksi langsung yang membangun solidaritas lintas spesies.

Tema ini terinspirasi dari aktivis seperti Greta Thunberg, di mana semangat muda Mabel menantang otoritas yang acuh. Film menyoroti bagaimana aktivis sering dianggap “berlebihan” oleh masyarakat, tapi justru mereka yang melihat ancaman jangka panjang terhadap ekosistem. Melalui Mabel, Hoppers mengajak penonton merefleksikan peran individu dalam melawan deforestasi dan urbanisasi yang merusak keseimbangan alam.

Gambar dari potongan Film Hoppers

Bentuk Aktivisme dalam Narasi

Aktivisme di Hoppers digambarkan multilayer,  mulai dari kampanye publik Mabel, kolaborasi dengan hewan seperti King George si berang-berang, hingga konfrontasi politik melawan walikota korup. Ia membangun aliansi antarhewan (berang-berang pembangun bendungan, burung penggosip, dan spesies lain) yang menunjukkan pentingnya kerjasama komunitas dalam aktivisme. Ini bukan aktivisme soliter, tapi gerakan kolektif yang menekankan empati sebagai senjata utama.

Film juga menyisipkan kritik sosial, politisi seperti Jerry mewakili kepentingan korporat yang mengorbankan lingkungan demi pemilu, sementara akademisi digambarkan egois dan terpisah dari realitas ekologi. Mabel’s journey mengubah idealisme menjadi obsesi produktif, di mana ia belajar bahwa aktivisme efektif memerlukan pemahaman mendalam tentang “suara” yang terdiam, yaitu hewan-hewan tersebut. Pesan ini disampaikan tanpa menggurui, melalui humor visual seperti berang-berang yang “berang” (marah) saat habitatnya diganggu.

Relevansi dengan Isu Global

Di era perubahan iklim 2026, Hoppers relevan dengan isu seperti COP31 dan target net-zero Indonesia. Aktivisme Mabel mencerminkan gerakan lokal seperti penolakan tambang di Kalimantan atau protes bendungan di Jawa Tengah, di mana komunitas adat dan aktivis lingkungan bersatu melawan pembangunan destruktif. Film ini menjadikan aktivisme “cool” bagi Gen Z, dengan elemen teknologi yang menjembatani generasi muda dengan sains ekologi.

Pixar berhasil membungkus pesan berat ini dalam 105 menit hiburan keluarga, di mana aktivisme bukan akhir cerita, tapi katalisator perubahan sistemik. Penonton diajak bertanya, apakah kita siap “hop” ke perspektif lain untuk menyelamatkan bumi? Ini membuat Hoppers lebih dari animasi.

Dampak Budaya dan Pendidikan

Secara budaya, film ini memicu diskusi di media sosial tentang aktivisme lingkungan, dengan hashtag #HoppersUntukAlam trending pasca-rilis Maret 2026. Bagi pendidik, Hoppers ideal untuk kelas IPA/Sosial, mengintegrasikan analisis literatur (simbolisme berang-berang sebagai pekerja keras alam) dengan isu kontemporer. Anak-anak belajar nilai empati, sementara dewasa direfleksikan atas komplisitas dalam konsumsi berlebih.

RIWAYAT PENULIS

Muhammad Fathan Al Kubro lahir pada tanggal 7 Mei 2002, Fathan lahir di Purworejo, tumbuh besar di jakarta. Dia mulai menguasai kedalaman ilmunya saat di bangku sekolah menengah pertama sampai akhirnya bisa lulus dan tamat dari sekolah menengah atas yaitu di Boarding School Daaruttaqwa, Cibinong, Bogor pada tahun 2020. Ia melanjutkan jenjang sekolahnya ke perguruan tinggi negri di daerah Purwokerto, salah satu yang terbaik di karesidenan Banyumas Raya yaitu UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

15 November 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In